Pascasarjana UGM Membatalkan Bincang Pagi Bersama Irshad Manji

by

Bincang pagi bersama Irshad Manji dengan tema: Agama, Kebebasan, dan Keberanian Moral batal digelar di gedung pascasarjana UGM (9/5). Acara ini merupakan forum diskusi rutin yang dilaksanakan setiap Rabu (Wednesday Forum) dan telah dilaksanakan bertahun-tahun, terang Zainal Abidin Bagir sebagai Direktur Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, UGM. Program studi yang lebih dikenal dengan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) tersebut menjadi penyelenggara bincang pagi dengan Irshad Manji yang seharusnya digelar pukul 08.30 hingga 11.00.

Terlihat sejak pukul 08.00 sekelompok pemuda-pemudi telah berada di pintu masuk gedung pascasarjana dan mobil Satuan Keamanan Kampus juga terlihat siaga di pertigaan menuju Fakultas Teknik UGM. Para calon peserta yang ingin mengikuti diskusi mulai berdatangan ke lantai tiga gedung pascasarjana tetapi hingga pukul 09.00 diskusi juga belum dimulai. Sementara itu di kantor CRCS terlihat sebuah forum kecil yang terdiri dari staff CRCS dan beberapa pihak yang meminta diskusi dibatalkan. Akhirnya pukul 09.33 Direktur CRCS memberikan pernyataan lisan di depan pintu masuk CRCS. Beberapa saat sebelumnya Zainal Abidin Bagir juga telah memberikan pernyataan tertulis dan dimuat pada laman CRCS.

β€œIni dari rektor dan dari direktur sekolah pascasarjana telah menyatakan melarang ini. Jadi acara ini dibatalkan dengan alasan keamanan dan sebagainya. Dari rektor dan direktur sekolah pascasarjana mengatakan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya tidak bisa ngomong lebih jauh dari itu tetapi ini masalahnya sudah sampai di pascasarjana, jadi jika butuh penjelasan lebih lanjut silakan ke sana.”

Ketika Zainal ditanya bagaimana sikap dari CRCS sendiri, dia menjawab bahwa sebenarnya ingin tetap mengadakan diskusi. Akan tetapi larangan dari rektor dan direktur pascasarjana membuatnya menghentikan niat tersebut. Dia sangat kecewa dan khawatir atmosfer akademis di UGM telah ternodai akibat pelarangan ini.

Mengenai isu penodaan agama yang akan terjadi jika diskusi ini dijalankan, Zainal menegaskan bahwa itu tidak akan terjadi. Dia juga menantang orang yang menyebarkan isu tersebut untuk menunjukkan dirinya. Empat tahun lalu CRCS pernah mengundang Irshad Manji untuk menjadi pembicara dan diskusi dapat berjalan dengan lancar, tidak ada pelarangan atau intimidasi dari pihak manapun.

Akhirnya setelah Irshad Manji dievakuasi, calon peserta diskusi meninggalkan lantai tiga dan keluar dari gedung pascasarjana pukul 10.00. Di luar gedung telah ramai massa yang berdemonstrasi menolak kehadiran Irshad maupun kegiatan diskusi dengan dirinya.

Sekelompok pria berjumlah sekitar 15 orang naik ke lantai tiga menuju kantor CRCS pada pukul 11.00. Mereka menanyakan keberadaan Irshad dan diskusi bersama Irshad. Setelah staff CRCS menjelaskan bahwa Irshad telah pergi dan diskusi dibatalkan, kelompok tersebut turun dan duduk-duduk di tangga dekat kolam di bagian depan gedung lengkung. Di sana mereka sempat bersitegang dengan seorang perempuan bernama Dewi yang mengajak berkenalan kelompok tersebut.

Dewi, yang merupakan salah satu calon peserta diskusi, mengira kelompok tersebut adalah mahasiswa yang juga kecewa karena diskusi dibatalkan. Dia ingin berkenalan dan mengajak mereka melayangkan surat terbuka kepada rektor. Akan tetapi kelompok tersebut yang mengetahui bahwa Dewi adalah salah seorang calon peserta, malah bersikap kasar dan menanyakan agama Dewi. Salah seorang laki-laki menggunakan kacamata hitam dari kelompok tersebut juga berkata,”Kalau lesbi ya pasti yang diomongin juga tentang lesbi!” Melihat keributan tersebut, beberapa pegawai dan petugas keamanan keluar dari gedung lengkung dan berusaha melerai.

Di tempat terpisah, Direktur Pascasarjana UGM, Hartono menjelaskan bahwa dirinya menolak pelaksanaan diskusi bersama Irshad Manji karena nilai yang dibawa oleh Irshad belum memiliki nilai yang sesuai dengan nilai luhur Gadjah Mada. Menurut Hartono, kedatangan Irshad Manji ke UGM akan membawa dampak negatif lebih besar dibanding positifnya. Masyarakat Indonesia saat ini, bahkan hingga 50 tahun ke depan, juga dianggap belum siap menerima pemikiran Irshad Manji.

edL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *