Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.


Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/modules/bin_content.php on line 108
  • download halaman
  • cetak halaman
  • kirim halaman ke teman
02 Jul 2012 08:00 WIB

Epidemi HIV dan AIDS di Negara Berkembang

Epidemi HIV menyebar luas pada populasi marginal yang sulit mengakses layanan dan informasi tentang pencegahan HIV dan AIDS (PAHO, 2003). Menurut Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford, (2005) faktor-faktor yang berkontribusi dalam epidemi HIV di negara berkembang adalah laki-laki yang melakukan migrasi internal dalam jumlah besar, penyalahgunaan narkoba suntik, rendahnya sumber informasi kesehatan reproduksi, ketidak-setaraan jender, dan kemiskinan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Kasenga (2010) bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam penularan HIV pada perempuan adalah budaya, ketimpangan jender, layanan kesehatan yang tidak memadai di area pedesaan, dan kemiskinan. Hambatan pencegahan penularan HIV di Asia tidak hanya berasal dari aspek legalitas tetapi juga rendahnya pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas pada remaja (Avert, 2008). Usaha pencegahan lebih difokuskan pada kelompok yang dianggap berisiko tinggi seperti pekerja seks dan pengguna narkoba suntik. Kampanye yang mengasosiasikan HIV sebagai hasil perilaku tidak bermoral dan kejahatan sosial menimbulkan masalah baru yaitu stigma (Hardon, Ooosterhoff, Imelda, Anh, & Hidayana, 2009).

Di Hanoi, faktor penghambat tercapainya akses universal pencegahan HIV dan AIDS adalah stigma dan diskriminasi. Dua hal tersebut terjadi dalam berbagai setting seperti tempat kerja, pusat kesehatan, instansi pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat (UNESCO, 2009). Hasil dari stigma adalah kesehatan yang rendah, penurunan kualitas hidup, kesulitan mengakses layanan kesehatan, dan kekerasan dalam lingkungan kerja (Avert, 2009; Holzemer dkk., 2007; Uys dkk., 2009). Holzemer dkk. menjelaskan bahwa stigma menghambat proses konseling dan tes sukarela untuk mengetahui status HIV seseorang. Secara tidak langsung stigma meningkatkan tingkat kematian dan morbisitas penderita. Kondisi demikian juga terjadi di Indonesia sepertu yang dilaporkan Busza (1999) bahwa keluarga yang memiliki anggota terinfeksi HIV akan memisahkan barang-barang pribadi penderita. Selain itu juga ditemui keluarga yang ditolak oleh lingkungan sekitarnya karena ada anggota keluarga yang terinfeksi HIV. Sebuah LSM di Jakarta mendapat penolakan dari warga sekitar ketika membuka pusat dukungan sosial bagi orang terinfeksi HIV. Di Papua, diskriminasi yang dilakukan masyarakat adalah mengusir orang dengan HIV positif dari komunitasnya dan mengucilkan mereka ke dalam hutan untuk hidup seorang diri (Butt, Morin, Numbery, Peyon, & Goo, 2010). Gambaran ini sejalan dengan survei yang dilakukan di tujuh propinsi oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 terhadap 2.038 rumah tangga yang terdampak HIV. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 72,7% keluarga terdampak HIV bekerja tanpa upah yang layak dan kesulitan memperoleh layanan kesehatan karena ditolak oleh penyedia layanan kesehatan misalnya rumah sakit (Riyadi, 2010). Petugas kesehatan juga terkena efek stigma seperti yang dilaporkan Uys dkk. bahwa bidan yang menangani pasien HIV positif memiliki tingkat depresi, kecemasan, stress, dan takut akan kematian yang lebih tinggi.

Kasenga (2010) mengatakan bahwa perempuan dan anak-anak lebih rentan tertular HIV daripada populasi lainnya. Hal tersebut dapat menjelaskan temuan KPA Nasional yang mencatat kasus kumulatif HIV di kalangan perempuan Indonesia hingga tahun 2010 menunjukkan rekor tertinggi dipegang oleh ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 1.970 kasus (Kompasiana, edisi 9 Februari 2011; Siska, 2011). Di Zimbabwe 90% IRT yang didiagnosa HIV tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi sebelum melakukan tes HIV (Mathole, Lindmark, & Ahiberg, 2006). Kondisi demikian juga terjadi di Indonesia karena menurut Asisten Deputi Pembinaan Kewilayahan KPAN, dari 5.000 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan HIV di Indonesia sekitar 1.300 di antaranya teridentifikasi HIV positif (Sehat News, 2010b). Menurut catatan KPA Propinsi DKI Jakarta hingga Agustus 2010, IRT yang terinfeksi HIV mencapai 12% dari total orang terinfeksi HIV di DKI Jakarta yang berjumlah 1.238 orang (Dimyati, 2011). Di Batam fenomena IRT terinfeksi HIV sudah terjadi sejak tahun 2007 dan pada tahun 2010 ditemukan sebanyak 12 IRT hamil yang tertular HIV dari pasangannya. Kondisi Batam yang berada di daerah perbatasan dan tempat transit membuat mobilitas manusia sangat tinggi sehingga risiko penularan HIV juga semakin besar (Haluan Kepri, 2011). Survei pakar epidemologi Universitas Udayana hingga Oktober 2010 menunjukkan 1,2% dari 56 ribu ibu hamil di Bali terinfeksi HIV atau ada sekitar 673 ibu hamil yang terinfeksi HIV per tahun (Sehat News, 2010a).   

Di Merauke sebanyak 50 ibu hamil diketahui terinfeksi HIV dan sebagian besar diketahui status HIVnya setelah melahirkan sehingga ada enam bayi yang positif tertular. Adanya bayi yang tidak tertular karena ibu mereka telah dideteksi sejak dini dan mendapatkan pendampingan yang komprehensif (Bintang Papua, 2011). Nina, seorang perempuan di Bandung tertular HIV dari suaminya dan kemudian hamil hingga bayinya ikut tertular. Saat itu Nina sama sekali tidak mengetahui tentang HIV dan AIDS, maupun cara penularan dan risiko yang mungkin ditimbulkan. Nina baru mengetahui dirinya positif HIV ketika anaknya sering sakit-sakitan, diperiksakan ke rumah sakit dan dites HIV. Ketika mengetahui anaknya positif HIV, Nina baru menjalani tes dan mendapatkan hasil yang sama (Pesat News, 2011). Di Yogyakarta terdeteksi sebanyak 75 ibu rumah tangga terinfeksi HIV. Dalam berbagai kasus ibu-ibu tersebut terdeteksi pada masa kehamilan. Bahkan ada yang baru terdeteksi saat menjelang persalinan (Kompasiana, edisi 9 Februari 2011). Sayangnya Peraturan Daerah Propinsi DI Yogyakarta Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS tidak ada pasal khusus yang mengatur pencegahan HIV dari-ibu-ke-bayi (prevention from mother to children, PMTCT). Padahal jika tidak mendapatkan penanganan maka diperkirakan 15-30% kemungkinan dapat terjadi penularan dari-ibu-ke-anak saat kehamilan dan bersalin, serta 10-20% ketika menyusui (ICM, 2008).
 

Avert. (2008). Epidemi HIV di ASIA. Diunduh dari http://www.avert.org/aids-asia.htm pada tanggal 20 September 2011.

Avert. (2009). Stigma: Cara untuk Maju. Eenet ASIA Newsletter, 7 (3). Jakarta: Avert.

Bintang Papua. (2011). 50 Ibu Hamil Terinfeksi HIV dan AIDS. Diunduh dari http://bintangpapua.com/ekbis/16833-50-ibu-hamil-terinveksi-hiv-dan-aids- pada tanggal 18 Januari 2012.

Busza, J. (1999). Challenging HIV-Related Stigma and Discrimination in Southeast Asia: Past Successes and Future Priorities. Literature Review. USA: The Population Council.

Butt, L., Morin, J., Numbery, G., Peyon, I., & Goo, A. (2010). Stigma dan HIV/AIDS di Wilayah Pegunungan Papua. Papua: Pusat Studi Kependudukan Universitas Cenderawasih.

Dimyati, V. (2011). 2010, AIDS di Jakarta Capai 1.380 Kasus. Diunduh dari http://www.jurnas.com/news/23224/2010,_AIDS_di_Jakarta_Capai_1380_Kasus/1/Sosial_Budaya/Kesehatan pada tanggal 20 September 2011.

Haluan Kepri. (2011). 12 Ibu Hamil di Batam Tertular HIV/AIDS. Diunduh dari http://www.haluankepri.com/news/batam/8015-12-ibu-hamil-di-batam-tertular-hivaids-.html pada tanggal 18 Januari 2012.

Hardon, A.P., Ooosterhoff, P., Imelda, J.D., Anh, N.T., & Hidayana, I. (2009). Preventing Mother-to-Child Transmission of HIV in Vietnam and Indonesia: Diverging Care Dynamics. Social Science and Medicine, 69, 838-845. doi: 10.1016/j.sosscimed. 2009.05.043.

Holzemer, W.L., Uys, L., Makoae, L., Stewart, A., Phetlhu, R., Dlamini, P.S., Greeff, M., Kohi, T.W., Chirwa, M., Cuca, Y., & Naidoo, J. (2007). A Conceptual Model of HIV/AIDS Stigma from Five African Countries. Jan Original Research: Journal Compilation, 541-551.

ICM. (2008). HIV and AIDS. Position Statement. Glasgow: International Confederation of Midwives.

Kasenga, F. (2010). Makin it Happen: Prevention of Mother to Child Transmission of HIV in Rural Malawi. Global Health Action, 3. doi: 10.3408/gna.v310.1882.

Kermode, M., Holmes, W., Langkham, B., Thomas, M.S., & Gifford, S. (2005). HIV-related Knowledge, Attitudes and Risk Perception amongst Nurses, Doctors, and Other Healthcare Workers in Rural India. Indian J Med Res, 122, 258-264.

Kompasiana edisi 9 Februari 2011. (2011). AIDS Pada Ibu-ibu Rumah Tangga di Yogyakarta. Diunduh dari http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/09/aids-pada-ibu-ibu-rumah-tangga-di-yogyakarta/ pada tanggal 20 September 2011.

Mathole, T., Lindmark, G., & Ahiberg, B.M. (2006). Knowing but not Knowing: Providing Maternity Care in the Context of HIV/AIDS in Rural Zimbabwe. African Journal of AIDS Research, 5 (2), 133-139.

PAHO. (2003). Strengthening Nursing and Midwifery Services for HIV/AIDS Prevention and Control. Consensus Document. USA: Pan American Health Organization.

Pesat News. (2011). Perjuangan Ibu Hamil Penderita HIV. Diunduh dari http://www.pesatnews.com/berita/9617/Perjuangan-Ibu-Hamil-Penderita--HIV.html pada tanggal 18 Januari 2012.

Riyadi, T.A. (2010). Menkokesra Prihatin, ODHA Didiskriminasikan. Diunduh dari http://www.jurnas.com/news/9563/Menkokesra_Prihatin,_ODHA_Didiskriminasikan/3/Sosial_Budaya/Kesehatan pada tanggal 20 September 2011.

Sehat News. (2010a). 1.300 Ibu Hamil Idap HIV/AIDS di Indonesia. Diunduh dari http://sehatnews.com/berita/5525-1300-Ibu-Hamil-Idap-HIVAIDS-Indonesia.html pada tanggal 18 Januari 2012.

Sehat News. (2010b). 600 Lebih Ibu Hamil Mengidap HIV di Bali. Diunduh dari http://sehatnews.com/mobile/berita/5315.html pada tanggal 18 Januari 2012.

Siska. (2011). Indonesia Rangking Lima Terbesar Penderita HIV/AIDS. Diunduh dari http://mediabidan.com/indonesia-rangking-lima-terbesar-penderita-hivaids/ pada tanggal 18 Januari 2012.

UNESCO. (2009). Mengurangi Stigma-Pendidikan bagi Anak-anak Terdampak HIV di Vietnam. Eenet ASIA Newsletter, 7 (2). Jakarta: UNESCO.

 

edL

Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian