Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Berita Panjang : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.


Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/modules/bin_content.php on line 108
  • download halaman
  • cetak halaman
  • kirim halaman ke teman
29 Mar 2010 00:18 WIB

Kesehatan Reproduksi Remaja : Pemerintah Jangan Hanya Berwacana

Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat belakangan ini, memberikan banyak kontribusi dan pengaruh terhadap perkembangan pola pikir remaja, entah positif maupun negatif. Salah satunya, berpengaruh terhadap kehidupan seks mereka. Yang paling kentara saat ini adalah banyaknya remaja yang diketahui sudah melakukan hubungan seks pranikah. Bahkan, setiap tahunnya hal ini menunjukkan adanya tren peningkatan.

Padahal, hubungan seks pranikah berisiko tinggi bagi remaja. Diantaranya menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), potensi penularan HIV dan AIDS, serta penularan infeksi menular seksual lainnya. “Ini tentu menambah beban pemerintah, karena secara tidak langsung, tugas pemerintah menjadi bertambah untuk menangani permasalahan KTD, penyebaran HIV dan AIDS, hingga penyebaran penyakit atau infeksi menular seksual,” kata Sugiri Syarief, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat ketika mengisi kuliah umum di aula Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang, minggu lalu.

Di hadapan mahasiswa, Sugiri menunjukkan contoh dari hasil penelitian perihal perilaku remaja belakangan ini, yang dilakukan di beberapa daerah. Dari penelitian tersebut, didapatkan hasil, sekitar 50 persen remaja di sekitar Jabotabek, Surabaya, Medan, dan Bandung, mengaku telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. “Tak hanya itu, menurut survei komisi nasional perlindungan anak baru-baru ini, diketahui 97 persen remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. Sebanyak 93,7 persen remaja SMP dan SMA juga pernah berciuman, genital simulation, atau oral seks,” katanya.

Bahkan yang mengejutkan, sekitar 62,7 persen remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi dan 21,2 persen remaja mengaku pernah melakukan penggagalan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan. “Ini sungguh membuat kita prihatin, dan menggugah pemerintah guna meminimalisasi perilaku remaja tersebut,” tutur Sugiri.

Dia memandang, semua itu tak terlepas dari sifat remaja yang sedang dalam proses pertumbuhan dan pengembangan dalam mencari jati dirinya. Akhirnya, mereka berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya, terutama perihal kehidupan seksual. Alhasil, tidak sedikit di antara mereka yang justru mendapatkan informasi bukan dari sumber yang benar. “Sehingga, mereka justru terjerumus ke dalam permasalahan baru, bukan menyelesaikan masalah yang sedang menggelayutinya atau menjawab pertanyaan yang mengendap di pikirannya. Misalnya saja, perilaku seks bebas, penggunaan narkoba, dan lainnya, yang bisa memengaruhi penurunan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya.

Untuk itu, semasa kepemimpinan Sugiri, BKKBN berusaha mengawal perilaku remaja dan membimbing mereka supaya bisa melalui kehidupan seksual yang benar dan tidak terbawa ke perilaku seksual yang berisiko tinggi. “Salah satunya, kami terus menyosialisasikan kebijakan ‘Tegar Remaja’ dalam rangka tegar keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera,” tuturnya.

Sugiri menjelaskan, ‘tegar remaja’ merupakan remaja yang menunda usia pernikahan, berperilaku sehat, terhindar dari risiko seksualitas, HIV dan AIDS, napza, bercita-cita mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera. Selain itu, bisa menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, diperlukan upaya yang dinamakan program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR), melalui pusat informasi dan konseling mahasiswa (PIK mahasiswa), yang dikelola dari, oleh, dan untuk mahasiswa, dalam memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang penyiapan kehidupan berkeluarga. “Sehingga, peran mahasiswa nggak hanya sebagai pengelola, tapi juga pendidik, sekaligus konselor sebaya,” tuturnya.

Dia menuturkan, upaya yang dilakukannya itu selain membimbing remaja meningkatkan potensi diri dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang kini berkembang pesat, juga sebagai langkah membatasi jumlah kelahiran di tanah air. “Karena, kalau remaja sudah terbiasa menjalani kehidupan seksual yang baik dan tidak melakukan kegiatan seksual yang berisiko tinggi, bisa meminimalisasi kelahiran anak, sehingga harapan agar di negeri ini tidak terjadi ‘baby booming’, bisa betul-betul terwujud,” katanya.

Menurut Sugiri, kepedulian terhadap program keluarga berencana (KB), bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah maupun mereka yang telah berkeluarga. Lebih dari itu, pelajar dan mahasiswa juga memiliki peran penting untuk menyukseskan program KB. ”Penyiapan kehidupan berkeluarga harus dilakukan sejak dini. Terutama, bagi pelajar dan mahasiswa. Tanpa peran akif mereka, program KB jelas tidak akan berjalan optimal,” tuturnya.

Program pemerintah melalui BKKBN itu direspon positif oleh Sri Mulyati. Sri memandang, sudah seharusnya pemerintah berperan membantu remaja menanggulangi perkembangan teknologi yang selama ini begitu massif menyerang remaja, terutama pengaruh yang buruk. “Tapi, saya harap pemerintah tak hanya rapi dalam tataran wacana. Dalam implementasi, harusnya pemerintah juga serius mewujudkan konsep-konsep tersebut,” ujar Yati, panggilan akrabnya, ketika dihubungi terpisah.

 

Padahal, hubungan seks pranikah berisiko tinggi bagi remaja. Diantaranya menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), potensi penularan HIV dan AIDS, serta penularan infeksi menular seksual lainnya. “Ini tentu menambah beban pemerintah, karena secara tidak langsung, tugas pemerintah menjadi bertambah untuk menangani permasalahan KTD, penyebaran HIV dan AIDS, hingga penyebaran penyakit atau infeksi menular seksual,” kata Sugiri Syarief, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat ketika mengisi kuliah umum di aula Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang, minggu lalu.

Di hadapan mahasiswa, Sugiri menunjukkan contoh dari hasil penelitian perihal perilaku remaja belakangan ini, yang dilakukan di beberapa daerah. Dari penelitian tersebut, didapatkan hasil, sekitar 50 persen remaja di sekitar Jabotabek, Surabaya, Medan, dan Bandung, mengaku telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. “Tak hanya itu, menurut survei komisi nasional perlindungan anak baru-baru ini, diketahui 97 persen remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. Sebanyak 93,7 persen remaja SMP dan SMA juga pernah berciuman, genital simulation, atau oral seks,” katanya.

Bahkan yang mengejutkan, sekitar 62,7 persen remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi dan 21,2 persen remaja mengaku pernah melakukan penggagalan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan. “Ini sungguh membuat kita prihatin, dan menggugah pemerintah guna meminimalisasi perilaku remaja tersebut,” tutur Sugiri.

Dia memandang, semua itu tak terlepas dari sifat remaja yang sedang dalam proses pertumbuhan dan pengembangan dalam mencari jati dirinya. Akhirnya, mereka berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya, terutama perihal kehidupan seksual. Alhasil, tidak sedikit di antara mereka yang justru mendapatkan informasi bukan dari sumber yang benar. “Sehingga, mereka justru terjerumus ke dalam permasalahan baru, bukan menyelesaikan masalah yang sedang menggelayutinya atau menjawab pertanyaan yang mengendap di pikirannya. Misalnya saja, perilaku seks bebas, penggunaan narkoba, dan lainnya, yang bisa memengaruhi penurunan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya.

Untuk itu, semasa kepemimpinan Sugiri, BKKBN berusaha mengawal perilaku remaja dan membimbing mereka supaya bisa melalui kehidupan seksual yang benar dan tidak terbawa ke perilaku seksual yang berisiko tinggi. “Salah satunya, kami terus menyosialisasikan kebijakan ‘Tegar Remaja’ dalam rangka tegar keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera,” tuturnya.

Sugiri menjelaskan, ‘tegar remaja’ merupakan remaja yang menunda usia pernikahan, berperilaku sehat, terhindar dari risiko seksualitas, HIV dan AIDS, napza, bercita-cita mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera. Selain itu, bisa menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, diperlukan upaya yang dinamakan program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR), melalui pusat informasi dan konseling mahasiswa (PIK mahasiswa), yang dikelola dari, oleh, dan untuk mahasiswa, dalam memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang penyiapan kehidupan berkeluarga. “Sehingga, peran mahasiswa nggak hanya sebagai pengelola, tapi juga pendidik, sekaligus konselor sebaya,” tuturnya.

Dia menuturkan, upaya yang dilakukannya itu selain membimbing remaja meningkatkan potensi diri dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang kini berkembang pesat, juga sebagai langkah membatasi jumlah kelahiran di tanah air. “Karena, kalau remaja sudah terbiasa menjalani kehidupan seksual yang baik dan tidak melakukan kegiatan seksual yang berisiko tinggi, bisa meminimalisasi kelahiran anak, sehingga harapan agar di negeri ini tidak terjadi ‘baby booming’, bisa betul-betul terwujud,” katanya.

Menurut Sugiri, kepedulian terhadap program keluarga berencana (KB), bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah maupun mereka yang telah berkeluarga. Lebih dari itu, pelajar dan mahasiswa juga memiliki peran penting untuk menyukseskan program KB. ”Penyiapan kehidupan berkeluarga harus dilakukan sejak dini. Terutama, bagi pelajar dan mahasiswa. Tanpa peran akif mereka, program KB jelas tidak akan berjalan optimal,” tuturnya.

Program pemerintah melalui BKKBN itu direspon positif oleh Sri Mulyati. Sri memandang, sudah seharusnya pemerintah berperan membantu remaja menanggulangi perkembangan teknologi yang selama ini begitu massif menyerang remaja, terutama pengaruh yang buruk. “Tapi, saya harap pemerintah tak hanya rapi dalam tataran wacana. Dalam implementasi, harusnya pemerintah juga serius mewujudkan konsep-konsep tersebut,” ujar Yati, panggilan akrabnya, ketika dihubungi terpisah.

Yati menilai, remaja saat ini memang butuh pengawalan dan pendampingan dalam melalui kehidupannya, terutama perihal perilaku seksualnya. “Saya seringkali dicurhati remaja perihal perilaku seksualnya, yang dilakukan saat masa pacaran. Mereka mengungkapkan perilaku seperti ciuman dan raba-rabaan sekitar daerah tubuh sensisitif, sudah menjadi menu utama saat berpacaran,” katanya. Kalau remaja sudah diberikan pengertian perihal kehidupan seksual yang baik, Yati optimis kehamilan yang tidak diinginkan ataupun penyebaran HIV dan AIDS di kalangan remaja, bisa diminimalisasi.

Sebetulnya, remaja sangat membutuhkan informasi yang benar perihal seksualitas. Karena orang tua mereka jarang, bahkan tidak pernah sama sekali memberikan informasi perihal seksualitas, atau melarang mereka bertanya perihal seksualitas, akhirnya mereka mencari informasi di luar untuk menjawab rasa penasaran mereka. “Inilah yang berbahaya dan tak boleh kita langgengkan terus-menerus. Masing-masing orang tua harus menyadari bahwa anaknya butuh informasi seksualitas yang benar dari dirinya,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini pemerintah selalu muluk-muluk menyusun program, tapi dalam implementasi di lapangan, seringkali program itu tidak terwujud. Atau kalau terlaksana, program itu hanya dilaksanakan setengah-setengah dan tidak membawa dampak positif bagi masyarakat. Tak jauh beda pula dengan program-program yang ditujukan kepada remaja.
Berbagi di situs jejaring sosial
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • Reddit
  • MySpace
  • Technorati
  • TwitThis

kontributor: [Hadziq Jauhary]

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian