Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/swaranus/public_html/common/dbconn.php on line 12
Berita Panjang : Kantor Berita Swaranusa

Pekerja Jalanan Ingin Jalanan Aman Bagi Semua : “Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kaki lima Menjajakan sajian khas berselera Orang duduk bersila Musisi jalanan mulai beraksi Seiring laraku kehilanganmu Merintih sendiri Ditelan deru kotamu” Lagu Yogyakarta yang dipopulerkan oleh Kla Project ini menggema di Gedung DPRD Provinsi DIY pada kegiatan Temu Budaya Jalanan, sebuah pertunjukkan seni yang digelar oleh Kaukus Pekerja Jalanan (KPJ) di Gedung DPRD Provinsi DIY, Minggu (24/02/2013). Budaya Yogyakarta yang istimewa memang cukup tergambarkan dari lagu tersebut, termasuk kehidupan jalanan yang menjadi bagian dari budaya kota ini. “Jalanan adalah tempat untuk hidup dan menjalankan kehidupan. Jalanan adalah ruang bagi mereka untuk mendapatkan hidup, dan dimana mereka dapat menghidupi jalanan. Kreativitas dan potensi komunitas jalanan begitu besar, jika difasilitasi akan menjadi budaya yang unik”, kata Amer, Koordinator Temu Budaya Jalanan. Keunikan ini tampak dari 4 komunitas pengamen jalanan yang ada di Alun-alun Kidul (Komunitas Alkid), Galeria, Jombor dan Tukangan yang menampilkan musik dengan ciri komunitasnya masing-masing. Meskipun sempat diwarnai hujan deras, mereka tetap bersemangat menyuarakan harapan mereka terhadap pemerintah. Harapan anggota KPJ tersebut muncul karena selama ini pemerintah hanya melakukan razia terhadap pekerja jalanan tanpa adanya tindak lanjut yang jelas. Seperti yang dikatakan Rere, anggota komunitas Galeria, “Semoga saja pemerintah memberi pelatihan musik pada kami, gak cuman digaruki (dirazia, red) terus.” Rere sendiri sudah menyukai musik sejak kecil dan menganggap jalanan adalah satu-satunya tempat bagi dia berkreasi dan menunjukkan bakatnya dalam bermusik. Acara Temu Budaya Jalanan ini juga diisi dengan pembacaan orasi oleh seluruh anggota KPJ yang isinya antara lain agar dihentikannya segala bentuk tindakan represif oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, menolak kriminalisasi oleh pemerintah terhadap komunitas jalanan, dipenuhinya hak-hak komunitas jalanan sebagai warga negara, dan tersedianya ruang untuk mencari penghidupan dan mengembangkan potensi. KPJ juga menuntut tersedianya akses layanan publik yang bebas dari stigma dan diskriminasi serta mendukung Yogyakarta yang beragam dan toleran yang menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Selain diharapkan mampu mengajak komunitas jalanan lainnya untuk bergabung dalam menyuarakan kepentingan mereka, kegiatan ini juga dapat menjadi menjadi wadah kreativitas pekerja jalanan, serta menjadi media kampanye untuk mereduksi stigma dan diskriminasi oleh pemerintah dan masyarakat. Agus, anggota komunitas Tukangan, menyatakan dengan tegas bahwa KPJ menolak tindakan represif aparat terhadap pekerja jalanan. ”Kami bukan sampah masyarakat yang harus dibasmi dengan kekerasan. Kami ingin jalanan aman bagi semua dan terpenuhinya hak-hak kami,” kata Agus. OBR Jogja : Untuk melawan tindak kekerasan terhadap perempuan, saat ini ratusan orang akan menari bersama para pejalan kaki di Malioboro Jogjakarta. Terbentuk : JIMI (Jaringan Methadone Indonesia) telah terbentuk sebagai wadah informasi, sosialisasi dan advokasi bagi pengguna methadone. Evaluasi : Peraturan Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY dinilai hanya mengurusi virus, belum menyentuh hak warga negara. Release : Perkumpulan Aksara meluncurkan buku dan film tentang gender dan bencana. Jogja Update : Hari ini, PKBI DIY mengadakan kegiatan Jogja Update untuk mengaji situasi aktual kesehatan dan sosial. Gerakan : Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menggalang gerakan berikan hak pendidikan bagi anak perempuan korban kekerasan seksual dan bentuk kekerasan yang lain.


Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/modules/bin_content.php on line 108
  • download halaman
  • cetak halaman
  • kirim halaman ke teman
18 Jul 2010 15:03 WIB

Press Release: Musyawarah Daerah PKBI DIY 2010

Diskriminasi adalah hantu bagi peradaban manusia. Sejarah telah menyaksikan di mana hantu diskriminasi mewujud, di sana pulalah gerakan mengada. Dan, hanya gerakan sipil lah yang akan mampu menuntaskan perang kemanusiaan melawan diskriminasi. (Catatan Perkumpulan, 2010)

Isu video hubungan seksual dengan pelaku artis yang ramai akhir-akhir ini bukanlah yang pertama, dan mungkin pula, bukan yang terakhir. Akan tetapi, kemunculannya sebagai wacana publik, patut untuk dijadikan sebuah bahan renungan tentang bagaimana sesungguhnya nalar masyarakat kita yang belum sepenuhnya sensitive ketika berhadapan seksualitas dan gender.

Derasnya pemberitaan kasus tersebut ternyata diiringi dengan derasnya kepanikan-kepanikan moral yang melanda institusi-institusi pendidikan dan agama. Muncullah di sana tindakan reaktif yang dipicu terutama oleh pandangan sempit yang dibarengi dengan berjalan model-model control atas tubuh yang berlebihan. Razia Handphone remaja sekolah menguat menyusul razia-razia jenis lain atas tubuh remaja yang  jamak kita temui di media massa, seiring ramainya teriakan moral panic dari tokoh agama, birokrat dan pengambil kebijakan tentang seksualitas remaja.

Moral Panic adalah sebuah cermin belum dewasanya nalar masyarakat kita di dalam ruang seksualitas dan gender. Celakanya, kepanikan jenis ini memiliki akar yang tidak saja religio-kultural akan tetapi sekaligus structural; tidak saja hidup dan dihidupi dalam nalar masyarakat, akan tetapi juga dilanggengkan oleh logika kebijakan public. Implikasi stratejik yang akan muncul adalah terhadangnya usaha-usaha pemenuhan hak reproduksi dan seksual bagi seluruh lapisan warga Negara, terlebih bagi mereka yang selama ini dimarjinalkan dalam konteks seksualitas dan gender. Menelusuri jejak penghadangan Hak-hak ini, kita bisa menilik arus kebijakan dan program negara tentang Kesehatan reproduksi dan Seksual, HIV&AIDS, Gender dan kesehatan pada umumnya.

Kebijakan Kesehatan Reproduksi, khususnya bagi perempuan. Disyahkannya UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan tanggal 14 Oktober 2009, memasuki babak baru dalam upaya pemenuhan Kesehatan Reproduksi dan Seksual. Kebijakan baru ini menjadikan Kesehatan Reproduksi dalam Bab tersendiri, sehingga jauh lebih maju dibandingkan UU sebelumnya (No 23/1992).  

Meski demikian, UU Kesehatan yang baru masih menunjukkan persoalan berkaitan dengan pencapaian Komitmen ICPD Kairo dan target MGD’s tujuan ke-5. Misalnya, pasal yang mengatur pelayanan aborsi masih mengabaikan pengalaman perempuan yang terpaksa menghentikan kehamilannya yang berakar pada problem struktural; batasan moral dan agama diduga akan mempersempit otonomi dan hak perempuan; dan pembatasan layanan dan perlindungan hanya bagi pasangan yang menikah.  

Kesehatan Reproduksi Remaja. Kelompok umur remaja tercatat memiliki jumlah yang signifikan dalam piramida penduduka DIY. Tercatat jumlah remaja (umur 10-24 tahun) berjumlah 816.200 orang

atau sekitar 24,3 % dari total penduduk DIY (BPS, 2008). Jumlah yang signifikan ini ternyata belum dibarengi dengan penguatan kebijakan dan program bagi mereka, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksual. Seksualitas remaja dalam satu sisi selalu dianggap melulu hanya sebagai ancaman, dan di sisi yang lain disempitkan hanya dalam wilayah moral. Luas dan ragamnya dimensi seksualitas remaja belum disikapi secara dewasa dan sensitive sehingga belum dapat menjadi bagian penting dari perencanaan pembangunan dan kependudukan. Yang terjadi di lapangan adalah seakan-akan remaja dijauhkan dari urusan seksualitas, dan secara tidak sadar, sedang melanggar hak-hak reproduksi dan seksual yang dimiliki remaja. Perkumpulan melihat masih belum diberikannya hak informasi di jalur sekolah formal dan layanan kesehatan reproduksi dan seksual secara memadai adalah salah satu bentuk pengabaian hak-hak tersebut.

Keluarga Berencana. Propinsi DIY tercatat sebagai propinsi dengan prestasi KB terbaik nasional. Jika melihat data yang ada, angka rasio keikutsertaan KB tahun 2009 adalah sebesar 78,61 %, dan angka total fertilitas sebesar 1,076 (BKKBN, 2009 dalam LKPJ Gubernur DIY, 2009). Prestasi tersebut masih patut untuk dipersoalkan jika perspektif gender digunakan. Melihat ketimpangan gender dalam program KB adalah hal yang sangat mudah. Angka partisipasi KB laki-laki terhitung masih sangat rendah, yakni 5,6 % di DIY (2008), dan hanya sekitar 1,5 % untuk tingkat nasional (SDKI, 2007).

 

Kebijakan HIV dan AIDS. Tercatat 899 kasus HIV dan AIDS sampai akhir Desember 2009 (P2MK Dinkes DIY, 2009). Kerangka penanggulangan HIV dan AIDS sampai saat ini lebih banyak menekankan faktor risiko sebagai basis kebijakan dan program. Yang dilihat dalam perspektif ini semata-mata  aspek perilaku yang berisiko, dan menempatkan HIV&AIDS semata hanya persoalan kesehatan fisik semata. Yang diurusi oleh kebijakan dan program HIV dan AIDS lebih banyak soal “mengurusi virus” supaya tidak keluar dan berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain. Konsekuensinya adalah bertambahnya cap buruk, yang seringkali diikuti dengan tindak diskriminasi dan kekerasan, yang selalu menimpa komunitas yang selama dipinggirkan secara seksual dan gender, seperti Pekerja Seks dan komunitas LGBT. Ini adalah fakta lain tentang realitas gender dan seksualitas yang gagal disikapi dan dipahami secara dewasa oleh negara.

Semua paparan tentang kebijakan yang menyangkut kesehatan reproduksi dan seksual di atas menunjukkan betapa seksualitas dan gender yang masih diposisikan lebih sebagai “masalah” daripada “potensi” dalam skema pembangunan. Seksualitas masih lebih banyak dikerangkakan lebih banyak pada soal perilaku dan aspek fisik, sedangkan gender masih lebih banyak dimaknai melulu hanya peran. Ruang identitas, baik seksual maupun gender yang beragam, luput dari pembacaan. Keragaman seksualitas dan gender gagal dipahami secara utuh oleh kacamata kebijakan sehingga melahirkan peminggiran dan kekerasan, baik cultural maupun struktural. Dan yang paling kentara dari semua itu adalah diabaikannya hak-hak seksual dan reproduksi warga Negara.

Fakta keragaman yang ada di Propinsi DIY menjadi suatu kekayaan kebudayaan yang patut diapresiasi dan dibanggakan. Keragaman tersebut tidak saja dalam konteks etnis, agama, suku dan golongan, akan tetapi juga keragaman pada konteks seksualitas dan gender. Oleh karena itu, Yogyakarta perlu terus didorong untuk menjelma menjadi sebuah arena kebudayaan di mana penghargaan atas ragam identitas gender (tidak hanya laki-laki dan perempuan) dan ragam orientasi seksual (tidak hanya heteroseksual) menjadi bagian dari keragaman bangsa dan menjadi Hak Asasi Manusia.  Ini menjadi sangat relevan karena salah satu dokumen internasional tentang keragaman seksual dan gender juga lahir di Propinsi DIY tahun 2006, yuang dikenal luas sebagai Yogyakarta Principles.

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta dalam aras gerakanya ingin menegaskan posisi untuk memperjuangkan identitas yang lahir dari iman (keyakinan) institusional perkumpulan. Keyakinan institusional yang  merupakan hasil pergulatan pemikiran  untuk mencari pijakan ideologis  perkumpulan  mungkin baru bisa diberlakukan ditingkatan PKBI DIY namun  menjadi sesuatu yang harus terus dihidupkan sebagai bagian dari  rel perjuangan Perkumpulan di masa mendatang, untuk mendukung bagian dari kepeloporan yang sudah dilakukan pada  masa lalu. Perjuangan yang dilakukan oleh Perkumpulan adalah perjuangan yang dijamin dalam konstitusi, khususnya perjuangan basii komunitas yang dipinggirkan secara seksual dan gender. Hak-hak komunitas tersebut dengan jelas termaktub dalam UUD 1945 pasal 28, yang di antaranya, untuk menyebut beberapa, adalah hak atas rasa aman, hak berserikat, hak terbebas dari kekerasan.

Dengan pembacaan di atas, maka Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Propinsi DIY menyatakan :

1.       Mendorong Negara dan masyarakat untuk mengakui keberagaman gender dan seksualitas

2.       Mendesak pemerintah untuk menerapkan pendidikan  kesehatan reproduksi dan seksual untuk remaja, pasangan usia subur dan pasangan lansia.  

3.       Mendesak pemerintah untuk memberi Layanan kesehatan reproduksi dan seksual untuk setiap orang tanpa batasan usia

4.       Mendesak keseriusan aparat penegak hukum untuk menyelesaikan kasus-kasus kekerasan terhadap komunitas khususnya anak jalanan, waria, pekerja seks dan gay.

5.       Menolak Rancangan Peraturan Perundang-undangan dan kebijakan yang diskriminatif serta mendorong Negara untuk menghapuskan Peraturan Perundang-undangan dan kebijakan yang diskriminatif tersebut.

6.       Mendorong Negara untuk membuat Peraturan Perundang-undangan dan kebijakan yang sensitif gender, seksualitas dan HAM.

7.       Menuntut  Negara untuk memenuhi hak kesehatan reproduksi perempuan dengan tetap mengutamakan perspektif kesetaraan dan keadilan gender. 

Berbagi di situs jejaring sosial
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Webnews
  • Digg
  • del.icio.us
  • Reddit
  • MySpace
  • Technorati
  • TwitThis

kontributor: [Super User]

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

  • <a href='?lang=&rid=47&id=68'>Asystasia Sabathrin C.</a> Orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih
    Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

    Apa itu GANAS?
    GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun 2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

    Tujuan utama GANAS itu sendiri?
    Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu.

    Apa saja kegiatan GANAS selama ini?
    Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI, KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat informasi, seperti diskusi dengan remaja yang mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah. Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

    Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?
    Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

    Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS tidak masuk ke sekolah?
    Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik, agar informasi yang kami berikan dapat diterima dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

    Pandangan anda sendiri terhadap orang yang terinfeksi HIV&AIDS?
    HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan. Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

    Bagaimana harapan anda kedepan?
    Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

    Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?
    Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab.
  • <a href='?lang=&rid=47&id=69'>dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes</a> MEROKOK DAN RESIKO KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA

    Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Halaman Anggota
Username
Password
Lupa Password
Mendaftar
Langganan via Email

Deprecated: Function mysql_numrows() is deprecated in /home/swaranus/public_html/index.php on line 553
Jajak Pendapat
Apa pendapat Anda terhadap peningkatan anak-anak yang terinfeksi HIV?
Kegagalan program PMTCT
KPAN tidak memiliki strategi
Tidak adanya informasi
Editorial
Remaja Hamil itu Korban

Remaja yang hamil seringkali dipojokkan. Jangankan dianggap sebagai korban, stigma justru semakin kuat manakala yang muncul dalam benak adalah remaja yang hamil di luar nikah, masih sekolah pula. Seolah melupakan berapa banyak remaja yang tidak beruntung mengenyam bangku sekolah. Seakan tak sadar berapa banyak perempuan yang menikah saat mereka berusia sangat muda. Faktanya, Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan 46% perempuan menikah pada usia sebelum 20 tahun.

Pesan Singkat
  • 01 03 13 - I'm Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 01 03 13 - I\'m Anonymous:
    kangen nulis disini deh :(
  • 18 10 11 - Andrian:
    Mas Hadiq alamat emailnya apa?
  • 14 10 11 - hadiq:
    To redaksi: Tolong user ID saya di-reset ulang, karena lupa username+password sy dulu. Dikirim ke email sy ya,username+password hasil reset-annya. Mau mncoba aktif lg nih..
  • 30 06 11 - rika:
    http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-13908662 bisa buat bahan diskusi ;)
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 23 06 11 - ilahtea:
    SwaraNusa Go public: sudah adakah wacana agar swaranusa go public?
  • 23 06 11 - Liston:
    lagi on fire nih redaksi
  • 01 06 11 - galink:
    wah.. swaranusa sedang semangat (lagi) nih! =) sukses!
  • 12 05 11 - Andrian:
    @salahsatuwartawan: mohon maaf untuk kesepiannya. Masih dalam masa transisi. Mohon bantuan dan dukungannya untuk kemajuan Swara Nusa. Terima kasih atas pengertiannya. Salam
  • 05 05 11 - salahsatuwartawan:
    sepiiii..gmn nih redaksi swaranusa?gk becus nih ngurusin web ini..
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, "Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian."
  • 18 01 11 - deni:
    Setuju dengan imraatus salihah. Kepada pendukung LGBT aku ucapkan, \"Takutlah pada Allah. Cukuplah kebinasaan kaum Nabi Luth jadi pelajaran buat kalian.\"
  • 09 01 11 - botaq:
    kirim data base kamisekarang
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 02 08 10 - Imroatus Sholihah:
    Masalah penyimpangan perilaku seks di kalangan remaja BUKAN karena kurang pendidikan seks, TAPI KARENA remaja tidak paham aturan agama, mana yang halal, mana yg haram. Bgaimana dia punya pedoman dalam bergaul. Masalah remaja timbul karena sistem liberal dan karut marut di negara ini.
  • 12 06 10 - ilahtea:
    kawan2 swaranusa, kita jadikan isu ini menjadi isu nasional yuk. kumpulkan artikel dan data2 dari berbagai daerah tetang pentingnya pendidikan seks.
  • 11 06 10 - ridho:
    justru karena pemerintah tidak memberikan informasi yg memadai untuk remaja, jadinya remaja mencari informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi
  • 11 06 10 - galink:
    pendidikan seks kan bukan pendidikan buat ngajarin seks? gimana tho??
  • 10 06 10 - ilahtea:
    kawan, perlukah pendidikan seks di sekolah?? kayanya setuju sama mentri pendidikan., anak2 dah lebih jago ngeseks dari film bokep dibanding harus diajarin di sekolah ^_^
  • 06 06 10 - galink:
    benar, negara belum memberikan kontribusi, malah terus melakukan diskriminasi pada LGBT
  • 05 06 10 - ilahtea:
    hanya ada 1 harapan yang tersisa di negri ini.... cinta!!!
  • 01 06 10 - cornel:
    negara kita blm bsa kasih konstribusi buat LGBT, bagaimana tanggapan kalian?
  • 19 05 10 - wete:
    ada problem multikulktural di tengah masyarakat indonesia, meskipun ada pendidikan karakter sifatnya masih lip service...
  • 08 05 10 - polo:
    terus berjuang
  • 07 02 10 - heni:
    toleransi itu penting!!!!
  • 28 12 09 - Hadziq:
    Indahnya dunia kalau kita saling toleransi. Indahnya hidup kalau kita saling menghargai.
BannerAds
Safe Sex50thn PKBIstatistik kasus HIV & AIDS September 2010
Kontak ke SwaraNusa
Pencarian