Pers Rilis – Vonis Korban Perkosaan -Menggugat NEGARA yang masih “DIAM”

by
Ilustrasi Vonis Korban Perkosaan
Ilustrasi Vonis Korban Perkosaan Pic/hukumonline.com

Siaran Pers
Hari Anak Nasional
Menggugat NEGARA yang masih “DIAM”

Anak adalah “setiap manusia” yang belum berumur 18 tahun. Hal tersebut merupakan makna anak dalam Konvensi Hak Anak, yang disetujui dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 20 November 1989. Indonesia meratifikasi KHA melalui Keppres No. 36/1990 tertanggal 25 Agustus 1990. Dan Indonesia terikat pada ketentuan-ketentuan Konvensi Hak Anak terhitung sejak 5 Oktober 1990.yang diratifikasi Indonesia .

  • Prinsip-prinsip Konvensi Hak Anak
    • Non-diskriminasi (= prinsip universalitas HAM)
    • Hak hidup, kelangsungan hidup & perkembangan (= prinsip indivisibilitas HAM)
    • Kepentingan terbaik bagi anak
    • Partisipasi anak

Di Indonesia kasus kekerasan seksual setiap tahun mengalami peningkatan, korbannya bukan hanya dari kalangan dewasa saja sekarang sudah merambah ke remaja, anak-anak bahkan balita. Fenomena kekerasan seksual terhadap anak semakin sering terjadi dan menjadi global hampir di berbagai negara. Kasus kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan tersebut tidak hanya dari segi kuantitas atau jumlah kasus yang terjadi, bahkan juga dari kualitas. Dan yang lebih tragis lagi pelakunya adalah kebanyakan dari lingkungan keluarga atau lingkungan sekitar anak itu berada, antara lain di dalam rumahnya sendiri, sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial anak.

Berdasarkan CATAHU Komnas Perempuan tahun 2018, kekerasan seksual di ranah privat/ personal tahun ini, incest yang paling banyak dengan angka 1.210 kasus, kedua,yakni perkosaan sebanyak 619 kasus, kemudian eksploitasi seksual sebanyak 555 kasus. Dari total 1.210 kasus incest sebanyak 266 kasus (22%) dilaporkan ke polisi dan masuk ke pengadilan sebanyak 160 kasus (13,2%).

Seperti kasus yang baru saja terjadi di Jambi. Seorang anak usia 15 tahun diperkosa oleh kakak kandungnya sendiri sampai mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan dan berujung pada tindakan aborsi. Alih-alih mendapatkan perlindungan, korban justru dihukum penjara 1 tahun.

Dalam kasus ini dapat terlihat bagaimana anak yang menjadi korban malah dikriminalisasikan. Pengadilan telah mengambil sebuah keputusan yang tidak didasarkan pada faktor-faktor yang membuat korban melakukan aborsi. Youth Association (YOTHA) adalah organisasi remaja ragam identitas yang berdiri sejak 18 Juli 2010 dengan visi Terwujudnya tatanan masyarakat dan sistem pemerintahan yang adil,yang menjamin terpenuhinya hak-hak remaja, tanpa membedakan status sosial, status kesehatan, pilihan profesi, orientasi seksual, dan identitas gender yang memiliki kepedulian pada isu Kesehatan seksual dan reproduksi remaja, menyatakan sikap dan rekomendasi

  1. Meminta Korban dibebaskan dari segala tuduhan kriminalisasi karena anak tersebut adalah korban.
  2. Meminta Negara memberikan layanan khusus kepada korban sesuai dengan Konvensi Hak Anak dan UU Perlindungan anak.
  3. Mendorong negara untuk secara penuh memberikan perlindungan pada anak dari kekerasan seksual, khususnya bagi anak yang mengalami kehamilan Tidak Diinginkan.
  4. Mendorong Negara memberikan layanan kesehatan yang ramah remaja dan anak, pemberian pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif, serta perlindungan bagi korban kekerasan.
  5. Mendorong pemerintah, khususnya pemerintah provinsi Jambi untuk tetap menjamin hak pendidikan korban.
  6. Mendesak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, karena akan memberikan kepastian hukum dan memberi perlindungan bagi korban kekerasan seksual;
  7. Mendorong Kepolisian membangun sistem pencegahan cyber yang berkualitas khususnya dalam rangka mencegah kejahatan seksual terhadap anak, serta mengusut tuntas dan menegakkan hukum bagi para pelaku kejahatan seksual anak sesuai dengan prinsip-prinsip hak anak;
  8. Meminta masyarakat dan netizen untuk berhenti melakukan bullying dan menyebarluaskan identitas anak baik sebagai korban maupun pelaku kekerasan seksual dalam setiap informasi yang disebarkan melalui sosial media.

Yogyakarta, 24 Juli 2018 CP : Ramadhani Tareq Kemal Pasha (081809796417)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *