Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Artikel/Makalah/ Paper/Bahan Presentasi : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.


Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/modules/bin_content.php on line 108
  • download halaman
  • cetak halaman
  • kirim halaman ke teman
02 Jul 2012 08:00 WIB

Pentingnya Pengetahuan tentang HIV dan AIDS pada Bidan

Tingkat pengetahuan tentang HIV pada bidan berkorelasi positif dengan keterampilan sosialisasi kepada pengunjung poli KIA. Hasil penelitian di Kamboja menunjukkan bahwa dari 524 ibu yang berkunjung ke poli KIA hanya 46,5% yang memiliki pengetahuan mendasar tentang HIV dan AIDS (Sasaki, Ali, Sathiarany, Kanal, & Kakimoto, 2010). Di sebuah pedesaan India bernama Dehradun hanya 35,1% ibu hamil yang pernah mendengar tentang HIV dan AIDS. Ibu-ibu hamil tersebut juga memiliki pengetahuan yang rendah tentang HIV dan AIDS. Sebagian besar dari mereka mengetahui HIV dari televisi. Sementara sebuah penelitian di Malawi, radio dan bidan adalah sumber informasi utama bagi ibu hamil mengenai penularan dan penanganan HIV dan AIDS (Negi, Khandpal, Kumar, & Kukreti, 2006). Hasil penelitian Bassey, Elemuwa, dan Anukam (2007) menemukan bahwa sebanyak 34,2% dukun bersalin di negara bagian Cross River mendapatkan informasi mengenai HIV dan AIDS dari pusat kesehatan masyarakat.

Pengetahuan bidan tentang HIV dan AIDS adalah hal penting karena menjadi dasar perubahan perilaku yang positif. Mengurangi stigma dan diskriminasi di layanan kesehatan tidak hanya menyasar sikap dan perilaku pekerja kesehatan tetapi juga perlu memenuhi kebutuhan informasi yang mereka butuhkan terkait HIV dan AIDS (UNAIDS, 2007). Di negara berkembang rendahnya pengetahuan tentang penularan dan pencegahan HIV dan AIDS menjadi faktor penyebab epidemi HIV (Majid dkk., 2010). Pengetahuan dalam hal ini dioperasionalkan sebagai tingkat informasi akurat yang dimiliki bidan tentang penularan HIV dan AIDS secara vertikal atau dari-ibu-ke-anak. Sementara perilaku didefinisikan sebagai tindakan bidan dalam usaha prevensi penularan HIV dan AIDS dari-ibu-ke-anak (Ndikom & Onibokum, 2007). Sherr (dalam Bennet & Weale, 1997) menemukan hasil positif yang signifikan antara pengetahuan tentang HIV dan kesiapan petugas kesehatan dalam memberikan edukasi dan mendeteksi calon ibu dan ibu hamil yang terinfeksi HIV. Ndikom dan Onibokum menyatakan bahwa pengetahuan tentang HIV dan AIDS, usia, dan lamanya pengalaman praktik pada bidan memiliki korelasi positif yang signifikan dengan perilaku sosialisasi HIV dan AIDS yang mereka berikan pada pasiennya. Sementara layanan kesehatan yang tidak pernah mengadakan pelatihan tentang HIV dan AIDS mengaku bahwa mereka kesulitan dalam melayani pasien dengan HIV positif (Reis dkk., 2005). Akan tetapi pengetahuan tentang risiko dan perilaku berisiko tidak otomatis dapat menimbulkan perubahan perilaku pada petugas kesehatan (Somma, Bodiang, Mollet, & Ruedin, 2003). Lymer (dalam Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, & Akbar-Zadeh, 2011) menemukan bahwa pengetahuan yang tinggi dan sikap positif tidak selalu menghasilkan perilaku aman yang dilakukan oleh petugas kesehatan ketika praktik.

WHO menemukan bahwa di Afrika banyak petugas kesehatan yang gagal dalam menjalankan perannya untuk mencegah penularan HIV karena pengetahuan yang rendah, sikap negatif seperti stigma, kurangnya edukasi yang berkelanjutan, serta ketersediaan peralatan kesehatan yang tidak memadai (Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, & Asuzu, 2008). Grellier (dalam Nordkvist & Pyykkö, 2008) melaporkan bahwa hanya 37% mahasiswa kebidanan yang mendapat edukasi tentang HIV di bangku kuliah mereka. Nordkvist dan Pyykkö menemukan bahwa 78% mahasiswa kebidanan di Vietnam tidak mendapatkan edukasi yang memadai tentang HIV dan AIDS ketika kuliah dan 54% calon bidan memiliki pengetahuan yang rendah tentang HIV dan AIDS. Sebanyak 42% calon bidan merasa tidak memiliki pengetahuan yang cukup sehingga mereka kurang percaya diri untuk memberi edukasi pada perempuan yang berkunjung ke poli KIA. Sementara Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford (2005) menemukan 25% bidan tidak memahami bahwa HIV dapat menular lewat pemberian ASI dan 26% tidak mengetahui bahwa penggunaan jarum tidak steril saat membuat tato juga dapat menularkan HIV. Sebanyak 91% bidan sadar bahwa mereka berisiko tertular HIV saat bekerja tetapi para bidan tersebut memiliki estimasi risiko yang terlalu besar. Hasil penelitian Ndikom dan Onibokum (2007) terhadap 155 bidan menemukan bahwa hanya sebanyak 41% bidan yang mendapatkan informasi tentang HIV ketika kuliah. Sebanyak 34,2% bidan memiliki pengetahuan yang rendah mengenai HIV dan AIDS, hanya 51% bidan yang tergolong cukup memahami penyakit tersebut.

Faktor sosial utama yang menjadi penyebab stigma dan diskriminasi adalah rendahnya pemahaman tentang cara penularan HIV (Engender Health, 2004). Ketakutan publik dan kurangnya edukasi tentang HIV mendorong sikap menyalahkan dan penolakan sosial terhadap orang yang terinfeksi HIV (Rintamaki, Davis, Skripkauskas, Bennet, & Wolf, 2006), khususnya pada masyarakat desa karena tingkat pengetahuan tentang HIV di pedesaan tergolong rendah (Msellati, 2009). Hasil studi menunjukkan bahwa petugas kesehatan yang paham tentang cara penularan HIV memiliki sikap negatif atau stigma yang lebih rendah kepada orang dengan HIV positif dibandingkan dengan orang yang memiliki sedikit pengetahuan atau pengetahuan yang keliru tentang cara penularan HIV (Norman, Carr, & Jiménez, 2006; Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, & Akbar-Zadeh, 2011; Wolfe dkk, 2008). Kalichman dan Simbayi (dalam Holzemer dkk., 2007) menemukan bahwa stigma berkorelasi negatif dengan pengetahuan HIV. Petugas kesehatan dengan pengetahuan yang rendah atau keliru mengenai cara penularan HIV memiliki ketakutan yang berlebihan pada orang terinfeksi HIV.

Reis dkk. (2005) menemukan perawat atau bidan yang tidak pernah atau jarang mendapatkan pelatihan tentang penanganan HIV dan AIDS setuju bahwa pasien dengan HIV positif harus memiliki unit terpisah dari pasien lainnya ketika berada di rumah sakit. Dibandingkan dengan doktor, perawat dan bidan memiliki persetujuan lima kali lebih tinggi bahwa orang terinfeksi HIV tidak seharusnya bekerja di sektor kesehatan dan tempat tidur pasien dengan HIV perlu diberi tanda khusus. Bidan dan perawat tersebut juga memiliki persetujuan dua kali lebih tinggi daripada dokter tentang pengetesan HIV pada pasien tanpa perlu persetujuan pasien yang bersangkutan. Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford (2005) melakukan penelitian pada mahasiswa keperawatan di Delhi. Hasil menunjukkan sebanyak 85% mahasiswa merasa perlu diadakan tes HIV rutin bagi kelompok berisiko tinggi, pasien rawat inap di rumah sakit, dan petugas kesehatan. Hasil evaluasi di Afrika mengenai program pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak adalah sebagian besar klinik tidak memiliki tenaga terlatih untuk pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak. Hal ini juga berdampak pada sikap negatif yang ditujukan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang terinfeksi HIV (Peltzer, Phaswana-Mafuya, & Ladzani, 2010).

Sharp dkk. (dalam Bennet & Weale, 1997) menyimpulkan bahwa bidan membutuhkan edukasi spesifik tentang HIV dan AIDS saat menempuh pendidikan kebidanan dan keperawatan. Chinkonde, Sundby, dan Martinson (2009) menyimpulkan bahwa perlu diadakan edukasi berkelanjutan tentang HIV dan AIDS bagi bidan. Hasil diskusi para bidan di Afrika menunjukkan bahwa mereka merasa perlu mendapatkan pelatihan tentang pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak dan perlu diberikan informasi terbaru secara kontinyu (Peltzer, Phaswana-Mafuya, & Ladzani, 2010). Kermode, Holmes, Langkham, Thomas, dan Gifford (2005) juga mengatakan perlunya edukasi tentang cara penularan HIV bagi bidan di pedesaan. Bidan juga perlu mendapatkan materi tentang keterampilan berkomunikasi untuk sosialisasi, serta konseling dan tes HIV secara sukarela (Busza, 1999; Gamazina, Mogilevkina, Parkhomenko, Bishop, Coffey, & Brazg, 2009; Mathole, Lindmark, & Ahiberg, 2006; Ngure, 2006). Hak-hak asasi orang dengan HIV positif juga perlu mendapatkan perhatian khusus (Reis dkk., 2005). Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, dan Asuzu (2008) menambahkan materi tentang stigma dan diskriminasi yang ditujukan pada pasien, keluarga, serta bidan yang bersangkutan.

 

Ajuwon, A., Funmilayo, F., Oladepo, O., Osungbade, K., & Asuzu, M. (2008). Effects of Training Programme on HIV/AIDS Prevention among Primary Health Care Workers in Oyo State, Nigeria. Health Education, 108 (6), 463-474. doi: 10.1108/09654280810910872.

Bassey, E.B., Elemuwa, C.O., & Anukam, K.C. (2007). Knowledge of, and Attitudes to, Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) among Traditional Birth Attendants (TBAs) in Rural Communities in Cross River State, Nigeria. International Nursing Review, 54, 354-358.

Bennet, C., & Weale, A. (1997). HIV and AIDS Awarness: an Evaluation of a Short Training Programme for Midwives. Journal of Advanced Nursing, 26, 273-282.

Busza, J. (1999). Challenging HIV-Related Stigma and Discrimination in Southeast Asia: Past Successes and Future Priorities. Literature Review. USA: The Population Council.

Chinkonde, J.R., Sundby, J., & Martinson, F. (2009). The Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission Programme in Lilongwe, Malawi: Why Do So Many Women Drop Out. Reproductive Health Matters, 17 (33), 143-151.

Engender Health. (2004). Reducing Stigma and Discrimination Related to HIV and AIDS: Training for Health Care Workers. New York: Engender Health.

Gamazina, K., Mogilevkina, I., Parkhomenko, Z., Bishop, A., Coffey, P.S., & Brazg, T. (2009). Improving Quality of Prevention of Mother-to Child-HIV Transmission Services in Ukraine: a Focus on Provider Communication Skills and Linkages to Community-Based Non-Govermental Organizations. Cent Eur J Public Health, 17 (1), 20-24.

Holzemer, W.L., Uys, L., Makoae, L., Stewart, A., Phetlhu, R., Dlamini, P.S., Greeff, M., Kohi, T.W., Chirwa, M., Cuca, Y., & Naidoo, J. (2007). A Conceptual Model of HIV/AIDS Stigma from Five African Countries. Jan Original Research: Journal Compilation, 541-551.

Kermode, M., Holmes, W., Langkham, B., Thomas, M.S., & Gifford, S. (2005). HIV-related Knowledge, Attitudes and Risk Perception amongst Nurses, Doctors, and Other Healthcare Workers in Rural India. Indian J Med Res, 122, 258-264.

Majid, T., Farhad, Y., Sorour, A., Soheila, A., Farnaz, F., Hojjat, Z., & Leili, C. (2010). Preventing Mother-to-Child Transmission of HIV/AIDS: Do Iranian Pregnant Mothres Know about It? J Reprod Infertil, 11 (1), 53-37.

Mathole, T., Lindmark, G., & Ahiberg, B.M. (2006). Knowing but not Knowing: Providing Maternity Care in the Context of HIV/AIDS in Rural Zimbabwe. African Journal of AIDS Research, 5 (2), 133-139.

Msellati, P. (2009). Improving Mothers’ Access to PMTCT programs in West Africa: a Public Health Perspective. Social Science and Medicine, 69, 807-812. doi: 10.1016/j.socscimed.2009.05.034.

Ndikom, C.M., & Onibokum, A. (2007). Knowledge and Behaviour of Nurse/Midwives in teh Prevention of Vertical Transmission of HIV in Owerri, Imo State, Nigeria: a Cross-sectional Study. BMC Nursing, 6 (9). doi: 10.1186/1472-6955-6-9.

Negi, K.S., Khandpal, S.D., Kumar, A., & Kukreti, M. (2006). Knowledge, Attitude and Perception about HIV/AIDS among Pregnant Women in Rural Area of Dehradun. JK Science, 8 (3), 133-138.

Ngure, P. (2006). Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission. Contact, 182, 18-21.

Nordkvist, H., & Pyykkö, E. (2008). Knowledge, Perceptions and Attitudes among Midwifery Students towards HIV/AIDS in Vietnam. A Minor Field Study Report (Tidak diterbitkan). Swedia: Karolinska Institute.

Norman, L.R., Carr, R., & Jiménez, J. (2006). Sexual Stigma and Sympathy: Attitudes toward Person Living with HIV in Jamaica. Culture, Health & Sexuality, 8 (5), 423-433. doi: 10.1080/13691050600

Peltzer, K., Phaswana-Mafuya, N., & Ladzani, R. (2010). Implementation of the National Programme for Prevention of Mother-to-Child Transmission of HIV: a Rapid Assessment in Cacadu District, South Africa. African Journal of AIDS Research, 9 (1), 95-106. doi: 10.2989/16085906.2010.484594.

Reis, C., Heisler, M., Amowitz, L.L., Moreland, R.S., Mafeni, J.O., Anyamele, C., & Iacopino, V. (2005). Discriminatory Attitudes and Practices by Health Workers toward Patients with HIV/AIDS in Nigeria. Plos Med, 2 (8), 743-752.doi: 10.13/1/journal.pmed.0020246.

Rintamaki, L.S., Davis, T.C., Skripkauskas, S., Bennet, C.L., & Wolf, M.S. (2006). Social Stigma Concerns and HIV Medication Adherence. AIDS Patient Care and STDs, 20 (5), 359-368.

Sasaki, Y., Ali, M., Sathiarany, Kanal, K., & Kakimoto, K. (2010). Prevalence and Barriers to HIV testing among Mothers at a Tertiary Care Hospital in Phnom Penh, Cambodia: Barriers to HIV Testing in Phnom Penh, Cambodia. BMC Public Health, 10 (494). doi: 10.1186/1471-2458-10-494.

Simbar, M., Shayan-Menesh, M., Nahidi, F., & Akbar-Zadeh, A. (2011). Health Belief of Midwives about HIV/AIDS Pretection and the Barriers to Reducing Risk of Infection: An Iranian Study. Leadership in Health Services, 24 (2), 106-117. doi: 10/1108/17511.87111112894.

Somma, D.B., Bodiang, C.K., Mollet, S., & Ruedin, L. (2003). The Cultural Approach to HIV/AIDS Prevention. Swiss: Swiss Agency for Development and Cooperation.

UNAIDS. (2007). Reducing HIV Stigma and Discrimination: a Critical Part of National AIDS Programmes. Genewa: Joint United Nations Programme on HIV/AIDS.

Wolfe, W.R., Weiser, S.D., Leiter, K., Steward, W.T., Korte, F.P., Phaladze, N., Iacopino, V., & Heiser, M. (2008). The Impact of Universal Access to Antiretroviral Therapy on HIV Stigma in Botswana. American Journal of Public Health, 98 (10), 1865-1871.

 

edL

Berbagi di situs jejaring sosial
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • Reddit
  • MySpace
  • Technorati
  • TwitThis

kontributor: [Andrian Liem]

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian