Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Wawancara Eksklusif : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.


Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/modules/bin_content-wawancara.php on line 108
06 Oct 2010 12:55 WIB

YOTHA Menolak Gagasan Tes Keperawanan

Natalia Desy Trijayanti
Tempat, tanggal lahir,
Kulon Progo, 28 Dec 1991
Riwayat Pendidikan
SDN Wijimulyo (1998-2003)

SMPN 2 Nanggulan (2003-2006)

SMKN 1 Pengasih (2006-2009)

IKIP PGRI WATES, Prodi BK (2010-sekarang)

Riwayat Karir

-Aktif di Youth Forum (YF) PKBI Cabang Kulon Progo sejak Kelas 1 SMK (pernah menjadi Ketua YF Kulon Progo, ikut berbagai kegiatan remaja seperti hearing, audiensi, dan advokasi isu-isu remaja) (2006-2009)

-Menjadi Pendamping Remaja Sekolah di PKBI Kulon Progo (2009-2010)

-Menjadi Youth Representative dari Youth Association (YOTHA) (2010-sekarang)

Pertengahan September 2010, Bambang Bayu Suseno, anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi, mengeluarkan wacana tentang tes kegadisan atau tes keperjakaan bagi calon siswa SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Menurutnya, hal tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan hubungan seks pada remaja sekolah dengan metode wawancara atau konseling dengan identitas yang dirahasiakan dan tidak ada tes pemeriksaan alat kelamin secara langsung. Lalu pertanyaannya, bagaimana remaja memandang wacana tersebut? Berikut wawancara Andrian Liem dari Biro Swaranusa D.I. Yogyakarta dengan Natalia Desy Trijayanti atau yang akrab disapa Alya, duta remaja (Youth Representative) dari Youth Association (YOTHA) Yogyakarta.

Ada wacana tentang tes kegadisan/tes keperjakaan dari seorang anggota Komisi IV DPRD Jambi bagi syarat masuk sekolah di semua tingkat. Bagaimana jika usulan ini benar-benar diwujudkan? Terlebih lagi anggota dewan tersebut menanggap hal ini penting secara nasional.

Untuk tes keperawanan atau kegadisan bagi para remaja dan anak-anak, menurut saya akan banyak melanggar HAM dan hak kesehatan reproduksi remaja yang sudah kita perjuangkan sejak lama. Di sana ada hak atas tubuh, kerahasiaan pribadi, mendapat informasi yang benar. Jika benar terwujud, tes itu juga akan melanggar hak seksual yang difasilitasi oleh IPPF (International Planned Parenthood Federation) sebagai organisasi keluarga berencana dan kependudukan terbesar di dunia yang pada intinya menekankan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan dalam mengekspresikan kegiatan seksual, otonomi atas tubuh, dan kesempatan untuk mengeksplorasi potensi seksualnya. Ini juga searah dengan The Yogyakarta Principles hak kerahasiaan pribadi yang berkaitan dengan aktivitas seksual.

Bagaimana dengan HAM?

Ya, sangat jelas jika kita melihat Pasal 12 yang intinya menekankan bahwa tidak seorang pun boleh diganggu urusan pribadinya dengan sewenang-wenang. Juga pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya. Lihat juga pasal Pasal 26 ayat (1) dan (2) yang intinya mengatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh pendidikan, dimana pendidikan harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya serta untuk mempertebal penghargaan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan dasar. Jika wacana ini benar-benar terwujud, walau katanya hanya dengan teknik konseling, pada nyatanya toh akan berpotensi menimbulkan stigma bagi remaja yang terbukti tidak perawan lagi. Sementara faktor yang membuat selaput dara sobek itu bukan hanya hubungan seksual. Bisa saja para atlit putri akan mengalami tekanan akibat penetapan aturan tersebut. Pikirkan juga psikologis remaja yang ketahuan tidak perawan lagi, apakah dia masih dapat berkembang secara optimal karena pasti remaja tersebut akan merasa cemas kalau orang lain tahu dan mendiskriminasikannya. Apalagi katanya tes ini sebagai syarat masuk sekolah, padahal jelas-jelas UUD 45 mengatakan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, tapi kok malah muncul wacana seperti ini.

Bayangan anda, bagaimana teknis dari tes ini?

Ya, saya sangat tidak setuju. Kalau dari informasi yang saya dapatkan tes ini memang tidak langsung melihat alat kelamin, hanya konseling atau wawancara. Tapi saat saya membayangkan akan dites atau dikonseling dengan pertanyaan ”Apakah kamu masih perawan?” saya merasa sangat tidak nyaman karena itu rahasia pribadi yang orang lain tidak ada kepentingan untuk mengetahui dengan paksa. Ini juga terkait dengan hak untuk menentukan kapan melakukan hubungan seks atau mempunyai anak. Seperti tadi yang sudah saya bilang bahwa yang tidak perawan pun bisa saja karena kecelakaan atau karena dia seorang atlit yang banyak bergerak.

Nah, di sisi lain kan sebenarnya ini akan menguntungkan remaja yang benar-benar masih masih perawan karena tinggal menjawab ”iya’. Bagaimana Anda menanggapinya?

Saya sendiri belum begitu tahu tentang metode konseling kejiwaan yang akan dilakukan, misalnya apakah akan ditambah dengan tes kejujuran. Tetapi malah saya melihat potensi masalah baru yaitu mendorong remaja untuk berbohong karena kejujuran kan relatif dari pribadi masing-masing. Apalagi ketika konseling ada remaja yang shock, merasa malu, dan tidak berani masuk sekolah karena merasa ada judgement, dibanding-bandingkan, ada bimbingan khusus. Ini kan sudah diskriminasi namanya. Selain itu juga teman-teman remaja akan terhambat dalam berkreatifitas karena terus merasa cemas jika rahasianya diketahui orang lain. Ya bayangkan saja bagaimana sih perasaan kita saat rahasia paling pribadi yang kita punya, ini gak harus selalu tentang keperawanan lho, diketahui oleh orang lain, gak nyaman kan rasanya.

Masih banyak orang yang belum memahami tentang seksualitas. Bagaimana pendapat anda?

Saya rasa memang demikian, buktinya saja tercetus wacana seperti ini. Masih banyak yang menganggap bahwa seksualitas itu hanya berkutat tentang hubungan seks antara laki-laki dan perempuan. Padahal isu-isu di dalam seksual sangatlah luas, misalnya saja kesehatan reproduksi remaja yang selama ini masih diabaikan, informasi yang benar tentang alat-alat kontrasepsi, infeksi menular seksual, hak-hak seksualitas. Masih banyak juga orang yang mikir kalo seksualitas itu identik dengan porno dan vulgar, masalah tabu yang harus ditutupi. Padahal remaja itu secara alamiah mengalami pubertas dimana hormon-hormon meningkat termasuk hormon yang mendorong dorongan seks. Dengan keterbatasan informasi maupun beredarnya mitos-mitos atau informasi yang salah tentang perkembangan tubuh dan psikis mereka, akhirnya remaja ini justru terjerumus pada hal-hal yang dianggap negatif oleh masyarakat. Dan seksualitas itu sebenarnya hal yang sangat pribadi karena terkait dengan otonomi individu atas tubuhnya sendiri.

Jika benar-benar terwujud, apakah ada strategi untuk membebaskan pemahaman yang “bias gender” dalam tes kegadisan/keperjakaan ini?

Walaupun ada juga wacana untuk tes keperjakaan bagi para remaja laki-laki, saya menganggap poin mendasar dari wacana tersebut bukan hanya pada bias gender, tapi pada pelanggaran HAM dan kesehatan reproduksi khususnya. Jadi bagi saya penekanannya bukan pada strategi apa yang dapat menghapus bias gender.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sepertinya pemerintah belum memberikan perhatian serius dalam pemenuhan kebutuhan seksual / reproduksi, menurut Anda bagaimana?

Ya, memang dari wacana tersebut terlihat sekali bahwa pemerintah belum serius memperhatikan masalah kesehatan reproduksi remaja karena kalau boleh saya tawarkan, daripada dilakukan tes keperawanan, bagaimana jika memasukan informasi kesehatan reproduksi sebagai muatan lokal seperti yang telah kita perjuangkan selama ini tapi masih terhambat dan belum ditanggapi dengan serius oleh pemerintah. Dengan melakukan hal tersebut, kita juga telah memenuhi hak kesehatan reproduksi remaja untuk mendapatkan informasi yang benar sehingga dia dapat berperilaku dengan lebih bertanggung-jawab dan tahu resiko dari hubungan seks di usia remaja, bukan karena ditakut-takuti dengan tes seperti ini. Tes keperawanan itu kan katanya juga untuk tes masuk sekolah, nah apakah tidak akan timbul pemahaman bahwa setelah lolos tes dan masuk sekolah berarti boleh melakukan hubungan seks? Ini juga berbahaya, perlu dipikirkan.

Apakah hambatan pendidikan kesehatan reproduksi masuk sekolah itu salah satunya muncul dari pihak yang menganggap kalau diberikan informasi tentang seksualitas justru akan mendorong remaja untuk melakukan hubungan seksual?

Ya, memang masih banyak yang berpikir demikian dan menganggap bahwa itu adalah hal tabu. Mereka tidak melihat banyaknya kasus di sekolah tentang kehamilan tidak diinginkan dan juga pelecehan seksual. Kekhawatiran mereka juga berlebihan ya karena informasi kesehatan reproduksi yang diberikan juga pasti secara ilmiah dan pematerinya juga bukan sembarang orang. Beda jika informasi yang diberi setengah-setengah sehingga membuat remaja justru menjadi penasaran dan salah pemahaman.

Bisa dicontohkan informasi yang setengah-setengah itu?

Misalnya saja mitos-mitos yang beredar dan tidak diberi penjelasan apakah benar atau tidak. Contohnya mitos kalau berhubungan seksual hanya sekali, atau penis tidak sampai masuk ke dalam vagina, tidak akan hamil. Nah ketika ini tidak dijelaskan lebih lanjut, remaja akan mikir kalau hanya sekali, atau penis berada di sekitar vagina saja, maka tidak akan hamil. Padahal nyatanya sperma yang tertumpah di bibir luar vagina pun masih ada kemungkinan untuk mencapai sel telur jika kondisinya mendukung.

Bagaimana dari sisi fasilitas yang telah disediakan pemerintah?

Untuk fasilitas memang sudah ada dari pemerintah, tapi menurut saya belum optimal. Misalnya saja puskemas ramah remaja yang sudah banyak dibangun, tapi nyatanya belum ramah untuk remaja. Bisa diliat dari masih adanya judgemental, stigma, bagi remaja yang mengakses ke layanan tersebut.

Stigma yang muncul seperti apa?

Misalnya saat konseling tentang keputihan, ada stigma bahwa remaja tersebut sudah pernah berhubungan seksual. Padahal kan belum tentu seperti itu. Masih ada juga pandangan-padangan negatif dari pasien lain ketika remaja mengakses layanan tersebut. Kan kesannya kalau ke konseling ramah remaja, timbul pandangan ”Ada masalah apa sih remaja ini?” Selain itu remaja juga masih dipungut biaya dari layanan yang disediakan untuknya, padahal kan remaja belum bisa, atau tepatnya belum boleh, mencari uang. Jadi itulah mengapa saya merasa fasilitas layanan ramah remaja yang disediakan pemerintah belum optimal. Lalu balik ke yang tadi, saya juga heran untuk apa sih tes ini? Toh remaja yang misalnya sudah tidak perawan pun masih bisa berprestasi kan? Tidak ada hubungan antara tidak perawan dan kemampuan kognitif.

kontributor: [Andrian Liem]

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian