Kartini, Riwayatmu Dulu

by

Peringatan Hari Kartini bisa jadi salah satu politisasi yang berhasil dilakukan pada era Soeharto dan masih terus terasa dampaknya sampai hari ini. Kritik yang banyak diajukan  terhadap peringatan ini adalah dari sekian banyak pahlawan perempuan Indonesia, kenapa Kartini yang diangkat sebagai simbol emansipasi perempuan.

Kenapa bukan Dewi Sartika, misalnya, yang berhasil mendirikan sekolah untuk perempuan pada 1904 dan diikuti dengan terbangunnya 9 sekolah lain sehingga jumlahnya mencapai separuh dari keseluruhan sekolah di Pasundan? Kenapa bukan Cut Nyak Dien, yang bersedia menikahi Teuku Umar asalkan tetap diijinkan berperang dan setelah suaminya tersebut wafat, ia memimpin pasukan kecilnya di Meulaboh melawan Belanda? Kenapa juga bukan Martha Christina Tiahahu, perempuan muda dari Maluku berani turun ke medan perang dan menyerukan kaum perempuan di seluruh negeri untuk membantu laki-laki melawan penjajah?

Adalah ide-ide Kartini yang sangat progresif yang membuatnya menjadi sosok yang tampak modern di tengah masyarakat Jawa yang pada masa itu bahkan kebanyakan masih buta huruf. Wajar karena Kartini lahir dan besar dalam keluarga priyayi, yang memungkinkannya mencecap pendidikan dan menyerap informasi dari buku-buku berbahasa Belanda. Sayangnya, pemikiran-pemikiran Kartini tentang isu sosial, gugatannya terhadap budaya patriarki, kritiknya terhadap tradisi agama, hanya berhenti dalam surat-suratnya yang ia kirimkan kepada teman-teman Eropanya. Kartini tetap harus tunduk pada tekanan sosial, untuk bersedia dijadikan sebagai istri keempat seorang Bupati Rembang dan setahun kemudian wafat pada usia 25 tahun setelah melahirkan anak pertamanya.

Di sinilah titik ‘lemah’ citra Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan. Atas kepentingan langgengnya patriarki, justru titik ini yang digunakan untuk menggembor-gemborkan sosok ideal perempuan: bolehlah pintar dan berpikiran maju, tapi ya tetap ingat, perempuan itu ujung-ujungnya rumah juga, manut sama suami. Perempuan diperbolehkan memiliki karir dan sukses tapi tetap tidak melupakan keluarga. Dalam isu gender, ini justru dianggap sebagai salah satu pola kekerasan terhadap perempuan. Apa pasal? Karena perempuan selain dibebani urusan rumah tangga, juga dibebani beban karir. Beban ganda yang jarang harus dijalani laki-laki!

Terlepas dari apakah Kartini tidak mewujudkan impiannya karena keburu wafat atau keputusannya untuk bersedia dipoligami adalah tak-tik untuk langkah selanjutnya, peringatan Hari Kartini tetap dapat dijadikan sebagai pijakan bagi gerakan perempuan di Indonesia. Tentu saja bukan dengan berkebaya atau berkonde yang malah menghilangkan esensi dari semangat Kartini yang sesungguhnya, peringatan Hari Kartini adalah moment bagi kita untuk berefleksi sudah sejauh mana hak-hak perempuan diakomodir, sudah sejauh mana kasus kekerasan terhadap perempuan ditanggulangi. Termasuk, apakah para partai politik yang mendaftarkan calon-calon legislatifnya tepat di Hari Kartini itu telah memenuhi kuota 30% caleg perempuan hanya karena formalitas atau memang benar-benar memperhatikan dan memperjuangkan hak-hak perempuan.

Jika patokan keberhasilan perempuan masa kini adalah seperti Kartini, itu sama saja seperti kalau kita berhasil membuat televisi cembung layar hitam putih di era layar sentuh. Jika kondisi perempuan Indonesia masa kini  tetap terkungkung aturan yang bias gender meskipun berpikiran maju, maka, Kartini, riwayatmu dulu masih berulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *