Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Hasil Riset dan Investigasi : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.


Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/modules/bin_content.php on line 108
  • download halaman
  • cetak halaman
  • kirim halaman ke teman
20 Mar 2012 00:30 WIB

Keputusan MK tentang UU Perkawinan: Antara Harapan dan Kegundahan

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan uji materiil UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi harapan baru bagi upaya perlindungan anak dan perempuan di luar pernikahan. Keputusan tersebut menegaskan tentang mandat negara untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak pada anak tanpa pembedaan, misalnya pada anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan yang diakui negara. Semangat untuk melindungi perempuan dari perilaku tidak bertanggungjawab laki-laki juga dapat dirasakan.

Fakta tentang tingginya jumlah anak yang lahir di luar pernikahan dan juga perempuan yang memilih tidak menikah dan merawat anaknya seorang diri (orang tua tunggal) harus disikapi secara bijaksana. Advokasi hak anak dan hak perempuan harus dilakukan bersama-sama, tidak boleh mementingkan salah satunya. Upaya perlindungan bagi anak di luar pernikahan juga harus memberikan perlindungan pada perempuan.

Semangat ini tetap harus terus dikawal sehingga bisa dilaksanakan oleh pemerintah. Hal tersebut dikemukakan oleh Odi Salahudin dari Sekretariat Anak Merdeka Indoneia (SAMIN) saat dikonfirmasi oleh Swaranusa.net beberapa waktu lalu. Odi mengingatkan agar aktivis hak anak dan hak perempuan mengawal terus-menerus keputusan ini agar tidak berhenti di keputusan MK saja tetapi juga hingga diimplementasikan. Banyak aturan yang bagus tetapi tidak bisa diimplementasikan, atau peraturan yang pada awalnya berupa pemenuhan hak berubah menjadi kontrol atau pembatasan hak. “Semangat untuk melindungi anak dan perempuan harus diakomodir, harus dikawal ketat. Jika tidak, akan berakhir seperti situasi sekarang”, tegasnya.

Meskipun secara khusus hanya memberikan kepastian hak anak-anak dari stigma, diskriminasi dan pengakuan hak, Odi menegaskan bahwa keputusan ini juga memberikan satu kepastian tentang pemenuhan hak perempuan dalam menentukan bentuk keluarga. Dalam 12 hak kesehatan reproduksi yang dihasilkan dalam International Conference Population Development (ICPD) 1994, salah satu hak adalah membangun dan menentukan bentuk keluarga. “Keputusan itu juga mengakomodir hak seksual perempuan tentang menentukan bentuk keluarga”, tambahnya.

Dalam pengalaman advokasi hak anak di luar pernikahan, keputusan ini memberikan harapan positif. Rina Imawati dari LBH APIK menegaskan bahwa sampai saat ini, kesulitan yang dihadapi dalam advokasi hak anak adalah membuktikan secara yuridis bahwa anak tersebut memiliki hubungan darah (anak kandung–red.) dengan laki-laki yang dituntut. “Selama ini sangat susah bagi kami (LBH APIK–red.) untuk mendapatkan basis pembuktian material yang sah dan legal di mata hukum terkait dengan pemenuhan hak anak oleh ayah kandung”, jelasnya.

Perempuan yang memilih untuk menjadi ibu tunggal sering dihadapkan pada pilihan yang rumit. Walau secara yuridis tidak bermasalah, akte kelahiran dari seorang perempuan tanpa pasangan akan menyebabkan perempuan dan anaknya menanggung beban psikologis yang cukup kental. Cap sebagai perempuan yang tidak mengikuti norma masyarakat umum akan dihadapi seumur hidup, yang juga menimpa sang anak. Akte kelahiran akan digunakan sebagai dasar yuridis untuk menuntut hak kepada negara. Mulai dari pendaftaran sekolah, membuat KTP, hingga mengurus pernikahan harus menyertakan akte kelahiran. Dalam praktiknya, seringkali keberadaan mereka digunjingkan oleh masyarakat karena lahir tanpa ayah dan perempuan tersebut melahirkan tanpa pasangan. “Keterangan sebagai anak dari seorang ibu tanpa suami dalam akte kelahiran akan mengikuti terus menerus dalam kehidupannya kelak. Mulai dari sekolah hingga syarat pernikahan”, tegasnya.

Sebuah Tantangan

Keputusan tersebut memberikan angin segar kepada perjuangan hak anak dan hak perempuan tetapi harus dilanjutkan dengan advokasi lanjut khususnya hak perempuan. Keputusan MK tersebut dikeluarkan pasca uji materiil yang diajukan oleh Machica Mochtar yang menuntut pengakuan status anaknya sebagai anak mantan Menteri Dalam Negeri (alm.) Moerdiono. Machica Mochtar mengajukan uji materiil UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, pasal 2 ayat (2) yang berbunyi “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku” dan pasal 43 ayat (1) berbunyi “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”.

Hasil yang memberikan pengakuan atas hak anak semata, belum memberikan jawaban atas masalah yang dihadapi oleh perempuan dengan pasangan yang tidak menikahinya. Maesur Zaky, direktur eksekutif daerah PKBI DIY, menguraikan bahwa keputusan ini masih saja fokus pada anak, belum memberikan kejelasan atas hak perempuan yang melahirkannya. “Keputusan ini sangat baik, namun masih fokus pada hak anak dan belum memberikan perlindungan yang nyata pada perempuan”, jelasnya.

Perlindungan yang diberikan pada perempuan masih sebatas “peringatan” pada laki-laki agar tidak memperdaya perempuan sehingga menyebabkan lahirnya seorang anak di luar pernikahan. Perilaku tidak bertanggungjawab laki-laki bisa diadukan dengan pasal ini sehingga akan menyebabkan laki-laki berpikir dua kali untuk membangun relasi di luar pernikahan. “Dengan keputusan ini, laki-laki akan berpikir ulang tentang hubungannya dengan perempuan (di luar pernikahan-red.) sehingga potensi kekerasan akan terkurangi”, tegasnya.

Di sisi lain, keputusan ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai dasar yuridis untuk melakukan kekerasan lanjut pada perempuan. Laki-laki bisa menggunakan pasal ini untuk menuntut pengakuan sebagai ayah dari anak yang sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun pada pasangannya atau pengasuhnya (orang tua angkat). Hal ini bisa menyebabkan perempuan (ibu) dan anak kembali menjadi korban kekerasan. Perempuan dipaksa untuk mengingat-ingat trauma karena terabaikan haknya sebagai pasangan dan juga “dipaksa” untuk merawat anaknya seorang diri. Sedangkan anak juga “dipaksa” untuk mengakui keberadaan ayahnya yang selama ini posisinya sudah “dilupakan”, dianggap meninggal, atau sudah tergantikan oleh orang lain (pasangan baru ibunya) atau orang tua angkat.

Redifinisi Makna Pernikahan dan Keluarga

Tantangan demi tantangan dalam upaya pemenuhan hak anak dan perempuan harus selalu didiskusikan dan dicari jawaban strategisnya. Aktivis gerakan perempuan dan gerakan anak harus mulai mendiskusikan ulang tentang konsep pernikahan dan konsep keluarga. Persoalan pernikahan di Indonesia bukanlah persoalan tunggal. Pernikahan sirri, adat, negara, pernikahan beda agama, pernikahan sejenis, dan hubungan tanpa ikatan pernikahan menjadi satu permasalahan lain yang juga perlu diakomodasi.

Seseorang membangun hubungan dengan pasangannya memiliki konsep yang beragam. Tidak semua pasangan adalah heteroseksual sehingga harus dicari jawaban atas persoalan yang dihadapi oleh pasangan homoseksual. Pasangan heteroseksual dan homoseksual memiliki konsep sendiri dalam memandang relasi pernikahan dan dalam membangun keluarga. Satu hal yang pasti adalah perempuan harus mendapatkan perlindungan yang maksimal dari pernikahan maupun di luar pernikahan. “Diskusi tentang mendefinisikan ulang makna pernikahan dan keluarga harus mulai dilakukan sehingga perempuan tidak lagi menjadi korban”, tegas Maezur Zaky.
 
edL
Berbagi di situs jejaring sosial
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • Reddit
  • MySpace
  • Technorati
  • TwitThis

kontributor: [Gama Triono]

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian