Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.


Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/modules/bin_content.php on line 108
  • download halaman
  • cetak halaman
  • kirim halaman ke teman
02 Jul 2012 08:00 WIB

Bidan dan HIV: Risiko dan Tantangan yang Dihadapi

Bidan di berbagai belahan dunia memiliki peran kunci dalam mempromosikan hak dan kesehatan reproduksi untuk mencegah penyakit menular seksual, termasuk HIV dan AIDS (Nordkvist & Pyykkö, 2008). Layanan konseling di poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) memiliki banyak fungsi, yaitu kesempatan memberikan informasi tentang cara penularan dan penanganan HIV dan AIDS, pencegahan dari-ibu-ke-anak, serta mengenalkan konseling dan tes HIV sukarela (Msellati, 2009). Bahkan di Afrika lingkup kerja bidan juga mencakup kunjungan rumah dan layanan ramah remaja (Kasenga, 2010). Bidan di Afrika menjadi tulang punggung pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak dan memiliki jumlah terbesar dalam komunitas petugas kesehatan yang menjadi konsultan perempuan sebelum, saat, dan setelah kehamilannya. Di Swedia, bidan menjadi konselor terkait kehamilan, kesehatan reproduksi, dan kehidupan rumah tangga. Sementara di Amerika Serikat bidan diakui sebagai profesi senior dalam masalah kehamilan dan persalinan. Di Estonia bidan bekerja sesuai dengan standar International Confederation of Midwives (ICM) pada tahun 1990 dan sejak tahun 1999 ditambah dengan memberikan konseling HIV dan konseling keluarga. Menurut WHO pada tahun 1999 bidan membantu persalinan sebanyak 200 kasus setiap tahunnya (Lazarus, Rasch, & Liljestrand, 2005; Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007; Ndikom & Onibokum, 2007; WRATZ, 2006).

Keunggulan bidan dibandingkan profesi kesehatan lainnya adalah karena mereka berhadapan langsung dengan calon ibu dan ibu hamil sehingga dapat menjadi sumber informasi utama mengenai cara penularan dan pencegahan HIV dan AIDS (Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007). Survei kesehatan dan demografi yang dilakukan oleh Pemerintah Thailand pada tahun 2005 menemukan bahwa di desa sekitar 70% calon ibu dan ibu hamil mendapatkan perawatan sebelum kehamilan dari bidan dan di kota prosentasenya naik menjadi 80% (Sasaki, Ali, Sathiarany, Kanal, & Kakimoto, 2010). Uys dkk. (2009) mengatakan bahwa bidan menjadi kelompok indikator terbaik untuk mengukur respon komunitas kesehatan terhadap HIV dan AIDS. Mereka tidak hanya dekat dengan orang yang terinfeksi HIV tetapi juga dapat mengamati stigma yang menimpa pasien maupun petugas kesehatan yang terlibat.

Menurut WHO (dalam PAHO, 2003), bidan dan perawat adalah profesi utama yang dapat mengontrol penularan infeksi HIV dan menyediakan asuhan bagi orang dengan HIV positif. Oleh karena itu bidan dan perawat perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan mensosialisasikan cara penularan dan pencegahan HIV dan AIDS hingga menanggulangi stigma yang ditujukan pada pasien dengan HIV positif maupun diri mereka sendiri. Bidan yang sebagian besar adalah perempuan profesional yang memerlukan edukasi untuk mencegah penyebaran HIV dan memberi perawatan yang memadai bagi pasiennya yang terinfeksi. Mereka memiliki peran kunci sehingga posisi para bidan berada di lini depan dalam kontribusi positif untuk mencegah penularan HIV di lingkungan kerja dan kehidupan pribadi. Peran kunci tersebut dapat diwujudkan dengan selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya (ICM, 2008). Bidan perlu mengetahui tentang HIV dan AIDS secara lebih mendalam (AKBIDYO, 2009) karena menghadapi tiga tantangan, yaitu pelaksanaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang mengharuskan setiap persalinan ditolong oleh bidan, Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tahun 2010, dan meminimalisir penyebaran HIV lewat keluarga khususnya dari-ibu-ke-anak (AKBIDYO, 2011).

Sebagai kelompok berpotensi tinggi menjadi pemimpin dalam pencegahan HIV, bidan memiliki peran sebagai sumber informasi utama untuk mengedukasi pasien tentang penyakit dan perilaku risiko (WHO, 2002). Pada kenyataannya dari 276 bidan dan perawat di Asia Tenggara, 39% di antaranya mengaku tidak pernah mendapatkan edukasi tentang HIV dan AIDS ketika mereka kuliah. Walaupun sebagian besar mengerti cara penularan HIV dan tahu prosedur pencegahan universal, sebanyak 79,7% bidan dan perawat tetap mengatakan bahwa pasien HIV dan AIDS harus mengatakan status HIV mereka ke perawat agar perawat tidak tertular. Survei di Nigeria menunjukkan bahwa petugas kesehatan tidak menyadari potensinya sebagai edukator HIV bagi pasien (Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, & Asuzu, 2008). Studi lain menunjukkan hanya 29% bidan memiliki kepercayaan diri untuk mengangkat isu HIV dan AIDS kepada pengunjung poli KIA sementara sisanya kurang percaya diri mengenai pengetahuan yang mereka miliki (Bennet & Weale, 1997; Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007). Hasil penelitian WHO (2002) menemukan bahwa di Asia Selatan dan Tenggara terdapat lebih dari 800 institusi kebidanan dan keperawatan. Kurikulum di sebagian besar sekolah kebidanan dan keperawatan di Asia Tenggara dirancang sebelum tahun 1990 dan hampir tidak pernah mengalami revisi. Materi mengenai HIV dan AIDS tidak berdiri sendiri tetapi hanya dibahas singkat dalam materi penyakit/infeksi menular seksual.

Di Indonesia tidak ada lembaga khusus yang bertanggung jawab bahwa materi HIV dan AIDS telah dimasukkan ke dalam kurikulum di setiap institusi pendidikan bidan dan perawat. Dalam diskusi terarah yang dilakukan oleh para bidan di Jakarta terungkap bahwa mereka merasa kurangnya pelatihan mengenai pencegahan HIV dan AIDS dari-ibu-ke-anak dan bahkan ada yang sama sekali tidak pernah mendapatkan pelatihan semacam itu. Para bidan mengaku bahwa mereka tidak punya banyak kesempatan untuk memperbaharui pengetahuan mereka tentang HIV dan AIDS serta sumber literatur yang sangat terbatas (Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007). Berdasarkan diskusi kelompok terarah yang diikuti oleh pengajar di sekolah-sekolah kebidanan dan keperawatan di Asia Tenggara diketahui bahwa 90% staf pengajar yang memberi materi HIV dan AIDS tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus mengenai HIV dan AIDS. Peserta diskusi menyimpulkan bahwa bidan dan perawat perlu mendapatkan pelatihan pengelolaan kasus HIV dan AIDS, kurikulum pembelajaran perlu direvisi agar materi HIV dan AIDS mendapat porsi yang lebih besar, bidan dan perawat perlu mendapatkan pelatihan keterampilan konseling dasar dan layanan VCT untuk HIV (Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland; WHO, 2002). WHO (dalam Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, & Asuzu, 2008) menambahkan bahwa edukasi yang komprehensif merupakan modal utama bagi petugas kesehatan untuk menjalankan perannya tersebut. Talashek dkk. (dalam Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, & Asuzu) menegaskan bahwa petugas kesehatan sangat berpotensi sebagai pemimpin dan panutan dalam pencegahan penularan HIV.

Di sisi lain, bidan dan perawat adalah petugas kesehatan yang paling rentan tertular penyakit Hepatitis B, Hepatitis C, TB, dan HIV. Bidan memiliki risiko tertular HIV melalui berbagai cara, misalnya tertusuk jarum atau alat tajam lainnya yang telah terkontaminasi darah mengandung HIV; luka terbuka yang terpapar darah mengandung HIV; terpercik darah mengandung HIV ke membran selaput lendir di mata atau hidung khususnya selama persalinan dan penyuntikan. Penularan HIV kepada bidan ketika membantu proses melahirkan lebih besar risikonya daripada operasi yang dilakukan oleh dokter. Oleh karena itu bidan harus memproteksi dirinya sejak awal meski yang ditangani adalah pasien tanpa HIV positif. (Burke & Madan, 1997; Harian Bhirawa, 2011; Mathole, Lindmark, & Ahiberg, 2006; Mondiwa & Ilauck, 2007; Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, & Akbar-Zadeh, 2011). Waterman dkk. (dalam Burke & Madan) menemukan bahwa 40% mahasiswa kedokteran tidak menyadari tentang risiko terkontaminasi ketika mereka praktik.

Dalam dua dekade terakhir risiko pekerja kesehatan tertular HIV semakin besar. Observasi dan wawancara terhadap 58 bidan di Iran ditemukan bahwa 82,8% mengalami pajanan jarum suntik. WHO (dalam Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, & Akbar-Zadeh, 2011) mengestimasi sekitar 5% kasus HIV baru di negara berkembang menimpa petugas kesehatan yang mengalami kecelakaan jarum suntik dan paparan darah mengandung HIV. Estimasi tersebut akan semakin tinggi pada wilayah Asia jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di dunia. Di Meksiko, kasus HIV yang tercatat pada tahun 1993 sebanyak 12.151 kasus dan 2,9% diderita oleh petugas kesehatan karena terpajan ketika bekerja (Bassey, Elemuwa, & Anukam, 2007). Survei yang dilakukan pada bidan di Amerika selama enam bulan menunjukkan bahwa 74% bidan pernah menyentuh darah pasien dengan tangan telanjang, 51% pernah mengalami percikan darah atau cairan tubuh di wajah, 24% mengalami pajanan jarum suntik, dan hanya 55% bidan yang melakukan prosedur pencegahan universal (Mondiwa & Ilauck, 2007). Hasil penelitian Burke dan Madan (1997) menyimpulkan bahwa dari 293 bidan sebanyak 63 orang mengalami kecelakaan kerja dalam enam bulan terakhir dan hanya 29 di antara mereka yang melapor ke Departemen Kesehatan Inggris. Para bidan yang tidak melaporkan kecelakaan kerja yang dialami karena menurut mereka tidak ada hal yang dapat dilakukan dan hanya membuang-buang waktu. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 36% bidan meremehkan kemungkinan terinfeksi HIV dari kecelakaan jarum suntik. Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, dan Akbar-Zadeh mengatakan bahwa risiko bidan tertular HIV karena terpajan jarum tidak steril adalah 0,3%. Sebuah survei di Nigeria pada tahun 2006 menemukan bahwa kurang dari dua-pertiga petugas kesehatan yang selalu menggunakan peralatan untuk melindungi diri. Pengetahuan para bidan tersebut tentang prosedur pencegahan HIV universal tergolong rendah.

Mathole, Lindmark, dan Ahiberg (2006) menunjukkan bahwa tidak ada panduan yang jelas untuk para petugas kesehatan ketika menghadapi kasus komplikasi dan penyakit yang tidak biasa muncul selama masa kehamilan dan bersalin. Para bidan juga bingung dengan informasi yang kontradiktif mengenai pemberian ASI eksklusif pada ibu hamil dengan HIV positif. Bidan mengungkapkan ketidak-nyamanan dan penolakan mereka merawat perempuan yang dicurigai HIV positif ketika persediaan sarung tangan tidak mencukupi. Petugas kesehatan seperti bidan juga mendapat stigma oleh masyarakat ketika dia menangani pasien terinfeksi HIV. Stigma yang ditujukan kepada bidan berkorelasi negatif dengan kepuasan kerjanya (Uys dkk., 2009). Kurangnya informasi dapat mendorong munculnya ketakutan dan kecemasan bahkan perilaku radikal seperti menyarankan aborsi bagi perempuan yang terinfeksi HIV. Para bidan kemudian merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang ada dan menjadi stress ketika mereka mengingat bahwa profesinya rentan untuk tertular HIV dari pasiennya (Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007). Bidan yang bekerja di bawah tekanan, khususnya ketika menangani pasien HIV dan AIDS memiliki tingkat depresi, kecemasan, stress, dan takut akan kematian yang lebih tinggi, kehilangan minat dalam kebidanan, menahan diri untuk menyentuh klien dan tidak mengijinkan klien menyentuh mereka. Bidan dan perawat terlihat tidak antusias dan kurang empatik karena takut terkontaminasi. Bahkan ada bidan yang menolak menangani ibu hamil dengan HIV positif (Msellati, 2009; Mondiwa & Ilauck, 2007; Uys dkk.).

 

Ajuwon, A., Funmilayo, F., Oladepo, O., Osungbade, K., & Asuzu, M. (2008). Effects of Training Programme on HIV/AIDS Prevention among Primary Health Care Workers in Oyo State, Nigeria. Health Education, 108 (6), 463-474. doi: 10.1108/09654280810910872.

AKBIDYO. (2009). AKBIDYO Latih Bidan Desa Soal HIV/AIDS. Diunduh dari http://kopertis5.org/index.php?p=detail_berita&id=8685 pada tanggal 18 Januari 2012.

AKBIDYO. (2011). Bidan Menolong dan Menyelamatkan Dunia. Diunduh dari http://www.akbidyo.ac.id/bidan_menolong_dan_menyelamatkan_dunia_80.htm pada tanggal 18 Januari 2012.

Bassey, E.B., Elemuwa, C.O., & Anukam, K.C. (2007). Knowledge of, and Attitudes to, Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) among Traditional Birth Attendants (TBAs) in Rural Communities in Cross River State, Nigeria. International Nursing Review, 54, 354-358.

Bennet, C., & Weale, A. (1997). HIV and AIDS Awarness: an Evaluation of a Short Training Programme for Midwives. Journal of Advanced Nursing, 26, 273-282.

Burke, S., & Madan, I. (1997). Contamination Incidents among Doctors and Midwives: Reasons for Non-reporting and Knowledge of Risks. Occup. Med, 47 (8), 357-360.

Harian Bhirawa. (2011). Bersinggungan Langsung, Bidan Rawan Tertular HIV/AIDS. Diunduh dari http://www.harianbhirawa.co.id/publik/32443-bersinggungan-langsung-bidan-rawan-tertular-hivaids pada tanggal 18 Januari 2012.

ICM. (2008). HIV and AIDS. Position Statement. Glasgow: International Confederation of Midwives.

Kasenga, F. (2010). Makin it Happen: Prevention of Mother to Child Transmission of HIV in Rural Malawi. Global Health Action, 3. doi: 10.3408/gna.v310.1882.

Lazarus, J.V., Rasch, V., & Liljestrand, J. (2005). Midwifery at the Crossroads in Estonia: Attitudes of Midwives and Other Key Stakeholders. Acta Obstet Gynecol Scand, 84, 339-348.

Leshabari, S.C., Blystad, A., Paoli, M., & Moland, K.M. (2007). HIV and Infant Feeding Counselling: Challenges Faced by Nurse-Counsellors in Northern Tanzania. Human Resources for Health, 5 (18). doi: 10.1186/1478-4491-5-18.

Mathole, T., Lindmark, G., & Ahiberg, B.M. (2006). Knowing but not Knowing: Providing Maternity Care in the Context of HIV/AIDS in Rural Zimbabwe. African Journal of AIDS Research, 5 (2), 133-139.

Mondiwa, M., & Ilauck, Y. (2007). Malawian Midwives’ Perceptios of Occupational Risk for HIV Infection. Health Care for Women International, 28, 209-223. doi: 10.1080/07399330601179778.

Msellati, P. (2009). Improving Mothers’ Access to PMTCT programs in West Africa: a Public Health Perspective. Social Science and Medicine, 69, 807-812. doi: 10.1016/j.socscimed.2009.05.034.

Ndikom, C.M., & Onibokum, A. (2007). Knowledge and Behaviour of Nurse/Midwives in teh Prevention of Vertical Transmission of HIV in Owerri, Imo State, Nigeria: a Cross-sectional Study. BMC Nursing, 6 (9). doi: 10.1186/1472-6955-6-9.

Nordkvist, H., & Pyykkö, E. (2008). Knowledge, Perceptions and Attitudes among Midwifery Students towards HIV/AIDS in Vietnam. A Minor Field Study Report (Tidak diterbitkan). Swedia: Karolinska Institute.

PAHO. (2003). Strengthening Nursing and Midwifery Services for HIV/AIDS Prevention and Control. Consensus Document. USA: Pan American Health Organization.

Sasaki, Y., Ali, M., Sathiarany, Kanal, K., & Kakimoto, K. (2010). Prevalence and Barriers to HIV testing among Mothers at a Tertiary Care Hospital in Phnom Penh, Cambodia: Barriers to HIV Testing in Phnom Penh, Cambodia. BMC Public Health, 10 (494). doi: 10.1186/1471-2458-10-494.

Simbar, M., Shayan-Menesh, M., Nahidi, F., & Akbar-Zadeh, A. (2011). Health Belief of Midwives about HIV/AIDS Pretection and the Barriers to Reducing Risk of Infection: An Iranian Study. Leadership in Health Services, 24 (2), 106-117. doi: 10/1108/17511.87111112894.

Uys, L.R., Holzemer, W.L., Chirwa, M.L., Dlamini, P.S., Greeff, M., Kohi, T.W., Makoae, L.N., Stewart, A.L., Mullan, J., Phethu, R.D., Wantland, D.H., Durrheim, K.L., Cuca, Y.P., & Naidoo, J.R. (2009). The Development and Validation of the HIV/AIDS Stigma Instrument-Nurse (HASI-N). AIDS Care, 21 (2), 150-159. doi: 10.1080/09540120801982889.

WHO. (2002). Nursing Role in HIV/AIDS Care and Prevention in South-east Asia Region. New Delhi: WHO Regional Office for South-east Asia.

WRATZ. (2006). White Ribbon Alliance, Tanzania ‘Is It Worth it for Tanzania to Invest in Community Midwives?’. Debate Forum Report. Tanzania: White Ribbon Alliance for Safe Motherhood in Tanzania.

 

edL

Berbagi di situs jejaring sosial
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • Reddit
  • MySpace
  • Technorati
  • TwitThis

kontributor: [Andrian Liem]

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian