Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Isu : LGBTIQ : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.

16 Jul 2013 23:13 WIB : Berita Pendek

Gerakan LGBT: Belajar dari Sejarah

Suasana  akrab dan hangat terlihat di Gazebo PKBI DIY pada Jumat sore (12/7). Dede Oetomo, pendiri Gaya Nusantara yang kebetulan  sedang mengajar summer program  VIA (Volunteers in Asia) di Jogja, menyempatkan diri berdiskusi tentang Sejarah Gerakan LGBT di Indonesia bersama sekitar 35 peserta dari berbagai organisasi seperti PLU Satu Hati, PKBI, IWAYO, HIMAG dan ada pula yang datang secara independen.
Dede memaparkan bahwa hubungan seksual laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, atau laki-laki dengan waria dan perempuan dengan waria, telah ditemukan sejak dulu. Namun pada masa itu belum ada pelabelan. Identitas menjadi hal yang tidak penting.

“Munculnya identitas itu karena ada dorongan dari orang-orang yang menunjukkan identitasnya itu hidup tidak sejahtera, tidak setara dengan yang lain,” kata Dede.

Dede menuturkan, kesadaran berorganisasi pertama kali muncul di komunitas waria pada tahun 60-an dengan berdirinya Himpunan Wadam Jakarta dan Paguyuban Waria Mataram di Jogja. Lima belas tahun kemudian disusul dengan berdirinya organisasi-organisasi gay seperti Gaya Nusantara atau PGY, Perhimpunan Gay Yogyakarta.

“Tujuan utama didirikannya organisasi gay dulunya sangat sederhana, yaitu untuk saling menghubungkan teman-teman gay, yang cenderung lebih tidak terlihat dibandingkan teman-teman waria yang terlihat secara fisik,” ungkap Dede. Saat ini, tujuan dasar organisasi LGBT yang didirikannya ada dua, yaitu untuk menguatkan komunitas agar tidak menganggap dirinya sakit atau dosa, juga untuk meyakinkan masyarakat bahwa homoseksualitas adalah sesuatu yang normal. 

Menanggapi pertanyaan Ithonk, Ketua PLU Satu Hati mengenai strategi mana yang lebih tepat diterapkan di Indonesia apakah dengan cara frontal atau dengan cara yang lebih tertutup, Dede  menekankan yang terpenting adalah mendengarkan suara dari komunitas itu sendiri. Gerakan yang frontal maupun tertutup pasti memiliki keuntungan dan resiko, namun kita harus tetap menghargai LGBT yang memilih pola gerakannya masing-masing. Perubahan budaya berkali-kali ditekankan Dede mengingat hal tersebut adalah kunci dari perubahan sosial. Misalnya bagaimana membiasakan masyarakat terhadap homoseksual, termasuk jika orang tua mendapati anaknya ternyata menyukai sesama jenis.

Gerakan LGBT juga perlu dilakukan dari berbagai arah, termasuk harus kuat dari dalam komunitasnya sendiri, sampai memiliki kekuatan berpolitik, masuk ke sektor pendidikan, dan memiliki kemampuan investigasi sehingga bisa memonitor dan mendokumentasikan pelanggaran-pelanggaran HAM terhadap LGBT.
Acara diskusi diselingi dengan buka puasa bersama dengan makanan khas angkringan yang telah disediakan oleh PKBI DIY.

Persoalan agama juga tidak terlepas dari bahan diskusi sore itu. Anam, salah satu peserta, menanyakan tentang bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi kelompok-kelompok fundamentalis agama yang seringkali menggunakan agama sebagai dasar kekerasan terhadap LGBT. 

“Belajar dari seorang teman saya di Turki yang biseksual, bahwa jalur agama tidak akan menyelesaikan masalah. Jalur yang kita gunakan sebaiknya adalah jalur Hak Asasi Manusia. Tapi kalaupun tetap ingin menggunakan jalur agama, agama sendiri merupakan hal yang interpretatif, maka gunakanlah interpretasi dari pemuka agama yang tidak mendiskriminasi LGBT,” kata Dede.

Dede Oetomo juga menceritakan pengalamannya saat berdiskusi dengan banyak orang dari beragam perspektif, tragedi penyerangan acara-acara LGBT yang pernah terjadi, hingga tips bagi komunitas LGBT untuk menjalin relasi dengan pihak kepolisian dan pemerintah. 

“Dede punya wawasan yang sangat luas. Acara ini sangat memotivasi saya, juga sangat menguatkan kita yang masih berjuang di barisan LGBT untuk terus optimis,” kata Zee, salah satu peserta diskusi. (Emil)
25 Jun 2013 22:34 WIB : Wawancara Eksklusif

KTP, Isu Nasional Komunitas Waria

Pada 13-14 Juni 2013, UNDP bekerja sama dengan USAID, Forum LGBTIQ Indonesia dan GWL-INA mengundang puluhan aktivis LGBT dari 30 provinsi di Indonesia dalam sebuah pertemuan besar Dialog Nasional Komunitas LGBT Indonesia. Berikut wawancara SwaraNusa dengan Shinta Ratri, Ketua Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO), yang menjadi peserta Dialog Nasional perwakilan komunitas LGBT Yogyakarta.

18 May 2013 17:21 WIB : Berita Foto

Peringatan IDAHO 2013: Katakan Tidak pada Cyberbullying

Puluhan orang yang datang dari beragam latar belakang, berkumpul dan menari bersama di Alun-alun Selatan, Yogyakarta, Jumat (17/5/2013). Aksi Kumpul Warga ini dilakukan untuk memperingati Hari Internasional Melawan Homofobia atau International Day Against Homophobia (IDAHO) yang merupakan kegiatan tahunan untuk memperingati keputusan yang diambil WHO pada 17 Mei 1990 yang menghapuskan homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa.

18 May 2013 16:44 WIB : Berita Pendek

Tidak Tabu Lagi Membincang Seksualitas

 

17 May 2013 23:33 WIB : Editorial

Melawan Homofobia, Menagih Komitmen Pemerintah

Bullying adalah isu yang sedang menjadi perhatian banyak pihak mengingat dampaknya yang mengerikan tidak hanya bagi korban bullying, tapi juga bagi para pelakunya. Tindakan yang bertujuan untuk merendahkan harga diri orang lain tersebut bahkan sampai memicu sejumlah remaja yang menjadi korbannya untuk melakukan percobaan bunuh diri. Tidak ada celah sama sekali untuk menyetujui tindakan bullying ini jika kita melihat diri kita sebagai manusia bermartabat.

08 Mar 2013 22:33 WIB : Editorial

Persentuhan Manis LGBT dan Masyarakat

Tiga belas tahun lalu, sekumpulan pemuda di Yogyakarta mendeklarasikan Hari Solidaritas LGBT Nasional. Sayang, tak banyak yang tahu, termasuk para aktivis hak asasi manusia. Kurangnya sosialisasi dan kurang maraknya kegiatan-kegiatan membuat hari yang diperingati setiap 1 Mei tersebut tenggelam. Ditambah pula, aktivis LGBT dan HAM di Indonesia lebih memilih memperingati International Day Against Homophobia (IDAHO) setiap 17 Mei. Tanpa mengecilkan makna dari peringatan IDAHO, kita justru bisa menemukan satu kearifan lokal yang luar biasa dibalik Hari Solidaritas LGBT Nasional ini.

02 Mar 2013 10:59 WIB : Berita Pendek

Membangun Solidaritas Sesama

 

Jumat, 1 Maret 2013, wajah Kantor Kecamatan Pandak lain dari biasanya. Sejak pagi warga dari berbagai desa di kecamatan tersebut sudah berkumpul di halaman Kantor Kecamatan. Warga mengikuti acara yang digelar oleh Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO), PLU Satu Hati, Kebaya, PKBI  DIY serta Kedutaan Besar Kanada untuk memperingati Hari Solidaritas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) Nasional.  Acara dikemas selama sehari penuh dan dibuka dengan kegiatan senam pagi bersama, lomba balap karung dan tarik tambang, pembagian sembako serta klinik kesehatan gratis. Sebagai puncak acara, komunitas LGBT dan komunitas desa setempat menyajikan pertunjukkan seni di panggung keberagaman yang sudah disediakan oleh panitia.

“Saya seneng ada acara ini, ada lomba-lomba dapat hadiah, bisa periksa. Ya mengisi waktu luang ‘kan setiap hari saya cuma di rumah,” kata Purwanti, warga Pandak, ketika ditanya mengenai acara tersebut. “Besok lagi sering-sering aja, supaya bisa srawung (bergaul), karena pada dasarnya semua ciptaan Tuhan itu sama, tidak perlu dibeda-bedakan,” tambah ibu yang mengaku baru bertemu sekali ini dengan komunitas waria. 

Menurut Martha, Ketua Ikatan Waria Bantul dan Koordinator Acara, peringatan ini memang bertujuan untuk menumbuhkan solidaritas antar sesama karena belakangan isu solidaritas terkikis dengan banyaknya diskriminasi dan penindasan terhadap kelompok minoritas di Indonesia. Harapannya, acara ini bisa memfasilitasi persentuhan antara komunitas LGBT dan masyarakat.

“Saya harap semua pihak bisa ikut mendukung suksesnya acara ini,” kata Dra Endang rahmawati, Kepala Kecamatan Pandak, ketika menyampaikan sambutan pada malam keberagaman.

Alexandra Spiess, Political & Public Affairs Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia, memberikan tanggapan positif atas acara yang menampilkan ragam ide dari berbagai komunitas tersebut. “Saya sangat tertarik dan bangga bahwa keberagaman bisa diwujudkan dalam acara yang sederhana. Sama seperti Indonesia, Kanada adalah negara yang sangat luas, kami juga memiliki unsur keberagaman yang tinggi. Di Kanada bisa bebas memilih dan menjalankan agama masing-masing, menjunjung kesetaraan dan hak asasi manusia tanpa memandang etnis, agama, dan kepercayaan,” kata Spiess saat memberikan sambutan.

Satu Maret adalah hari yang bersejarah untuk komunitas LGBT di Indonesia karena pada 1 Maret 2000 komunitas yang termarjinalkan secara gender dan seksualitas mendeklarasikan Hari Solidaritas ini di Yogyakarta. Deklarasi yang sederhana tersebut memiliki makna luar biasa dalam pembangunan solidaritas dan persatuan antar komunitas yang termarjinalkan dengan masyarakat. Hari peringatan sengaja mengandung kata “solidaritas” karena dipandang bahwa komunitas yang termarjinalkan harus bersatu dan membuka seluas-luasnya keikutsertaan seluruh elemen masyarakat.

Martha menambahkan keberagaman merupakan hal yang mutlak terjadi melihat kondisi geografis Indonesia, tidak hanya suku, agama, ras, budaya kesenian, namun juga  keberagaman gender dan seksualitas. Karena itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk bisa merespon dengan cepat saat terjadi tindakan diskriminasi dan intoleransi yang belakangan bermunculan dengan latar belakang yang berbeda-beda. Negara harus hadir dalam rangka perlindungan terhadap kebebasan berekspresi di tiap entitas dan identitas warga negara Indonesia.

“Perbedaan yang ada tidak boleh dijadikan alat untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan haknya sebagai warga negara,” kata Martha.
16 Oct 2012 19:26 WIB : Wawancara Eksklusif

Revolusi KB, Rumuskan Strateginya

Dalam rentang lima sampai sepuluh tahun ke depan PKBI menghadapi beragam tantangan yang tidak cukup ringan. Bahkan tantangan ini tidak saja pada aras visi, tetapi juga pada level paradigmatik, strategi program dan pengelolaan sumber daya manusia.

13 Sep 2012 21:06 WIB : Berita Foto

Sarkasme dari Jogja

Sudah 126 hari sejak penyerangan diskusi Irsyad Manji di LKiS, tetapi belum juga tampak hasilnya. POLDA DIY dinilai tidak serius menangani kasus itu. Tidak kurang-kurang Sultan sudah menghimbau sejak mula agar kasus yang mencoreng nama baik Yogyakarta sebagai kota intelektual itu, diusut segera dan tuntas. Maka, aktivis Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) menggelar aksi tutup mata dan tutup mulut sebagai protes atas kelambatan POLDA DIY dalam menangani kasus itu.
10 Sep 2012 11:44 WIB : Berita Pendek

Hasrat Seks Itu Anugerah

Sejak masa Muhammad SAW, keprihatinan terhadap tindakan diskriminasi terhadap orang yang berbeda pemahaman sudah berkembang. Saat itu, Muhammad SAW mengalami keprihatinan yang mendalam terkait penggunaan agama untuk mendiskriminasi orang lain, menafikan orang lain, dan menafikan minoritas. Demikian pokok pikiran yang disampaikan KH Hussen Muhammad dalam acara Rapat Pertemuan Daerah (RPD) PKBI DIY, kemarin (8/9).   Menurut Hussen, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Cirebon, pandangan-pandangan diskriminatif saat ini semakin menguat dan dibiarkan oleh kekuasaan, dan ini sangat menyedihkan. “Setiap hari saya harus berbuat ketika melihat diskriminasi, dan konstitusi diabaikan,” katanya.   Kekhawatiran yang lebih mendalam adanya fakta yang menunjukkan diskriminasi terhadap kelompok LGBT yang akan terus mengalami penindasan dan bahkan akan meningkat. “Kita harus bergerak bersama-sama, kita harus berjuang, jiak tidak akan mengancam konstitusi kita dan negara,” kata Pengasuh Pesantren itu.   Semestinya orientasi seksual tidak harus dipersoalkan. Sebab hasrat untuk senang dengan orang lain tidak bisa ditahan. “Cinta itu tiba-tiba,” ujar KH Hussen Muhammad, pendiri Sekolah Tinggi Fahmina, Cirebon.   Dengan pemahaman seperti ini, maka tidak tepat melihat homoseksual dengan mengaitkan kaumnya Nabi Luth. Dalam bahasa agama, homoseks selalu saja disamamaknakan dengan liwath, perilakunya NabI Luth. Padahal menurut Hussen,  homoseksual itu orientasi, hasrat, bukan perilaku seksual. Cinta kepada orang lain itu hasrat, dan hasrat seks itu given tidak bisa ditolak karena itu anugerah. “Termasuk mencintaI sesama jenis kelamin. Hasrat mencintai sesama itu dimiliki semua orang tapi kadarnya berbeda-beda,” katanya.   KH Hussen Muhammad juga mengungkapkan fakta hasrat seks sejenis telah ada di mana-mana, bahkan sejak dinasti-dinasti awal Islam. Mereka memelihara ribuan laki-laki yang dikebiri untuk kesenangan. “Saya membaca sejarah,” ujarnya.
05 Jul 2012 00:03 WIB : Berita Foto

Diskusi dengan Dede Oetomo: "Kita Sedang Perang"

Dede Oetomo, pendiri Gaya Nusantara dan calon anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, berkunjung ke PKBI DIY (1/7). Kunjungan tersebut diisi dengan diskusi mengenai gender dan seksualitas yang dihadiri oleh orang muda dari berbagai latar belakang.

Diskusi dibuka dengan sesi perkenalan dimana Dede menjelaskan bahwa latar belakang pendidikannya adalah ilmu bahasa. Akan tetapi ketika berusia 20 tahun, Dede mulai bergumul dengan dirinya sendiri dan mempelajari seksualitas secara mandiri. Sementara tentang gender, Dede berkelakar bahwa sejak masa kanak-kanak dia telah mempelajarinya secara tidak langsung karena dari kecil “kelaki-lakian” Dede telah dipertanyakan oleh teman-teman, tetangga, dan bahkan dirinya sendiri. Dede menambahkan, sebagai orang yang lahir dalam kultur Jawa Peranakan maka tidak heran mengapa dirinya suka berorganisasi. Di tahun 2000an Dede mulai berparadigma untuk mendidik teman-teman LGBT.

Berbicara sejarah, menurut Dede sebenarnya kurang tepat jika pergerakan LGBT dikatakan mulai dari 1982 karena sebenarnya di Indonesia komunitas waria telah memulai pergerakannya di tahun 1960an. Bahkan jika merujuk dari naskah-naskah kuno maka kehidupan LGBT di Indonesia sudah ada sejak dahulu kala. Mengenai pergerakan komunitas lesbian, Dede berpendapat bahwa secara konseptual teman-teman lesbian lebih matang tetap pergerakan mereka kurang progresif. Salah satu alasannya adalah karena pergerakannya dimulai dari sudut pandang gender.

Setelah semua peserta diskusi memperkenalkan diri, sesi tanya-jawab dimulai. Pertanyaan pertama dilontarkan oleh Didin. Dia menanyakan untuk apa mengungkit-ungkit kembali sejarah yang sudah berlalu padahal saat ini teknologi telah berkembang pesat dan saatnya kita berubah.

 Dede menjawab bahwa memang sejarah tidak akan bisa dibawa kembali ke masa kini dan sebaiknya memang tidak mengagung-agungkan sejarah karena banyak yang tidak pro perempuan. Akan tetapi Dede kemudian mengajak peserta diskusi untuk berpikir kritis, sebenarnya seperti apa yang dimaksud dengan “Budaya Indonesia”? Menurutnya, adat ketimuran khususnya pendidikan moral Indonesia merupakan kombinasi dari tiga hal, yaitu moralitas Belanda akhir abad 19, pendidikan modern, dan rasa kalahnya pemimpin Indonesia.

Dalam naskah-naskah kuno ada bagian yang menyinggung homoseksualitas, misalnya saja dalam Serat Centhini dan Ila Galigo. Bahkan pernah diduga bahwa para Teuku di Aceh menjadi semacam Warok yang memiliki gemblakan, dan mereka umumnya memilih anak atau remaja dari Minang karena ketampanannya. Perlu diakui memang dalam naskah-naskah kuno Indonesia, cerita tentang hubungan antara perempuan dan perempuan lebih sedikit daripada laki-laki dan laki-laki. Hal ini dikarenakan sudut pandang yang digunakan adalah patriarkis.

Selain itu, Dede juga mengingatkan bahwa istilah “gay” tidak bisa digeneralisir pada semua jaman karena di setiap jaman dan budaya ada istilahnya sendiri. Istilah “gay” sendiri mulai digunakan di negara Barat sejak tahun 1869 dan sejak itu juga “gay” mulai dianggap sebagai kelainan. Namun sejak tahun 1973 homoseksualitas dikeluarkan dari daftar gangguan mental dan kejiwaan. Dede menegaskan bahwa kita perlu lebih menggali istilah dan sejarah pergerakan LGBT di Indonesia.

Pergerakan LGBT di Indonesia saat ini sudah lebih maju bila dibandingkan dengan tahun 1980an. Menurutnya saat itu belum ada jaringan LGBT dan belum masuk wacana umum. Dede yang juga menjadi calon anggota Komnas HAM mengatakan bahwa saat ini sudah cukup banyak anggota Komnas HAM yang paham akan feminisme dan LGBT dibandingkan dengan periode terdahulu yang masih sangat sulit untuk membicarakan gender dan seksualitas.

Diskusi kemudian berlanjut dengan tema agama. Dede mengatakan bahwa dirinya anti dengan agamais, yaitu orang yang memanfaatkan agama untuk kepentingan politik. Masih berbicara tentang agama, menurut Dede institusi perkawinan adalah alat diskriminasi bagi orang-orang yang tidak menikah.

Kembali ke pertanyaan Didin mengenai sejarah dan perkembangan teknologi, Dede setuju bahwa internet dapat digunakan sebagai senjata. Media sosial di internet merupakan senjata ampuh untuk mengangkat wacana LGBT.

Seorang peserta, Gama, kemudian berpendapat bahwa keterputusan generasi dapat berpengaruh pada pergerakan LGBT. Dede menanggapi bahwa dilihat dari sisi positif tidak ada kelompok yang dominan. Justru gerakan untuk masa depan miliknya generasi muda. Dede bercerita bahwa dulu yang dilakukan komunitasnya adalah mengumpulkan semua terbitan tentang LGBT. Memang menjemukan saat itu, tetapi senior Dede mengatakan bahwa kita harus siap jika ada yang membuka peristiwa sejarah.

Bibie, peserta lainnya, mengangkat isu penyerangan diskusi dengan Irshad Manji di LkiS Yogyakarta. Menurut Dede usaha para korban untuk melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian sudah bagus. Dia menegaskan bahwa sekarang bukan saatnya menyerah, tetapi terus melawan walau mungkin perlawanan kita akan sangat menjemukan. Dede menambahkan bahwa efek peristiwa semacam itu tidak selalu buruk karena justru akan semakin menguatkan pergerakan komunitas. Tidak tahun ini, tetapi mungkin (red.-pergerakan) tahun depan akan menjadi lebih besar.

Dede menyatakan bahwa kita memang sedang perang, tetapi kita tidak menggunakan kekerasan. Senjata yang kita gunakan adalah pendidikan. Pendidikan tentang gender dan seksualitas merupakan investasi jangka panjang sehingga harus terus-menerus dilakukan. Terus berjuang!
 
edL
22 May 2012 10:56 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Siapa Irshad Manji?

Salah satu alasan penyerangan—untuk membubarkan paksa diskusi dan bedah buku—yang dilakukan oleh massa ke kantor LkiS di Sorowajan adalah ketakutan bahwa Irshad Manji akan menyebarkan paham lesbianisme. Perlu diperhatikan bahwa dari alasan tersebut saja, dapat disimpukan bahwa massa belum mengerti sepenuhnya tentang homoseksualitas.

Lesbian Bukan Sebuah Paham
Lesbian merupakan kata yang digunakan untuk mengidentifikasi perempuan yang memiliki ketertarikan, khususnya secara afeksi, dengan perempuan lainnya. Ketertarikan tersebut sama dengan ketertarikan yang dimiliki oleh heteroseksual, yaitu ketika seorang perempuan memiliki ketertarikan dengan laki-laki, maupun sebaliknya. Hal tersebut disebut dengan orientasi seksual, dimana setiap individu memiliki hak untuk memilih orientasi seksual mana yang paling nyaman baginya dan tidak memaksakan orientasi pilihannya kepada orang lain. Oleh karena itu kurang tepat jika disebut-sebut lesbianisme adalah sebuah paham, apalagi diibaratkan seperti penyakit yang dapat ditularkan kepada orang lain.

Mengenal Irshad Manji
Jika massa sudah memiliki ketakutan terlebih dahulu terhadap Irshad Manji yang memang mengakui bahwa dia seorang lesbian, maka persepsi yang dimiliki massa tentang Irshad akan cenderung negatif. Oleh karena itu artikel ini akan mengupas lebih mendalam tentang Irshad Manji dan dengan kekayaan informasi diharapkan pembaca dapat lebih cerdas dalam bersikap. Riwayat hidup ini diambil dari laman web resmi Irshad Manji, yaitu https://www.irshadmanji.com/about-irshad, serta penuturannya di dalam buku Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini” (terjemahan dari “The Trouble with Islam”) dan “Allah, Liberty, and Love”.

Masa Kanak-kanak dan Pendidikan
Irshad lahir pada tahun 1968 di Uganda. Orangtuanya adalah keturunan India dan Mesir. Pada masa pemerintahan diktator militer Jenderal Idi Amin ratusan keluarga dari Asia diusir, termasuk keluarga Irshad. Saat itu keluarga Irshad mengungsi ke Kanada dan ditempatkan di daerah Vancouver.
Irshad tumbuh dan berkembang di daerah tersebut. Dia datang ke dua sekolah, yaitu sekolah umum tanpa pendidikan keagamaan setiap hari Senin hingga Jumat—juga beberapa jam pada hari Sabtu—dan sekolah agama Islam atau disebut madressa (madrasah). Di sekolah umum Irshad merupakan murid yang unggul, tetapi dia justru dikeluarkan dari madrasah ketika berusia 14 tahun karena terlalu banyak bertanya. Irshad saat itu bisa saja meninggalkan Islam karena banyak pertanyaannya yang belum terjawab. Akan tetapi Irshad yakin bahwa agama yang dianutnya memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Peristiwa ini yang kemudian mendorong Irshad untuk mempelajari Islam lebih mendalam.
Sambil terus mencari jawaban pertanyaan dalam pikirannya, Irshad melanjutkan pendidikan di jurusan sejarah, University of British Columbia, dan mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa terbaik di bidang kemanusiaan.
Selama masa pencariannya, dan hingga saat ini, Irshad mendalami Islam karena yakin bahwa yang diterimanya saat madrasah bukanlah sebuah pendidikan melainkan indoktrinasi. Seperti yang dijelaskan Irshad,”Pendidikan memberikan ruang untuk berpikir sedangkan indoktrinasi mencegahnya”. Oleh karena itu Irshad kemudian memiliki keinginan kuat untuk “memperbaharui” Islam dengan tradisi yang telah ada, yaitu ijtihad.
Dalam “Allah, Liberty, and Love” Irshad menjelaskan bahwa ijtihad merupakan sebuah tradisi dalam Islam yang mencakup perbedaan pendapat, penalaran, dan penafsiran kembali. Kata ini berasal dari akar yang sama dengan kata jihad atau “berjuang” tetapi tidak seperti jihad (berjuang) yang penuh kekerasan. Ijtihad terkait dengan perjuangn untuk memahami dunia kita dengan menggunakan pikiran. Hal tersebut kemudian berimplikasi kepada penggunaan kebebasan untuk mengajukan pertanyaan—yang terkadang dapat menimbulkan ketidaknyamanan.
Sebagai seorang muslim, Irshad merasa harus memiliki ekspetaksi yang lebih tinggi terhadap diri sendiri. Kita pernah memperlakukan pikiran kita seperti seni, yaitu menghidupkan begitu banyak pilihan di dalam pengamalan iman. Seribu tahun yang lalu semangat ijtihad sangat terasa dalam diskusi, debat, dan perbedaan pendapat. Peradaban Islam pada saat itu juga mengalami perkembangan, memimpin dunia dengan cerdik cendikia. Para siswa muslim Spanyol (Andalusia) dapat berdialog dengan Al-Quran dari berbagai segi. Seperti yang dituliskan George Makdisi, seorang sejarawan, madrasah di abad ke-19 merupakan sumber dari kebebasan akademik di masa kini. Akan tetapi tradisi tersebut tenggelam pada abad ke-12. Saat itu kelompok muslim fanatik dari Maroko melintasi Selat Gibraltar dan menduduki Spanyol. Akibatnya, imperium Islam yang membentang dari Spanyol di bagian Barat hingga Irak bagian Timur terpecah belah.

Misi Irshad
Dalam bahasa Arab, Irshad berarti “panduan”. Hal inilah yang menjadi misi Irshad, yaitu memandu reformasi umat muslim dan keberanian moral. Misi tersebut diwujudkan ke dalam Moral Courage Project di Moral Courage Project. Di sana Irshad menjadi pendiri dan direktur yang memimpin program kepemimpinan untuk membekali para mahasiswa agar dapat melepaskan sensor diri (self-censorship, dihantui bayang-bayang kehormatan orangtua mereka).

Karir
Setelah lulus dari universitas, Irshad bekerja sebagai staff di badan legislatif Kanada. Kemudian dia menjadi sekretaris pers untuk Kementerian Urusan Perempuan Ontario dan lalu menjadi penyusun pidato untuk pemimpin di Partai Demokrasi Baru.
Saat berusia 24 tahun, Irshad masuk ke dalam jurnalisme profesional dengan menulis editorial untuk Ottawa Citizen. Hal ini menjadikan Irshad sebagai anggota termuda dari dewan editor untuk Harian Kanada.
Setelah itu Irshad memulai karirnya di televisi. Di pertengahan 1990-an dia muncul di Friendly Fire, sebuah acara debat mingguan yang mengupas pandangan liberal Irshad melawan konservatif. Irshad lalu memproduksi acara In the Public Interest di Vision TV.
Pada tahun 2001, Irshad meluncurkan acara baru dan mulai menulis buku “The Trouble with Islam Today” yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Tahun 2004 buku tersebut diluncurkan dan Irshad mulai berkeliling dunia untuk melakukan dialog. Setahun kemudian Irshad menjadi pengajar tamu di Universitas Yale untuk memberikan kuliah umum. Lalu di tahun 2007 Irshad pindah dari Toronto ke Manhattan untuk mengajar keberanian moral di New York University’s Robert F. Wagner Graduate School of Public Service. Di sinilah Irshad menemukan inspirasi untuk menulis buku barunya,”Allah, Liberty, and Love”.
 
edL
09 May 2012 17:16 WIB : Berita Pendek

Komunitas LGBT Perlu Semakin Erat: Ulang Tahun PLU Satu Hati


PLU (People Like Us) Satu Hati menggelar perayaan ulang tahun ke-4 dengan memilih tempat di Youth Center PKBI DIY (21/4). Hari jadi yang sebenarnya jatuh pada tanggal 31 Maret tersebut sengaja dirayakan bersamaan dengan Hari Peringatan R.A. Kartini. Perayaan ulang tahun PLU tahun ini mengambil tema “Satu Hati, Dekat dan Bersama”.

People Like Us (PLU) Satu Hati merupakan sebuah Community Based on Organization (CBO), yaitu organisasi berbasis komunitas yang bergerak di advokasi HAM untuk LGBT di Yogyakarta.

 “Semoga dengan bertambahnya usia PLU ini, PLU bisa semakin dekat dengan teman-teman semua dan untuk berjuang bersama,” jelas Matius Indarto, koordinator PLU Satu Hati, ketika memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Shuniyya Ruhama, penulis buku “Jangan Lepas Jilbabku”, yang juga hadir dalam acara tersebut menyampaikan hal senada. Menurut Shuniyya, perjuangan teman-teman LBGT harus solid di ranah intern karena apa yang menjadi tantangan perjuangan identitas ini sangat beragam.

Perayaan hari jadi ke-4 PLU Satu Hati kemudian ditutup dengan membagikan nasi bungkus kepada pengemudi becak di daerah Pakualaman sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.
 
edL
21 Nov 2011 16:58 WIB : Berita Foto

Hari Peringatan Transgender 2011

"Salam Damai untuk Keberagaman: 1000 Bunga untuk Masyarakat Jogja", Hari Peringatan Transgender 2011 di KM 0 Yogyakarta (20/11).

21 Nov 2011 17:03 WIB : Berita Pendek

Waria Juga Manusia: Hari Transgender Internasional 2011

Tanggal 20 November merupakan hari peringatan transgender internasional. Tahun ini komunitas waria di Yogyakarta memperingatinya dengan aksi damai di KM 0 bertema “Waria juga Manusia, Tidak Melupakan dan Memberi Ruang”. Tema tersebut diambil dari tema internasional untuk perayaan transgender pada 2011 ini.

Aksi damai dibuka dengan orasi dari berbagai komunitas Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender/Transexual (LGBT), tidak hanya dari komunitas waria saja. Dalam orasi tersebut perwakilan dari berbagai komunitas LGBT menyuarakan anti kekerasan terhadap waria dan hak-hak waria yang belum dipenuhi oleh negara seperti tentang KTP waria yang belum terealisasikan. Selanjutnya para peserta aksi damai membagikan bunga kepada para pengguna jalan dan pengumpulan tanda tangan di sekitar Kantor Pos dan Jalan Malioboro.
 
“Kami waria menolak kekerasan dan [meminta] permudah akses waria dalam KTP. Hak waria juga perlu dilindungi. Sebenarnya di Indonesia lebih terbuka untuk waria melakukan aksi namun terbentur di akses-akses pemerintah. Berbeda dengan pergerakan waria di negara lain seperti Malaysia dan Thailand. Di sana mereka diakui penuh tetapi tidak leluasa untuk melakukan aksi. Sementara di Pakistan sudah ada KTP waria tetapi masyarakatnya lebih radikal,” jelas Sinta, koordinator aksi damai.
 
Arsih, Koordinator Program Penelitian dan Penerbitan PKBI DIY, menandaskan,”Transgender itu ada, tapi ada upaya untuk membuat mereka tidak ada. Jika melihat di luar negeri banyak teman-teman waria yang duduk di parlemen. Sementara di Indonesia waria menjadi sasaran kekerasan fisik maupun psikis, banyak sekali serangan terhadap waria disini. Selain itu stigma dan diskriminasi terhadap waria semakin membuat haknya nggak bisa dipenuhi.” Arsih menambahkan bahwa kuncinya adalah waria harus bisa berorganisasi sendiri sehingga dapat melakukan kerjasama dengan berbagai organisasi.
 
 edL
12 Jun 2011 16:38 WIB : Berita Pendek

"Back to Black" Simbol Perlawanan LGBT atas Ketidak-adilan

Komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender/Transeksual) kembali ditimpa ketidak-adilan. Jika beberapa waktu lalu ranah publik yang menjadi sasaran, kini komunitas LGBT mengalami ketidak-adilan pada ranah ekonomi. Seperti yang dikatakan oleh Toto Handoko, manager G-Plus Production, bahwa dia merasa diperlakukan dengan tidak adil oleh salah satu tempat hiburan di Kota Yogyakarta. Dia menjelaskan bahwa tempat hiburan yang menjadi rekan bisnisnya tersebut tidak menepati janji untuk membagi sebagian keuntungan. Toto ingat bahwa mereka berjanji membagi sebagian keuntungannya untuk mengganti pengeluaran yang digunakan saat pertunjukan berjalan, sekalipun target dari omset yang didapat tidak tercapai. “Sayangnya perjanjian yang seperti itu tidak tertulis, hanya diungkapkan secara lisan saja,” sesal Toto.

Keluhan Toto ternyata mendapat dukungan kuat dari teman-teman komunitas LGBT karena mereka telah merasakan ketidak-beresan sejak dua pertunjukan terakhir di tempat itu. Komunitas tidak hanya tinggal diam dan bertekad membuat perlawanan untuk menuntut keadilan dengan cara yang berbeda. Perlawanan yang dilakukan terwujud dalam acara bertema “Back to Black” yang digelar Sabtu malam, (24/5). Acara ini bukan hanya malam inagurasi bagi talent-talent baru yang menjadi finalis kompetisi lipsync untuk direkrut menjadi talent G-plus, tetapi juga wujud protes atas kekecewaan yang dialami. Hampir seluruh tamu yang hadir malam itu menggunakan pakaian berwarna serba hitam sebagai simbol berkabung. Pilihan lagu para talent juga mengisahkan kesedihan, kekecewaan atas pengkhianatan, dan juga kemarahan. Komunitas yang tergabung dalam G-Plus ini juga bertekad tidak akan lagi menggelar acara di tempat hiburan tersebut. “Ini merupakan acara terakhir yang digelar saya dan teman-teman komunitas di tempat ini. Pokoknya tidak akan pernah ada lagi di sini, kecuali pihak mereka mau memberikan hak-hak kami sesuai dengan porsinya, rubah perjanjian pembagian keuntungan,” ujar Toto dengan nada yang terdengar agak ditekan.

Sekalipun omset di beberapa acara terakhir tidak menembus target, namun pemasukan yang didapat dari pertunjukan lumayan besar,” kata Toto. Bahkan menurut Toto,”Dulu omset mereka sebelum kami masuk dengan banyak acara begini, tidak lebih dari 3-jutaan, mentok paling angka 5, itu pun sangat jarang. Kini setelah kami bikin acara, paling tidak di atas 6 pasti masuknya. Jadi kalau pun tidak masuk target yang 10 juta, paling tidak kami bisa dapat uang pengganti,” Totok menandaskan. Selaku manager G-Plus, Toto mengaku harus mengambil 4-jutaan lebih dari uang pribadinya untuk membayar pemandu acara, talent, dan akomodasi. Hal yang membuat lebih kesal adalah Toto merasa terlecehkan saat menegosiasikan bagi keuntungan dengan pihak rekanan. “Saya sudah menyampaikan, misalnya ganti uang cetak undangan, namun mereka malah bantingan dari uang mereka sendiri hingga terkumpul 250 ribu saja, dan kemudian saya tolak. Itu pelecehan,” jelasnya. Bahkan jawaban yang diterimanya hanyalah kalimat,”Namanya berbisnis pasti ada yang untung dan ada yang rugi.”

Selain masalah bagi keuntungan, manager G-PLUS juga mengatakan bahwa rekanannya juga mengambil beberapa konsep acara yang pernah diselenggarakan oleh G-PLUS. Bukan itu saja, mereka juga mengambil beberapa artis G-PLUS dengan pendekatan personal tanpa melalui managemen. “Mereka memang tidak terikat kontrak resmi dengan G-PLUS, tetapi seharusnya mereka tahu etikanya lah,”kata Toto.

Sementara itu Maezur Zacky, direktur pelaksana daerah PKBI DIY, menanggapi bahwa ketidak-adilan yang diterima komunitas LGBT memang juga dapat menyentuh sektor ekonomi. Namun jamannya kini telah berubah, di mana sekarang LGBT punya perlawanan. Zacky sangat mendukung apa yang dilakukan komunitas LGBT dalam memperjuangkan hak mereka. Namun menurutnya, nuansa gerakan dan perjuangan LGBT akan lebih kuat jika tidak hanya berhenti pada protes semata, tetapi juga melakukan pemboikotan.
 
[edL]
12 Jun 2011 16:32 WIB : Berita Pendek

SUKMA Tidak Puas Hanya PERDA HIV dan AIDS

Sudah menjadi agenda rutin tahunan bagi para pegiat AIDS mengadakan acara peringatan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) setiap bulan Mei. Umumnya peringatan tersebut diwarnai dengan acara seremonial semata. Akan tetapi tahun ini komunitas SUKMA (Suara Komunitas untuk Keberagaman) melakukan hal yang berbeda. MRAN kali ini digunakan komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender/Transeksual), remaja, serta perempuan pekerja seks untuk kembali membangun komunikasi dan kerjasama sekaligus merefleksikan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menekan laju epidemi HIV dan AIDS. Hal tersebut diungkapkan Gama, manager program PKBI DIY pada saat sambutan pembukaan acara MRAN di halaman Youth Center Taman Siswa (26/5).

Menurut Gama, komunitas yang terjalin di dalam SUKMA belum boleh merasa puas hanya dengan  pengawalan hingga berhasilnya dikeluarkan peraturan daerah (PERDA) nomor 12 tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS DIY. Baginya sangat penting agar seluruh komponen masyarakat termasuk komunitas mengawal peraturan gubernur (PERGUB) yang sedang disusun. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan ruang komunikasi dan ikatan jaringan yang kuat sebagai bentuk perjuangan yang berkelanjutan. “MRAN merupakan ruang yang lebih cair bagi setiap pihak yang peduli dan ingin berbagi atau bahkan hanya sekedar meluangkan gagasan, yang penting ada potensi ke arah perubahan sosial yang lebih baik,” ujar Gama.

Menyambut ajakan PKBI DIY, Sheilla yang mewakili IWAYO (Ikatan Waria Yogyakarta) juga menghimbau seluruh komunitas yang terjalin di SUKMA dan jaringan waria di Yogyakarta untuk memberikan perhatian kepada persoalan AIDS. Sheilla mengajak rekan-rekannya melakukan kampanye bersama-sama untuk menghentikan epidemi HIV yang semakin luas. “Banyak kawan-kawan waria yang telah mendahului kita, melalui MRAN mari bersama-sama kita upayakan bagaimana penyebaran HIV ini bisa dihentikan, dan agar tak ada korban lagi yang berjatuhan,” sambutnya singkat.

Sementara itu Kristina, pendeta Gereja Keluarga Allah, mengatakan, “Dalam kehidupan ini banyak sekali urusan hidup yang masih bisa ditunda atau bahkan dinegosiasikan. Urusan pernikahan ada yang bisa menunda atau bahkan memilih untuk tidak menikah sekali pun. Urusan sekolah, bisnis atau pun urusan lainnya, semua bisa dinegokan, kecuali satu hal yang tak bisa ditunda atau pun dinego, yaitu urusan kematian.” Kristina menekankan bahwa masih banyak orang yang membicarakan AIDS dan mengidentikannya dengan kematian. Tetapi di balik itu, Kristina percaya bahwa semua orang akan mati, hanya saja tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan datang menjemputnya.

Kristina juga menyampaikan tentang pentingnya setiap manusia menggunakan kesempatan dan waktu untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Dirinya menyatakan kagum dengan beberapa tampilan presentasi yang ditayangkan oleh panitia. Bagi seorang pendeta yang bekerja di bidang pelayanan kerohanian, membangun masyarakat Kristen merupakan pekerjaan keseharian Kristina. “Namun walau teman-teman dengan HIV positif telah meninggal dunia, ternyata karya yang telah mereka lakukan merupakan hal yang luar biasa,” kata pendeta ini dengan bola mata yang berkaca- kaca.

Dalam malam renungan ini, Kristina mau membuka diri dan juga gereja yang digembalakannya. Dia juga mengatakan akan memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya bagi siapa pun yang hadir malam itu. “Jika ada yang berkebutuhan layanan konseling pasangan, masalah diri atau pun persoalan lainnya, saya hadir sebagai teman. Siapa pun boleh datang dan saya akan membuka diri untuk membantu melalui layanan konseling. Bukan hanya bagi orang Kristen saja, namun bagi yang non-Nasrani pun akan tetap saya layani karena kasih tidak memandang ras, suku, jenis kelamin, usia, bahkan agama. Kasih itu universal,” tuturnya.
 
[edL]
31 May 2011 06:00 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Kebangkitan Nasional: Sudah Bangkitkah Kita?

Sudah seabad lebih bangsa Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan, pembodohan, dan membebaskan diri dari keterbelakangan karena pendidikan yang terhambat mendorong anak-anak bangsa untuk berkumpul. Sebagai hasilnya, berbagai pemuda dengan beragam identitas melebur menjadi satu, inilah yang disebut sebagai kebangkitan kesadaran atas kesatuan kebangsaan. Tidak ada satu identitas yang lebih tinggi daripada lainnya, semua setara.
 
Semangat ini juga yang mendorong lahirnya berbagai pergerakan serupa, yaitu perjuangan menghapus diskriminasi dan mendorongnya kesetaran akan berbagai kelompok maupun identitas. Perjuangan yang cukup menyita perhatian dan telah lama berlangsung adalah kesetaraan jender, antara perempuan dan laki-laki. Warisan konstruksi sosial patriarki membuat perempuan berada pada posisi sebagai warga negara kelas dua. Perempuan dicitrakan dan diidentikan sebagai makhluk lemah, tidak berdaya dan merepotkan. Di sisi lain, laki-laki dimunculkan sebagai sosok pahlawan yang harus selalu berada di sisi terdepan, harus terlihat kuat dengan otot menonjol, dan berbagai tuntutan harus lainnya. Gambaran tersebut terjadi ketika isu emansipasi belum menyeruak.

Namun, setelah proses panjang dan melelahkan bagi pegiat kesetaraan untuk mengadvokasi hak-hak perempuan, apakah sudah hilang semua streotip dan diskriminasi terhadap perempuan? Jawabnya BELUM!

Konstruksi sosial terhadap gambaran perempuan sebagai makhluk lemah dan laki-laki diidentikan dengan otot masih beredar hingga detik ini. Pada era digital dan teknologi yang sudah sangat maju, pemikiran barbar yang mengkelas-duakan perempuan masih saja digunakan sebagai bahan iklan di media. Anda bisa menyimaknya dalam sebuah iklan minuman penambah tenaga yang seolah-olah hanya ditujukan bagi laki-laki. Dalam iklan tersebut masyarakat dibodohi dengan materi bahwa laki-laki yang baik dan benar hidupnya, harus meminum produk tersebut.
 
Konsep lain yang dapat kita jumpai tentang iklan berbasis jender adalah produk-produk perawatan tubuh. Umumnya produk perawatan tubuh ditujukan bagi para perempuan. Para produsen tidak lelahnya menanamkan konsep kecantikan bagi perempuan dengan berpusat pada kecantikan tubuh. Misalnya saja iklan sebuah produk perawatan tubuh untuk menghilangkan rambut di kaki. Di akhir iklan mereka menekankan bahwa cantik bagi perempuan adalah tanpa rambut di kaki. Sekilas memang tampak biasa saja dan sudah seharusnya perempuan memiliki kaki yang halus dan mulus. Namun di balik itu tersimpan potensi yang dapat mengganggu kesehatan mental. Ya, memang dapat sejauh itu implikasinya karena ketika ada perempuan yang tidak memiliki kaki “mulus” dan lingkungan sosialnya mempermasalahkan hal itu, maka sang perempuan akan merasa tidak cantik. Cukup melompat memang penjelasan tersebut, tetapi itulah realitanya.

Jender dan Orientasi Seksual : juga Identitas
 
Perempuan dan laki-laki hanyalah sebagian kecil pengelompokkan identitas seseorang. Berdasarkan jenis kelamin, makhluk hidup umumnya dibedakan menjadi jantan dan betina, atau untuk memperhalusnya menggunakan laki-laki dan perempuan bagi manusia. Salah satu fungsi utama pembedaan itu terkait dengan fungsi reproduksi, khususnya bagi sebagian orang yang memiliki pandangan bahwa perkelaminan hanyalah demi keberlangsungan spesies manusia semata.

Tumbuhan, hewan, dan manusia dapat dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya dan memang salah satu tujuan perkelaminan adalah regenerasi. Tetapi apakah perkelaminan yang dilakukan oleh hewan dan manusia adalah hal yang sama? Sepasang hewan jantan dan betina jika ditaruh dalam satu kandang yang sama dapat dipastikan akan melakukan hubungan seks. Tetapi seorang laki-laki dan perempuan yang tidak saling mengenal ditempatkan dalam sebuah kamar bersama apakah otomatis akan berhubungan seks? Mungkin ya, mungkin tidak. Tetapi yang pasti, hubungan seks yang dilakukan oleh manusia akan mengandung unsur perasaan. Tidak hanya urusan penis dan vagina, tetapi juga ketertarikan yang melibatkan kasih-sayang.

Antara satu manusia dan yang lain pasti memiliki minat terhadap hal yang berbeda. Bahkan anak kembar identik sekalipun tidak akan mempunyai ketertarikan yang sama pada semua hal. Demikian pula ketertarikan seksual yang dialami oleh manusia. Fakta bahwa ada manusia yang tidak tertarik dengan lawan jenis secara seksual merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Atau juga ada manusia yang tertarik pada sesama maupun lawan jenisnya, bahkan ada juga yang tidak tertarik sama sekali. Inilah yang dinamakan orientasi seksual. Pada sudut lain, ada juga yang tertarik dengan lawan jenis tetapi ingin berpenampilan dan berperilaku seperti lawan jenisnya. Itu salah satu contoh dari jender. Benang merahnya, baik orientasi seksual dan jender juga merupakan sebuah identitas yang perlu diakui. Namun selama ini negara dan masyarakat belum menghargai atau mengakui keberagaman identitas manusia berdasarkan dua hal itu.

Selama ini kelompok minoritas yang memiliki orientasi seksual maupun jender beragam masih mengalami diskriminasi. Pembedaan yang menimpa mereka terwujud dalam bentuk kekerasan, baik secara verbal maupun fisik. Saat mengadukan nasibnya, seolah-olah negara menutup mata dan menyerahkannya pada hukum rimba. Padahal dalam Pancasila dan UUD 1945, negara menjamin setiap kehidupan warganya dengan mempertimbangkan hak asasi manusia secara universal.

Editorial ini akan saya tutup dengan membangkitkan kembali kenangan akan insiden yang terjadi tahun lalu. Pada tahun 2010 di D.I. Yogyakarta, dikenal sebagai daerah yang menghargai keberagaman, terjadi perampasan hak berekspresi komunitas LGBTIQ. Dalam rangka memperingati International Day Against Homophobia (IDAHO), teman-teman komunitas melakukan diskusi publik, movie screening, dan rencananya akan ditutup dengan karnaval di alun-alun seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tengah-tengah proses, datang ketidak-setujuan dari sekelompok orang yang mengatasnamakan agama tertentu. Tidak hanya memasang spanduk bertuliskan penolakan, tetapi mereka juga melakukan intervensi dengan melakukan intimidasi. Sekelompok pemuda berpakaian yang identik dengan agama tertentu mengelilingi alun-alun. Mereka menebar teror dengan menggas motornya dan berteriak-teriak.

Kejadian itu hanyalah sebuah contoh kecil yang menjadi sejarah kelam bangsa ini. Isu yang terkandung di dalamnya memang belum menjadi perhatian banyak pihak, tetapi itu adalah cerminan dari pelanggaran hak asasi dan perendahan martabat manusia. Menjadi sejarah, bukan berarti untuk dilupakan. Sebab Milan Kundera mengatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa (dalam The Book of Laughter and Forgetting). Presiden Soekarno juga terkenal akan ucapannya,”JASMERAH: jangan sekali-kali melupakan sejarah!”
 
[edL]
30 May 2011 00:23 WIB : Editorial

Kebangkitan Nasional : Sudah Bangkitkah Kita?

Sudah seabad lebih bangsa Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Berbagai pemuda dengan beragam identitas melebur menjadi satu, membangkitkan kesadaran atas kesatuan kebangsaan. Tidak ada satu identitas yang lebih tinggi daripada lainnya, semua setara. Semangat ini juga yang mendorong lahirnya berbagai pergerakan serupa, yaitu perjuangan menghapus diskriminasi dan mendorongnya kesetaran akan berbagai kelompok maupun identitas.

Salah satu usaha kesetaraan yang diusahakan adalah mengadvokasi hak-hak perempuan yang kerap kali dirampas atas nama patriarki. Lalu setelah proses panjang perjuangan yang dilakukan, apakah sudah hilang semua streotip dan diskriminasi terhadap perempuan? Jawabnya BELUM! Konstruksi sosial terhadap gambaran perempuan sebagai makhluk lemah dan laki-laki diidentikan dengan otot masih beredar hingga detik ini. Pada era digital dan teknologi yang sudah sangat maju, pemikiran barbar yang mengkelas-duakan perempuan masih saja digunakan sebagai bahan iklan di media. Anda bisa menyimaknya dalam sebuah iklan minuman penambah tenaga yang seolah-olah hanya ditujukan bagi laki-laki. Dalam iklan tersebut masyarakat dibodohi dengan materi bahwa laki-laki yang baik dan benar hidupnya, harus meminum produk tersebut.
 
Demikian pula dengan jender dan orientasi seksual yang beragam, juga merupakan identitas. Pertanyaannya, sudahkah kita menghargai keberagaman tersebut dan identitas yang dipilih setiap orang? Sejauh ini, seolah-olah negara menutup mata dan menyerahkannya pada hukum rimba. Padahal dalam Pancasila dan UUD 1945, negara menjamin setiap kehidupan warganya dengan mempertimbangkan hak asasi manusia secara universal. Insiden yang terjadi tahun lalu saat peringatan International Day Against Homophobia (IDAHO) merupakan bukti belum bangkitnya negeri ini dari kekerdilan cara berpikir. Hal tersebut adalah cerminan dari pelanggaran hak asasi dan perendahan martabat manusia.
23 May 2011 22:08 WIB : Berita Panjang

One Love Charity Night, Suarakan Kemanusiaan LGBT

Hedonisme yang acap kali dituduhkan tidak membuat komunitas LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender) surut semangatnya untuk tetap membuat berbagai kegiatan. Berbeda dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya, kali ini komunitas LGBT menyuguhkan acara bertajuk One Love Charity Night yang dimaksudkan untuk menggalang dana bagi penyintas bencana lahar dingin Merapi. Acara ini diselenggarakan Minggu malam (22/5) di Boshe VVIP Club.

Potongan-potongan gambar bencana Merapi beberapa waktu lalu divisualisasikan dengan menarik. Sejalan dengan itu, para talent yang dipilih dengan sangat selektif menyajikan lip sync dengan lagu-lagu bertemakan kemanusiaan seperti milik Michael Jackson, Heal the World. Acara terlihat berlangsung meriah dan ruangan tetap penuh hingga di akhir. Setelah dihitung, dari malam amal ini terkumpul dana sebesar empat juta rupiah yang akan disumbangkan kepada para penyintas Merapi.

Sejumlah pengunjung mengatakan senang dengan acara seperti ini. Menurut Tata, koordinator acara, kegiatan ini bagus karena ada misi kemanusiaannya. Selain itu juga memberi warna untuk memperingati International Day Against Homophobia (IDAHO). "Ini bentuk karya LGBT yang bernilai kemanusiaan dan tidak sekedar hanya senang senang semata," ujarnya. Akan tetapi Tata juga mengakui bahwa jumlah tamu tahun ini terasa lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Amir, salah satu pengunjung mengatakan bahwa dirinya merasa senang dengan meriahnya acara komunitas LGBT. Dia mengatakan banyak teman-teman komunitas yang berbaur dan berkumpul. Akan tetapi memang ada sebagian teman-teman komunitas yang berperilaku berlebihan sehingga terlihat kurang nyaman. Namun demikian Amir menegaskan bahwa tidak semua tamu yang hadir berperilaku demikian.

Para pengunjung Charity Night ini tidak hanya dari komunitas LGBT. Ivan, seorang warga Belgia yang sedang berwisata di Yogyakarta turut hadir bersama pasangan perempuannya. Dia mengatakan bahwa acara ini sangat luar biasa. Dia membandingkan beberapa klub di negaranya, yang ternyata sangat berbeda dengan yang ada di Asia. Menurut Ivan, klub di Asia seperti di Jakarta maupun Yogyakarta  didominasi oleh remaja. Sementara di Belgia kebanyakan pengunjungnya adalah mereka yang telah paruh baya. "Pilihan musik dan konsep acara untuk kemanusiaan, lebih mirip klub-klub di Belanda," jelasnya. Secara keseluruhan dia sangat menyukai acara yang disuguhkan. “Anak-anak Jogja memang luar biasa!” ujarnya sambil mengacungkan jempol kiri.
 
[edL]
20 Apr 2011 16:34 WIB : Berita Foto

Bangun Militansi LGBT Jogja


Acara bertajuk Lipsync Competition yang diselenggarakan untuk mewadahi ekspresi dan seni komunitas Lesbian ,Gay, Biseksual, Transgender ( LGBT ) meraih sukses besar. Pagelaran seni menirukan gaya bibir, yang kini lebih populer dengan sebutan lipsync,  berhasil menjaring talent-talent berbakat untuk saling berlomba mengadu kebolehannya , menurut pihak  pihak  Qeer inc, penyelenggara acara.

08 Feb 2011 17:44 WIB : Berita Pendek

FKTS : Jawab Minim Informasi dengan Edutaimen

Belum diakuinya keberagaman orientasi seksual dan identitas gender di dalam tatanan masyarakat, seringkali menjadi penghambat arus informasi bagi komunitas ini. One love in Diversity, sebuah  acara Forum Komunikasi Teman Sehati (FKTS ) yang memuat misi agar LGBT dan masyarakat terhindar dari penularan infeksi menular seksual (IMS) dan HIV & AIDS, diselenggarakan di sebuah cafe, Yogyakarta (6/2).

02 Feb 2011 11:41 WIB : Berita Foto

Komik The Yogyakarta Principles Tegaskan Identitas Gender

Prinsip-prinsip HAM terkait dengan orientasi seks dan identitas gender, Yogyakarta Principles, yang digagas sejumlah aktivis dan pakar HAM dari 25 negara di Yogyakarta pada 2006 kembali disosialisasikan. Dengan sasaran LGBT muda di Indonesia, Institut Pelangi Perempuan (IPP) kali ini mengemas Yogyakarta Principles tersebut dalam bentuk komik. Yogyakarta juga kembali dipilih menjadi salah satu kota launching komik tersebut, selain Bandung dan Jakarta.

31 Aug 2010 07:44 WIB : Berita Pendek

IWAYO: Membangkitkan Kembali Raksasa Pejuang Hak Komunitas

“Harapan kami ini tentunya waria bisa diterima di masyarakat, bisa diakui oleh pemerintah, didukung semua kegiatannya, dan bisa diberi tempat di lapangan kerja mana saja” ujar Ketua IWAYO (Ikatan Waria Yogyakarta), Maryani. Harapan yang cenderung ‘biasa’ terdengar, namun itulah yang menjadi nafas organisasi IWAYO dalam memperjuangkan hak-hak waria sebagai gender ketiga. Menurut Maryani, image yang selama ini terbentuk di masyarakat juga tak pelak memang buah dari perbuatan waria, namun waria gadungan. “Mereka (waria gadungan, red.) berpura-pura jadi waria, berpakaian seperti perempuan, tapi ternyata garong yang berbuat jahat, jadi sangat merusak citra waria yang sebenarnya.”

07 Jul 2010 13:23 WIB : Berita Pendek

Pekerja Media Tidak Memahami isu LGBT Secara Benar

Hal ini dikatakan Ashadi Siregar, Direktur LP3Y Yogyakarta dalam diskusi publik “LGBT dalam Media Massa”, Selasa, (29/6), bertempat di Ruang Seminar Gedung Perpustakaan Universitas Atma jaya Yogyakara. Selain Ashadi Siregar, hadir pula dalam diskusi tersebut D. Danarka Sasangka, MA (Dosen Ilmu Komunikasi UAJY) dan Elok (aktivis LGBT).

07 Jul 2010 13:24 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Media (Alternatif) Berkawan Dengan LGBT

-This song about equality, If you are never givin the chance,
Then you are never able to show you can succeed!-

14 Jun 2010 11:17 WIB : Berita Panjang

Jelang Muktamar Muhammadiyah, AMUK Menolak Razia Gepeng

“Kami menolak keras razia yang dilakukan Satpol PP terhadap teman-teman kita yang hidup di jalanan menjelang Muktamar Muhammadiyah dengan alasan mengganggu keindahan tata kota,” kata Slamet Wasair, Koordinator Aksi Damai yang digelar Aliansi Masyarakat Untuk Keadilan (AMUK) di depan Gedung Agung, Yogyakarta, (10/6).

05 Jun 2010 10:45 WIB : Berita Pendek

Tidak Adil, Anggapan HIV Sebagai Kutukan Tuhan

"Masih ada anggapan HIV dan AIDS kutukan Tuhan. Akibatnya orang yang terkena HIV dan AIDS serta merta dipandang buruk, hina dan kotor.Seolah-olah semua yang terkena HIV telah melakukan dosa besar sehingga dikutuk Tuhan," kata KH. Hussein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Dar al Tauhid, Arjawinangin, Cirebon.

25 May 2010 09:23 WIB : Berita Panjang

Izin Panggung Keberagaman Ditolak, Panitia Mubeng Alun-alun Kidul 18 Kali

Panggung Keberagaman, sebagai acara penutup rangkaian peringatan International Day Against Homophobia (IDAHO) yang sedianya akan dilaksanakan di Sasono Hinggil, Sabtu (22/ 5), terpaksa dibatalkan panitia pelaksana. Pasalnya, surat izin penggunaan tempat dari pengelola Sasono Hinggil yang sudah dikantongi panitia dicabut kembali.

25 May 2010 08:52 WIB : Berita Foto

Gagasan Pernikahan bagi Waria Mulai Dikembangkan

"Sebenarnya yang kita diskusikan bukan nikahnya, tetapi bagaimana kita bisa menyikapi dan menerima waria apa adanya," ujar Abdhul Muiz Ghozali, pengajar Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta menjawab berbagai pertanyaan mengenai pernikahan waria saat tampil sebagai narasumber pada Diskusi Keberagaman Orientasi Seks dan Identitas Gender di Pusat Study Kebijakan (PSK) Universitas Gadjah Mada, awal pekan ini.

19 May 2010 11:49 WIB : Berita Foto

Ratusan Tanda tangan dan Pelukan, Warnai IDAHO Jogja 2010

Mereka tidak hanya berkomunikasi dan bersosialisasi saja tentang LGBTIQ, namun juga meminta dukungan masyarakat dengan meminta mereka membubuhkan tanda tangan pada T-shirt yang dikenakan dan diakhiri dengan pelukan tanda dukungan dan kasih sayang sebagai sesama warga masyarakat.

Aksi ini merupakan bagian Peringatan Hari Internasional Melawan Homophobia (IDAHO) 2010. Semua T-Shirt yang mereka kenakan, dipenuhi ratusan tanda tangan dari masyarakat, mulai dari buruh gendong beringharjo, tukang becak, pejalan kaki, dan semua mereka yang ditemui dalam perjalanan penggalangan dukungan.

18 May 2010 17:29 WIB : Berita Panjang

Heteronormativitas ,Tutup LGBTIQ dari Perhatian Negara

Lesbian, gay, biseksual, transseksual, transgender, interseks dan queer (LGBTIQ) merupakan realitas sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia. Keberadaannya seharusnya diakui, dihormati dan dilindungi negara, yang telah menyepakati dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia dengan meratifikasi berbagai konvensi internasional.

13 Apr 2010 12:07 WIB : Berita Panjang

Gendo: Kebebasan Bependapat di Indonesia Seolah-olah

I Wayan Suardana (34), akrab dipanggil Gendo pada 2005 dipenjara karena dianggap melakukan penghinaan simbol negara pada kasus pembakaran bendera Presiden SBY saat menolak kenaikan harga BBM. Kini ia menjadi advokat dan anggota Majelis Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Daerah Bali dan juga mengadvokasi kasus pelanggaran HAM pada pecandu narkotika di Bali. Gendo menyimpulkan kebebasan berpendapat di Indonesia hanya seolah-olah karena banyak produk hukum malah ingin mengkriminalkan. Terlebih kasus kekerasan kelompok mayoritas pada minoritas terus berlangsung dan sulit dipidanakan. Beikut wawancara Luh De Suriyani, Swaranusa Biro Bali, dengan Gendo mengenai pembatalan paksa konferensi ILGA di Surabaya pekan lalu.

Konferensi internasional LGBTIQ atau The 4th regional Lesbian, Gay, Transgender and Intersex Association (ILGA) conference di Surabaya, dipaksa dibatalkan oleh kelompok agama tertentu? Pendapat Anda?

Inilah problem berbangsa di Indonesia. Segala sesuatu perbedaan diselesaikan jalan kekerasan. Pembubaran Konferensi ini adalah salah satu peristiwa dari sekian banyak  peristiwa kekerasan atas nama kelompok agama tertentu.  Artinya budaya barbarisme sedang menghantui proses demokratisasi di Indonesia, baik dengan menggunakan idiom agama, suku ataupun paham tertentu termasuk dengan menggunakan logika kebenaran mayoritas yang pada akhirnya berujung kepada tirani mayoritas.

27 Mar 2010 21:29 WIB : Berita Panjang

JAMGAMAN : Tuntut Kosistensi Negara Jalankan Mandat UUD 45

Perlawanan berbagai organisasi dan komunitas atas pencekalan yang dilakukan pemerintah terhadap konferensi International  Lesbian, Gay, Transgender dam Intersesks Asossiation ( ILGA ) , terus berlanjut.  Sejumlah organisasi sosial dan organisasi berbasis komunitas yang tergabung dalam Jaringan HAM untuk Keberagaman (JAMGAMAN ) berkumpul di  youth center PKBI DIY hari ini ( 26/3 ) untuk menyatakan sikap atas kejadian itu.

27 Mar 2010 21:32 WIB : Berita Panjang

Banyak Yang Kecewa Konferensi ILGA Batal

Berbagai tekanan dilancarkan kepada komunitas gay, lesbian, transgender, dan intersex yang akan mengikuti Konferensi Internasional Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Intersex Association (ILGA) di Surabaya, yang sedianya digelar 26-28 Maret.

Puluhan peserta konferensi ILGA yang datang dari berbagai negera tersebut, terjebak di dalam sebuah hotel di Surabaya, sehingga menjadi kesulitan untuk keluar dari area hotel karena masih dikepung ormas Islam dari FPI dan FUI. “Mereka tampak ketakutan dengan kejadian ini,” kata Widodo Budidarmo, salah seorang panitia penyelenggara konferensi internasional ILGA ke-4 se-Asia.

26 Mar 2010 17:00 WIB : Berita Panjang

Negara Harus Melindungi Hak LGBT

Komunitas Lelaki suka Lelaki Manado mengaku kecewa ada penolakan terhadap Konferensi Internasional Lesbian, Gay, Bisexual, trans dan intersex Association ( ILGA) yang akan dilaksanakan di Surabaya, 26-28 Maret .  
Ririn, salah satu anggota komunitas ini mengatakan, pertemuan  kelompok ini sangat penting untuk eksistensi mereka.  Apalagi akan dihadiri peserta dari puluhan Negara se Asia.  Untuk itu dia merasa heran dan mempertanyakan penolakan yang terjadi. Sebenarnya lewat konferensi ini pihaknya berharap banyak.  Salah satunya,  bagaimana agar komunitasnya diakui sebagai bagian dari masyarakat umum sehingga mengurangi beban psikologis. Pertemuan ini diharapkannya juga mampu membentuk pengakuan publik atas mereka, dan mengikis anggapan sebagai sampah masyarakat.

26 Mar 2010 10:27 WIB : Berita Panjang

Pemerintah Jangan Menambah Stigma dan Diskriminasi

Rencana pembatalan Konferensi Internasional Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Intersex Association (ILGA) di Surabaya yang sedianya digelar 26-28 Maret, menimbulkan keprihatinan beberapa pihak. Sikap polisi, MUI, dan Wakil Walikota Surabaya yang tidak menyutujui forum bertemunya puluhan pasangan gay dan lesbian serta transgender, dinilai sebagai ekspresi sikap homophobia pemerintah, polisi, maupun beberapa elemen masyarakat.

“Karena, bagaimanapun juga, teman-teman LGBT juga bagian dari warga negara Indonesia, sehingga punya hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain,” kata Slamet Riyadi, pemerhati masalah hak asasi manusia yang juga aktivis Forum KiPAs Semarang.

24 Mar 2010 22:08 WIB : Berita Panjang

ILGA Terancam Gagal, Bentuk Diskriminasi Negara Terhadap LGBT

Lagi lagi perjuangan identitas komunitas lesbian, gay, biseksual dan trangender ( LGBT ) dihadapkan pada sebuah persoalan. Konferensi International  Lesbian, Gay  dan Interseksual Asosiation (ILGA ) yang  sekiranya akan diselenggarakan pada kamis besok ( 25/3) hingga hari Minggu di kota Surabaya, belum mendapatkan ijin dari kepolisian setempat. Hal ini mendapat beragam respon yang keras dari para aktivis LGBT.

25 Mar 2010 11:13 WIB : Berita Pendek

Tuntutan Kesetaraan di Balik Lantun Puisi

Perempuan masih menghadapi ketidakadilan, seperti buta huruf, upah kerja yang rendah, jam kerja lebih panjang, dan kekerasan. Ketidakadilan terjadi di banyak sektor, termasuk produk kebijakan yang masih mendiskriminasi perempuan seperti UU Anti Pornografi dan kuota 30% perempuan di parlemen yang belum terpenuhi. Hal ini disampaikan Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) dalam sesi penutupan seluruh rangkaian peringatan Hari Perempuan Internasional, pekan silam.

Persoalan lain yang dihadapi perempuan, angka kematian ibu ( AKI )  yang belum menurun, praktek pernikahan di bawah umur yang justru dilindungi, dan poligami masih diamini. Potret ketimpangan gender juga tampak dari pemenjaraan politik identitas, seperti yang dialami Lesbian ,Gay, Biseksual, dan Trasnsgender  (LGBT) karena orientasi seksnya. "Paradoks," kata Enik Maslahah, Koordinator Acara Penutupan Hari Perempuan International.

Panggung kesetaraan sebagai bentuk manifestasi berbagai gagasan, dengan mengangkat isu Dramatic Reading Of CEDAW, menurut Enik merupakan media untuk menyampaikan tuntutan dengan cara yang berbeda dan ajang sosialisasi Covention on the Ellimination of All Forms Of Discrimination Againts Women (CEDAW ) dan diratifikasi Pemerintah Indonesia dengan diundangkannya UU No. 7 Tahun 1984.

Ginanjar Wilujeng, mahasiswa  Universitas Widya Mataram, tampil membacakan puisi karya Idaman Andarmosoko berjudul AKU PEREMPUAN PETARUNG. Ginanjar bergabung dalam Panggung Kesetaraan, karena ini terlibat dalam aktivitas yang bisa membelalakkan mata masyarakat tentang kondisi ketidakadilan yang menimpa perempuan. Walaupun kondisi sekarang memang lebih baik dibandingkan dahulu, namun masih banyak PR yang harus diselesaikan. Kesempatan di dunia pendidikan, akses dan lapangan pekerjaan, bahkan kesempatan perempuan masuk dunia politik.

Menurut Ginanjar, budaya patriarki mengekang hak-hak perempuan. Sebut misalnya, UU Pornografi sebagai salah satu bentuk pemblengguan dan kontrol atas tubuh perempuan. "Puisi tadi menggambarkan peran perempuan di semua bidang, ekonomi, sosial dan budaya sangat dibutuhkan, bahakan di bidang ekonomi dominasi peran perempuan dipandangnya sangatlah luar biasa," katanya.

Sebelum pembacaan puisi, juga telah dipentaskan sebuah lakon perempuan dalam dunia ekonomi yang dibawakan teater Sintenasmane. Penjual sayur dan pengasong di kereta api menggambarkan kerja keras perjuangan hidup perempuan demi menafkahi keluarganya.
18 Mar 2010 20:34 WIB : Berita Foto

Konseling Bukan Pemberian Informasi

Pamuji, bukan nama sebenarnya (60) merasa bingung dengan statusnya, saat mendapat diagnosa HIV positif dari Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Yogyakarta. Sekalipun ia telah mendapat rujukan dan mengakses layanan CST di RSUP. DR Sardjito. "Informasi yang diberikan belum Jelas," ujarnya di Griya lentera PKBI, kemarin.

15 Mar 2010 16:24 WIB : Wawancara Eksklusif

Organisasi Komunitas Sebagai Basis Gerakan

Gerakan LGBT belakangan ini semakin menguat. Di sisi lain, stigmatisasi juga semakin mengeras. Bagaimana startegi komunitas LGBT dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi? Berikut wawancara Hadziq Jauhary dari Swaranusa Biro Jawa Tengah, dengan Orie Lesmana, aktivis hak asasi manusia dari komunitas gay.

Bagaimana gerakan LGBT belakangan ini?

10 Mar 2010 12:43 WIB : Berita Foto

Belenggu Perempuan, Konservatisme Agama Harus Diakhiri

Memperingati Hari Perempuan Internasional, sejumlah lembaga yang tergabung dalam Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) menggelar aksi simpatik di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta (8/3). Aksi ini, mengusung tema Bersatu untuk Kesetaraan, dan mengangkat hak-hak LGBT, pekerja seks dan pekerja rumah tangga. 

JPY mengajak seluruh elemen mayarakat bersatu memperjuangkan kesetaraan dan menuntut pemerintah agar memenuhi hak-hak dasar perempuan. International Women's Day (IWD) 2010 menjadi momentum melakukan evaluasi persoalan-persoalan ketidakadilan gender dan menyadarkan masyarakat untuk melakukan peran kontrol terhadap pemerintah. Khususnya pelanggaran dan perlakuan diskriminatif yang terjadi. JPY meminta pemerintah segera mencabut kebijakan-kebijakan diskriminatif dan memberikan jaminan perlindungan bagi buruh migran, memberikan pengakuan PRT sebagai pekerja formal yang mendapat hak yang dilindungi negara.

“Kita ingin menyuarakan persoalan dari berbagai keberagaman isu, mengingat persoalan perempuan tak pernah berdiri sendiri sebagai persoalan tunggal,” kata Inna Hudaya, Koordinator Peringatan International Women's Day JPY 2010.

Ipeh, Koordinator Lapangan,  mengatakan IWD perempuan harus keluar dari kungkungan dan belenggu sebagai perempuan rumahan. Pelabelan perempuan baik-baik yang tidak keluar rumah, telah membelenggu posisi perempuan mencapai kesetaraan. Belenggu itu dilahirkan dari konservatif agama yang harus segara diakhiri. "Perempuan mulai menyadari atas ketidakadilan yang menimpanya, akibat paham yang masih konservatif terhadap agama," ujarnya.

JPY menilai Kementerian Perempuan dan Anak belum mampu berbuat banyak dalam upaya terciptanya kesetaraan gender di Indonesia. Hal ini merupakan cerminan sikap pemerintah yang belum pro perempuan. Sejumlah kebijakan yang dibuat belum mampu menjalankan amanat bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kebinekaan. JPY menyebutkan data, antara tahun 1999 hingga 2009 ada 154 kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tingkat daerah (19 di tingkat propinsi, 134 di tingkat kabupaten kota dan 1 di tingkat desa) dinilai menjadi sarana pelembagaan diskriminasi terhadap perempuan, dari tujuan dan dampaknya.

JPY juga menilai, selain masalah ras dan kepercayaan, ketimpangan juga terlihat pada kelompok yang dimarginalkan karena orientasi seksual dan identitas gendernya, lesbian, waria dan gay. Munculnya blok-blok mayoritas yang dilanggengkan negara justru makin memperparah kekerasan yang terjadi. Termasuk persoalan pekerja rumah tangga (PRT), buruh migran, hak-hak reproduksi perempuan. Persoalan-persoalan ini menunjukkan pemerintah tidak serius dalam menjalankan mandat Convention on the Elimination Of All Form of Discrimination Againts Women (CEDAW) 1984 yang telah diratifikasi dalam UU No 7 Tahun 1984 dan perjanjian lain yang ditujukan bagi keadilan dan perbaikan hidup perempuan.

"Pemerintah harus mendengar aspirasi mereka," kata Bela dari SMA 10 Yogyakarta, yang mengomentari perjuangan hak-hak perempuan bersama temannya, Ira dan Dien.

Selain aksi simpatik, JPY menggelar sejumlah kegiatan lain seperti diskusi publik, workshop, pemutaran film, seminar, bedah buku dan diakhiri dengan Panggung Kesetaraan "Dramatic Reading CEDAW" pada 18 Maret 2010.

10 Mar 2010 11:59 WIB : Berita Panjang

Format Laporan PKVHI, Langkah Mundur

Dalam penanggulangan HIV dan AIDS data base memegang peranan sangat penting. Sayangnya, sampai saat ini belum ada data pilah yang bisa mengidentifikasi kunjungan voluntary counseling test (VCT) karena inisiasi sendiri, mandatory (keharusan/paksaan) atau inisiasi petugas kesehatan. Bahkan, belum mampu memastikan  temuan infeksi baru atau lampau.

09 Jan 2010 11:03 WIB : Wawancara Eksklusif

Terpanggil Keinginan Waria Ber-Tuhan

Mayoritas masyarakat memandang komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersek dan Queer (LGBTIQ ) sebagai kelompok menyimpang. Akibatnya, sedikit tokoh agama mau terlibat menjawab kebutuhan religius kelompok LGBTIQ. Komunitas semakin terpinggirkan dan terstigma. Berikut wawancara Novan dari Swara Nusa dengan Abdul Muis Gazali, mahasiswa Magister Pendidikan Pemikiran Islam Universita Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang saat ini menjadi pengajar di Pesantren Waria Al Fattah Yogyakarta.

11 Dec 2009 08:28 WIB : Berita Panjang

Dr. Zulfa: Pemerintah Jangan Lagi Manis Di Bibir

Tahun 2010 menjadi terminasi pertama pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang tinggi. Sementara tahun 2015 menjadi batasan agenda nasional dan internasional untuk pencapaian kesehetan untuk semua orang. Termasuk kesehatan reproduksi dan seksual.

02 Dec 2009 00:30 WIB : Berita Panjang

Tanpa Perspektif Gender dan HAM, Penanggulangan HIV dan AIDS Sia-sia

Puluhan orang dari beberapa organisasi berbasis komunitas (CBO) dan Civil Society Organization (CSO), yang tergabung dalam Solidaritas Peduli AIDS Yogyakarta (SPAY), melakukan aksi damai dengan turun ke jalan memperingati hari AIDS se Dunia, hari ini, di Yogyakarta.

01 Dec 2009 14:13 WIB : Berita Foto

SPAY: Menuntut Segera Akui Pekerja Seks Sebagai Profesi

Tingginya kasus infeksi HIV di Yogyakarta,  sampai September 2009 terdata sebanyak 839 kasus, merupakan dampak dari Stigma HIV dan AUDS sebagai persoalan amoral”. Lalu melahirkan perlakuan diskriminatif.

29 Oct 2009 22:53 WIB : Berita Pendek

Sembilan Tuntutan Remaja Yogyakarta

Forum Komunitas Untuk Keberagaman (FKUB), aliansi SUKMA (Suara Komunitas Untuk Keberagaman) dan Youth Forum DIY melakukan aksi Hari Sumpah Pemuda, kemarin (28/10). Mengusung tema, '81 Tahun Terpasungnya Hak-Hak Remaja', mereka menutup mulut dengan kain hitam.

25 Jul 2009 12:15 WIB : Wawancara Eksklusif

Dialog, Strategi untuk Perjuangan Identitas

Pluralitas (keberagaman) adalah sesuatu yang ada di sekitar kita. Bukan hanya suku, agama, ras, dan antargolongan, pluralitas mencakup banyak hal. Persoalan jender dan orientasi seksual saat ini menjadi isu yang semakin sering dibicarakan. Kelompok minoritas--kelompok di luar kelompok mainstream--berupaya keras supaya keberadaan mereka diterima di masyarakat luas. Lantas upaya apa saja yang perlu dilakukan dalam mengelola keberagaman yang ada? Berikut wawancara Desi Susany dari Swaranusa dengan Listia, S.Ag, M.Hum, seorang peneliti pluralisme di Institute DIAN/Interfidei.

12 Jun 2009 11:11 WIB : Berita Foto

Menggandeng Pemangku Kepentingan

Kantor Berita Swara Nusa Biro Palembang, melakukan sosialisasi Kantor Berita Swara Nusa kepada Stakeholder, pekan lalu. Hadir dalam pertemuan ini para pemangku kepentingan strategis dalam penanggulangan HIV dan AIDS.
01 Jun 2009 19:45 WIB : Berita Pendek

Tanpa Data yang Kuat, Advokasi Lemah

Pengelolaan pengetahuan dan pengalaman penguatan komunitas menjadi perhatian pegiat HIV-AIDS, Gender dan HAM. Selama ini hanya fokus pada penanggulangan HIV-AIDS, melupakan pendokumentasian sebagai media pembelajaran bagi publik dan pemangku kebijakan.

26 May 2009 23:28 WIB : Berita Pendek

Fatwa MUI Tak Selamanya Mencerminkan Syariat

Ketika agama telah bercampur dengan politik, banyak fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) diduga pesanan dari pihak lain. Bau itu agaknya tercium pula dalam kebijakan MUI Tasikmalaya yang akan mentaubatkan 900 kaum gay.

20 May 2009 13:10 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

PPDGJ III, ICD 10 dan DSM-IV

Anggapan bahwa homoseksualitas adalah bentuk dari gangguan kejiwaan tidaklah beralasan.

20 May 2009 10:39 WIB : Hasil Riset dan Investigasi

Studi Diskriminasi terhadap Komunitas LGBT di Indonesia

Stigma dan diskriminasi terhadap komunitas LGBT di Indonesia masih sangat kuat. Dikeluarkannya homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa di dokumen Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) II (1983) dan PPDGJ III (1993) belum mampu membuka kesadaran masyarakat bahwa komunitas gay dan lesbian memiliki hak yang sama dengan komunitas lainnya untuk diakui dan bukanlah komunitas yang menderita gangguan jiwa. Adalah tanggungjawab negara untuk menjamin hak dan perlindungan bagi komunitas LGBT lewat kebijakan yang non-diksriminatif. Berikut adalah dokumen hasil studi yang dilakukan LSM Arus Pelangi yang didukung oleh TIFA Foundation tentang kasus-kasus diskriminasi yang terjadi pada komunitas LGBT di berbagai daerah di Indonesia. Peneliti mengkritisi dan mendesak petanggungjawaban negara yang terlibat dalam menciptakan stigma dan diskriminasi sistemik terhadap komunitas LGBT.

19 May 2009 13:45 WIB : Wawancara Eksklusif

Melawan Homophobia dengan Membangun Jaringan

Homoseksual masih dipahami secara luas sebagai keadaan jiwa yang tidak normal, penyakit mental atau gangguan kejiwaan. Meski pemahaman semacam ini benar, tetapi dalam konteks perkembangan disiplin ilmu psikologi tahun 60-an. Lalu, homophobia muncul menjadi salah satu fenomena dengan menguatnya homoseksual. Berikut wawancara Sulis Styorini, Swara Nusa Biro Surabaya, dengan Maria Mustika, kepala Seksi Advokasi Gaya Nusantara, Surabaya.

19 May 2009 14:30 WIB : Berita Panjang

Jaringan LGBT Yogyakarta, Menuntut Pengakuan Keberagaman Seksual

Jaringan LGBT Yogyakarta, gabungan lembaga peduli hak-hak LGBT, Perempuan, dan Gender menuntut dihapuskannya kekerasan dan tindak diskriminatif berbasis orientasi seksual. Mereka melakukan aksi damai di depan Gedung Agung dan Kantor Pos Besar Malioboro, Yogyakarta, Minggu (17/5).

16 May 2009 12:19 WIB : Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi

Prinsip-prinsip Yogyakarta

Prinsip-Prinsip Yogyakarta (Yogyakarta Principles) lahir melalui forum pertemuan ahli hukum internasional di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tanggal 6 sampai 9 November 2006 . Forum ini menyikapi berbagai masalah standar internasional tentang HAM dan  aplikasinya terhadap isu-isu orientasi seksual dan identitas gender. Dokumen ini memberikan garis besar secara singkat mengenai Prinsip-Prinsip tersebut, serta beberapa contoh aplikasinya.
16 May 2009 01:46 WIB : Berita Foto

Dukungan Seorang Ibu

"Orientasi seksual itu hak pribadi. Hak Asasi Manusia," kata Missatun, ibu dari seorang waria, memberi dukungan terhadap keberagaman orientasi seksual, dalam diskusi rangakaian acara Hari Internasional Anti-Homophobia, Jumat (15/5) di Gedung Pengurus Wilayah NU DIY.
12 May 2009 14:41 WIB : Wawancara Eksklusif

Pentaubatan itu, Memaksakan Kehendak

Gerakan pentaubatan yang hendak dilakukan terhadap komunitas Gay dianggap pemaksaan kehendak. Pasalnya, keragaman orientasi seksual merupakan hak yang melekat dalam diri seseorang. Kekerasan juga sering dialami komunitas Gay dan Waria. Bahkan terjadi juga penangkapan terhadap para pendamping di lapangan. Berikut wawancara Luh de Suryani dari Swara Nusa dengan Sofie, Program Manajer Gaya Dewa Denpasar.

12 May 2009 14:18 WIB : Wawancara Eksklusif

Dialog, Strategi Efektif Perjuangan Gay

Perjuangan identitas dan hak orientasi seksual masih harus menempuh jalan panjang. Para pemangku kepentingan mempertahankan parameternya sendiri. Komunitas Gay berusaha keras tetap eksis dan berusaha meluruskan pandangan masyarakat. Bagaimana gerakan perjuangan identitas mereka? Bagaimana respon mereka terhadap sikap MUI dan Depag Tasikmalaya yang akan membina dan menaubatkan? Berikut penuturan Orry Lesmana, aktivis perjuangan identitas gay dengan Hadziq Jauhary dari Swara Nusa.

12 May 2009 13:31 WIB : Berita Foto

Tindakan MUI Tasikmalaya, Berlebihan

Berbagai pihak menanggapi beragam rencana pentaubatan gay di Tasikmalaya. Prof Dr KH Muslich Shabir, MA dari MUI Jawa Tengah, menilai langkah yang diambil MUI dan Depag Tasikmalaya tepat. Tetapi terlalu ekstrem jika sampai bertaubat.

12 May 2009 00:29 WIB : Wawancara Eksklusif

Menolak Keragaman Orientasi Seksual, Melanggar HAM

Berbagai informasi mengenai keberagaman orientasi seksual memang belum luas, tersampaikan ke masyarakat. Termasuk, soal negeri ini, pernah menjadi tuan rumah pertemuan internasional, yang merumuskan Jogjakarta Principle. Sebuah dokumen internasional, mengenai keragaman orientasi seksual, termasuk agenda tindaknya. Berikut wawancara Surya dengan Muhammad Syukri Darban, aktivis PLU Satu Hati, Yogyakarta. 

08 May 2009 13:48 WIB : Berita Pendek

Perjuangan Identitas, Memerlukan Strategi Persuasif

Rencana MUI Kota Tasikmalaya mengumpulkan 900 orang gay untuk bertaubat dan disembuhkan karena dianggap mengalami ‘gangguan mental’, mendapat reaksi keras dari berbagai pihak, terutama komunitas homoseksual. Apakah reaksi keras ini memang sudah pada tempatnya?

05 May 2009 12:18 WIB : Berita Pendek

MUI Tasikmalaya Dituduh Melakukan Kebohongan Publik

Pernyataan MUI Kota Tasik Malaya mengenai “penyakit mental” terhadap homoseksual [gay-Red], sangat tidak relevan dan mengarah pada kebohongan publik. Sikap seperti ini sangat tidak dapat dibenarkan dan harus ditentang.

Pernyataan itu disampaikan puluhan organisasi yang peduli terhadap keragaman orientasi seksual, di Indonesia, berkaitan dengan kegiatan MUI dan Departemen Agama Kota Tasikmalaya. Dua lembaga ini memiliki rencana mengumpulkan gay untuk dibina karena mereka mengalami penyakit mental. “Tindakan ini menyebabkan pengurangan serta penyimpangan seseorang untuk menikmati hak-haknya,” tulis kelompok ini, yang salah satunya Gaya Nusantara, Surabaya.

05 May 2009 11:56 WIB : Publik

Pernyataan Sikap Penolakan Kegiatan MUI Tasikmalaya

Berbagai organisasi berbasis keragaman orientasi seksual, secara bersama-sama mengeluarkan pernyataan sikap untuk menolak rencana MUI dan Departemen Agama Kota Tasik Malaya mengumpulkan gay untuk di bina, karena gay dianggap sebagai penyakit jiwa.
05 May 2009 09:01 WIB : Berita Pendek

Tindakan Represif Satpol PP Digugat

Komisi D DPRD DIY, hanya bisa berjanji akan melakukan koordinasi berkaitan dengan tindakan represif yang seringkali dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), terhadap komunitas, seperti remaja jalanan, waria dan perempuan pekerja seks.

29 Apr 2009 22:04 WIB : Hasil Riset dan Investigasi

Riset Aksi Bersama Komunitas Waria, PPS, Gay dan Remaja Jalan

Riset ini dilakukan untuk merencanakan program bersama komunitas di Yogyakarta dalam agenda perjuangan identitas dan membangun tindakan kolektif untuk mengurangi prevalensi HIV dan AIDS, stigma dan diskriminasi.
29 Apr 2009 21:26 WIB : Berita Foto

Be A Man Tetap Tayang, KPI Dituduh Mandul

Komunitas Waria Yogyakarta, mengajukan keberatan atas tayangan program Be A Man. Protes dikirim, melalui Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Yogyakarta ketika program ini pertama kali ditayangkan salah satu stasiun televisi. Surat itu sudah dikirimkan ke KPI Pusat, tetapi belum ada kemajuannya. Sonya, dari komunitas waria Yogyakarta, menuduh KPI mandul.

27 Apr 2009 15:28 WIB : Manual

Strategi Pengorganisasian Komunitas

Dalam gerakan perubahan sosial, komunitas merupakan subyek dalam proses advokasinya. Karenanya, community-based organization (CBO) menempati urutan utama dalam melakukan berbagai agenda advokasi itu sendiri. Berikut merupakan gagasan reflektif dalam langkah-langkah pengembangan CBO yang mungkin untuk dilakukan.
26 Apr 2009 01:01 WIB : Berita Foto

Kantor Berita Alternatif untuk Isu Kesehatan Seksual, Reproduksi, Jender, dan HAM

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali bersama 11 PKBI Provinsi lain mendirikan kantor berita alternatif untuk isu kesehatan seksual dan reproduksi, jender, dan hak asasi manusia (HAM) dengan nama SwaraNusa. Kantor berita berbasis online ini disambut sejumlah komunitas. Seperti, komunitas remaja, NGO, dan instansi pemerintah di Bali dengan menyatakan komitmen pengembangan content dan isu. Hal ini terangkum dalam diskusi diseminasi di kantor PKBI Bali, dua pekan silam.

03 Apr 2009 12:47 WIB : Cerita Sukses

Lesson Learnt Program HIV/AIDS di Perempuan Pekerja Seks

Pengalaman proses pelaksanaan program HIV dan AIDS untuk Perempuan Pekerja Seks di Papua New Guine, India dan Bangladesh, merupakan salah contoh keberhasilan pelaksanaan program. Berikut merupakan kisah sukses, yang dirilis oleh UNAIDS.
03 Apr 2009 09:47 WIB : Hasil Riset dan Investigasi

Catatan Riset Aksi Komunitas PKBI DIY Tahun 2007

Untuk merancang program komunikasi yang efektif di kalangan komunitas mitra strategisnya, PKBI DIY melakukan riset aksi bersama komunitas gay, remaja jalanan, waria dan perempuan pekerja seks di Yogyakarta. Riset ini bertujuab sebagai perencanaan bersama komunikasi untuk komunitas mengenai kesehatan reproduksi dan seksual, jender dan Hak Asasi Manusia.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian