ABC ke SAVE: Pendekatan yang Lebih Komprehensif

by

Saat ini pencegahan HIV secara global dikemas menggunakan pendekatan ABC, yaitu Abstinance (tidak berhubungan seks sama sekali)-Be faithful (setia dengan satu pasangan)-use Condom (menggunakan kondom) yang mulai dikenalkan di sekolah-sekolah Amerika sejak awal 1980-an (Avert, 2005). Audet, Burlison, Moon, Sidat, Vergara, dan Vermund (2010) menjelaskan pencegahan menggunakan pendekatan ABC memiliki beberapa rintangan, khususnya terkait dengan penggunaan kondom. Berdasarkan pesan yang disampaikan oleh media, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa kondom tidak diperlukan dalam hubungan yang dibangun atas rasa cinta dan saling percaya. Selain itu, kondom lebih sering digunakan oleh orang yang senang berganti-ganti pasangan seksual. Konsepsi yang salah tentang kondom juga dapat memicu ketakutan irasional seperti pemimpin agama yang menganggap bahwa kondom merupakan barang produksi Amerika yang dijadikan alat genosida pada bangsa timur. Hasil wawancara kepada laki-laki dengan HIV positif menunjukkan bahwa laki-laki Malawi menolak memakai kondom karena menganggapnya sebagai tanda cinta. Laki-laki yang telah terinfeksi HIV tidak mau memakai kondom karena tidak ingin kehilangan kenikmatan seksual dan hidup (Chinkonde, Sundby, & Martinson, 2009). Hal serupa ditemukan oleh Ratnaningsih (2010) yang menemukan laki-laki Gunung Kidul tidak suka menggunakan kondom karena dianggap tidak praktis. Alasan lain adalah stigma yang melekat pada kondom yang dikaitkan dengan sikap amoral serta menjadi simbol bagi laki-laki yang tidak setia. Penggunaan kondom secara otomatis menempatkan seseorang pada kategori yang tidak setia atau tidak mau menahan hawa nafsunya (Kurian, 2006). Oleh karena itu pendekatan ABC tidak dapat dilakukan sepenuhnya pada kelompok kepercayaan atau agama tertentu, khususnya penggunaan kondom sehingga pada praktiknya hanya tinggal A dan B.

Pendekatan ABC kurang ideal menjawab kompleksitas kehidupan manusia seperti misalnya isu ketimpangan gender dimana perempuan tidak memiliki posisi bernegosiasi (Chinkonde, Sundby, & Martinson, 2009; Kurian, 2006). Tidak melakukan hubungan seksual dan saling setia mungkin cocok untuk beberapa kelompok dan keyakinan tertentu tetapi tidak menjamin sepenuhnya bahwa dua metode tersebut dapat melindungi manusia dari penularan HIV dalam seting komunitas. Menurut Kurian, pendekatan ABC tidak komprehensif dalam mencegah penularan lewat jalur ibu-ke-anak, pengurangan risiko pada penyalahguna narkoba suntik, dan juga transfusi darah yang tidak aman. Pendekatan ini kurang dapat mengatasi isu sosial seperti kemiskinan dan perilaku budaya yang tidak sehat. Selain itu pendekatan ABC bersifat tertutup tanpa mampu menjalin dialog dengan orang yang terinfeksi HIV. Lalu secara teknis, pendekatan ABC hanya berguna dalam bahasa Inggris dan tidak efektif dalam bahasa lain.

 Menurut Chinkonde, Sundby, dan Martinson (2009) perempuan perlu diberdayakan secara ekonomi dan didukung untuk menegosiasikan seks yang lebih aman kepada pasangannya serta mengakses layanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan dini jika terinfeksi HIV. Menyikapi hal tersebut, Jaringan Pemimpin Agama di Afrika yang terinfeksi HIV atau hidup dengan orang yang terinfeksi HIV (ANERELA+) mengembangkan dan mengenalkan pendekatan baru yang lebih komprehensif dalam menangani epidemi HIV. Pada tahun 2003 mereka mengenalkan pendekatan Safer practices-Available medication-Voluntary counselling and testing-Empowerment yang disingkat menjadi SAVE. Awal 2004 UNAIDS merasa perlu adanya pendekatan yang lebih komprehensif untuk mencegah penularan HIV di negara dengan ketidak-setaraan antara perempuan dan laki-laki. UNAIDS kemudian berpendapat bahwa SAVE dapat menjawab kegelisahan mereka (Avert, 2005; Kurian, 2006).

ANERELA+ meyakini bahwa pencegahan HIV tidak akan pernah efektif tanpa perawatan dan dukungan untuk kasus AIDS. Hal inilah yang menjadi konsep dasar pendekatan SAVE yang mengombinasikan pencegahan HIV dan penangangan AIDS. S mencakup abstinence dan juga berbagai intervensi lain yang memiliki bukti ilmiah. Praktik yang aman juga mencakup transfusi darah yang aman, menggunakan penghalang dalam berhubungan seksual,  jarum suntik yang steril, dan melakukan prosedur pencegahan universal. A merujuk pada ketersediaan medis seperti obat ARV bagi yang membutuhkan, pengobatan bagi penyakit oportunistik yang menyertai, serta nutrisi dan air bersih yang memadai. V merujuk pada konseling dan tes HIV secara sukarela. Individu yang mengetahui status HIVnya positif memiliki posisi untuk melindungi dirinya dari penyakit oportunistik yang mengancam dan juga melindungi orang yang mereka sayang dari penularan HIV. Semakin dini status HIV positif maka semakin cepat juga dukungan sosial dan psikologis dapat diberikan kepada mereka sehingga tetap memiliki semangat hidup. E merujuk pada pemberdayaan melalui edukasi. Mustahil membuat perubahan perilaku seksual tanpa menyajikan fakta-fakta yang relevan. Informasi yang tidak akurat dan ketidak-tahuan merupakan dua fakotr utama munculnya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV, keluarganya, maupun petugas kesehatan yang merawat. Edukasi yang diberikan juga harus mencakup pengaturan nutrisi, manajemen stress, dan olahraga yang dibutuhkan.

Audet, C.M., Burlison, J., Moon, T.D., Sidat, M., Vergara, A.E., & Vermund, S.H. (2010). Sociocultural and Epidemiological Aspects of HIV/AIDS in Mozambique. BMC International Health and Human Rights, 10 (15). doi: 10.1186/1472-698x-10-15.

Avert. (2005). The Origin of the ABC Approach. Diunduh dari http://www.avert.org/abc-hiv.htm pada tanggal 18 Januari.

Chinkonde, J.R., Sundby, J., & Martinson, F. (2009). The Prevention of Mother-to-Child HIV Transmission Programme in Lilongwe, Malawi: Why Do So Many Women Drop Out. Reproductive Health Matters, 17 (33), 143-151.

Kurian, M. (2006). ABC, AV or SAVE. Contact, 182, 6-8.

Ratnaningsih, I.T.O. (2010). Dimensi Sosial Kultural dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Pria di Indonesia: Studi Kasus di Dua Kecamatan Wilayah Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. Tesis (tidak diterbitkan). Amsterdam: Amsterdam University.

edL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *