Nur Ayu: Akupun Bangga Melihat Anak-Anak Bisa Menari

by
Nur Ayu, Komunitas Waria
Bersama teman-temanya Mbak Nur berlatih menari di Ponpes Waria Al Fatah. (Dok:/SN)

“Aku tidak masalah sih, aku malah merasa seneng, dan bangga pada mereka kalau sampai bisa nari.”

Ungkapan Nur Ayu saat wawancara disela pertemuan Aliansi Waria Peduli Yogyakarta yang dihadiri berbagai komunitas waria di Pondok Pesantren Waria Al Fatah Yogyakarta. Kamis(28/6). Komunitas waria yang hadir dalam pertemuan ini berkesempatan unjuk kemampuan seperti tari, rias, mbatik yang mereka tampilkan secara individu atau kelompok.

Nur Ayu adalah salah satu waria yang memiliki kreativitas menari. Bukan saja piawai menari, Nur Ayu juga mampu berbagi ilmu tari yang dimiliki kepada anak-anak yang ada di sekitar lingkungannya.

Mbak  Nur, begitulah teman-temannya memanggil. Sembari menikmati giliran pentas dari komunitas waria yang lain, Mbak Nur pun berbagi ceritanya kepada Swaranusa.Net.

Sejak kapan Mbak Nur mulai melatih tari?
Sudah 3 bulan lalu.

Berapa anak didik tari Mbak Nur?
15 anak, Tadi yang kesini hanya 5 anak, Yang 2 sudah pulang duluan. Kalau aku ajak semua kesini kan ya kasian orangtuanya harus ngantar jauh kesini. Kalau pun ikut semua, nanti tempatnya ini tidak cukup.

Kenapa sih Mbak Nur mau melatih anak-anak menari?
aku merasa seneng, dan bangga saja, saat bisa melihat mereka bisa nari, dan pentas. Walau kadang aku yang nombok ya. Nombok untuk sewa baju, riasan dan mengantar mereka pentas. Aku tidak masalah sih, aku malah merasa seneng, dan bangga pada mereka kalau sampai bisa nari.

Kesulitan apa yang Mbak Nur hadapi? 
Lumayan sulit ya. Karena perlu pendekatan secara halus. Soalnya ini kan anak-anak. Apalagi di masyarakat, waria dianggap sebagai orang mengerikan, gila. Kita ini dulu sering dikeploki (tepuk tangan hinaan). Namun berjalannya waktu, dengan menari ini, anak-anak mulai terbiasa dengan kita. Bahkan mereka sudah tidak membeda-bedakan antara wanita dengan waria. Saat pentas saja, keluarga mereka (murid tari) banyak yang ikut ngantar. Keluarga mereka kini sudah tidak asing lagi dengan waria.

Mengapa Mbak Nur memilih tari ?
Aku seneng tari sejak kecil. Dulu pernah ikut di sanggar. Dulu saat kecil memang aku sudah berbeda. Teman-teman bermainku perempuan. Aku juga lues saat nari, seperti teman-teman perempuanku. Mereka sudah tahu gerak geriku yang berbeda ini. Tapi mereka membiarkan aku untuk tetap latihan menari. Selain tari aku juga bisa masak. Aku juga mengajari ibu-ibu sekitar rumah untuk masak.

Selain tari kemampuan apa yang Mbak Nur miliki?
Saya bisa masak, dan memiliki usaha. Usahaku ya buat ketringan. Itu nasi kotak yang kalian makan, itu masakanku.

Nur Ayu adalah salah satu waria yang ada di Jogja yang memperlihatkan sisi lain seorang waria. Saat waria dipandang sebagai momok yang menakutkan di masyarakat, tidak memiliki kegiatan positif, hanya dianggap mampu ngamen ecek-ecek di jalanan. Tapi dengan wawancara Yuni, sisi lain waria sebagai individu yang hidup bermasyarakat pun terlihat jelas, tidak ada yang berbeda. Kisah Nur Ayu menunjukan bahwa waria selayaknya masyarakat pada umumnya. Mereka hidup bermasyarakat dengan rukun, saling menghormati, dan saling memberi manfaat satu sama lain.(/wi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *