Aborsi Aman: Hak Perempuan atas Tubuhnya

by

Merujuk pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana, aborsi diartikan sebagai pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium perkembangan sebelum masa kehamilan lengkap tercapai (38-40 minggu) atau pengeluaran konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu). Sementara definisi aborsi berdasarkan kesepakatan internasional adalah penghentian kehamilan dengan alasan apapun sebelum buah kehamilan dapat bertahan hidup di luar kandungan ibunya. Pada nyatanya di Indonesia saaat ini hukum tentang aborsi didasarkan pada Hukum Kesehatan tahun 1992. Perempuan hamil diizinkan melakukan aborsi jika dia memiliki surat keterangan dari dokter yang menyatakan kehamilan tersebut membahayakan hidup sang perempuan, surat dari suami atau anggota keluarga yang mengizinkan aborsi, tes laboratorium yang menyatakan perempuan tersebut positif hamil, dan pernyataan yang menjamin bahwa setelah melakukan aborsi perempuan yang bersangkutan akan menggunakan kontrasepsi. Dari syarat tersebut terlihat jelas bahwa perempuan tidak berhak atas tubuhnya sendiri.

Fakta menunjukkan bahwa berjuta perempuan di Indonesia mengalami kehamilan tidak direncanakan (KTD), baik karena menjadi korban pemerkosaan, tidak menggunakan kontrasepsi, maupun karena metode kontrasepsi yang kurang efektif. Sebagian dari perempuan tersebut memilih mengakhiri kehamilannya dengan berbagai pertimbangan yang lebih umum disebut sebagai aborsi. Di Indonesia, pandangan masyarakat tentang aborsi masih merupakan suatu hal negatif dan pemerintah juga menyudutkan perempuan yang melakukan aborsi. Oleh karena itu perempuan hamil yang memilih aborsi melakukannya secara sembunyi-sembunyi yang sebagian besar dari mereka dibantu oleh tenaga-tenaga tidak terlatih melalui pemijatan kandungan dan menguret tanpa prosedur medis yang tepat, serta ramuan yang berbahaya. Usaha perempuan untuk mewujudkan hak atas tubuhnya berisiko pada kematian. Tidak mengherankan bahwa di Asia Tenggara tingkat kematian perempuan akibat aborsi tidak aman menyumbang hingga 16% dari kematian maternal.

Aborsi tidak aman membawa perempuan pada risiko kematian mendadak karena pendarahan hebat, kematian mendadak karena pembiusan yang gagal, sobeknya rahim, kerusakan leher rahim, kanker indung telur, kanker leher rahim, dan infeksi rongga panggul dan pada lapisan rahim. Atas risiko tersebut, sudah sepantasnya perempuan mendapatkan akses aborsi yang aman dan hak atas tubuhnya. Aborsi aman yang dimaksud adalah aborsi yang dilakukan secara aman oleh tenaga medis profesional yang memenuhi standar medis dan tidak membahayakan kehidupan pasien. Indikator dari layanan aborsi aman adalah adanya konseling pra-aborsi, pemeriksaan medis, prosedur aborsi dilakukan oleh dokter atau tenaga medis yang ahli dengan standar medis yang tepat, pemeriksaan pasca aborsi, dan konseling pasca aborsi. Berkaitan dengan hak perempuan atas aborsi yang aman, diadakan sebuah diskusi publik yang merupakan bagian dari kampanye positif bertema “The Right to Live, The Right to Safe Abortion” pada tanggal 16 Januari 2012 di pendopo LkiS Yogyakarta.

Narasumber pertama adalah Faqih yang berasal dari ICRS UGM dan membahas aborsi dari sudut pandang agama Islam. Menurut Faqih, dalam Alquran terdapat larangan jangan membunuh jiwa tetapi definisi dari jiwa itu sendiri belum pasti sehingga ada kemungkinan aborsi dapat dilakukan sebelum usia kandungan mencapai empat bulan ketika roh ditiupkan ke dalam janin. Walau demikian ada aliran yang memiliki pandangan bahwa jiwa telah ada sejak sperma dan sel telur tercipta sehingga embrio berusia satu hari juga telah memiliki jiwa. Kelompok inilah yang mengharamkan dilakukannya aborsi dalam periode kapanpun.

Narasumber kedua adalah Ina, seorang konselor KTD. Ina menjelaskan bahwa sebagai konselor KTD dirinya akan memberikan alternatif pada kliennya apakah ingin melanjutkan kehamilan dan merawat anaknya sendiri, melahirkan dan kemudian bayi tersebut diadopsi orang lain, atau aborsi. Ina menjelaskan tiga pilihan tersebut dengan untung-ruginya masing-masing dan mengembalikan pilihan kepada sang perempuan. Selama tahun 2011, hotline tempat Ina bekerja telah menerima lebih dari 1.200 telepon yang menanyakan tentang aborsi aman. Sebagian besar peneleponnya adalah perempuan yang tinggal di pulau Jawa karena asumsinya mereka lebih mudah mengakses media dan teknologi dibandingkan dengan daerah lain. Data lain yang mengejutkan adalah sebagian besar perempuan yang menelepon adalah ibu rumah tangga, bukan seperti prasangka umum bahwa aborsi identik dilakukan oleh perempuan lajang yang aktif secara seksual.

Narasumber ketiga merupakan seorang penyintas aborsi tidak aman, namanya Astrid. Ketika berusia 19 tahun Astrid mengalami KTD dan tidak siap dengan kehamilan tersebut hingga memutuskan untuk mengakhiri kehamilannya. Setelah mencari akses aborsi ke berbagai sumber selama beberapa bulan, Astrid mendapat sebuah jaringan aborsi tidak aman tetapi usia kandungannya telah mencapai 3,5 bulan. Saat itu Astrid diminta menunggu di sebuah terminal bus di Jakarta dan dijemput oleh sebuah mobil yang membawanya ke sebuah rumah dimana terdapat beberapa ibu hamil lainnya yang juga akan mengakhiri kehamilannya. Dalam sebuah kamar ada empat ibu hamil dan Astrid menjadi pasien terakhir. Selama sekian jam dia melihat ketiga perempuan lainnya berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa tanpa adanya sikap empatik dari orang yang menangani aborsi mereka. Selama kurang lebih satu jam Astrid mengalami nyeri di bagian rahim dan vaginanya. Lalu setelah beristirahat selama satu jam mereka semua diantarkan kembali ke terminal semula karena pasien-pasien berikutnya akan segera datang. Astrid menyimpan cerita tersebut seorang diri selama bertahun-tahun dan menimbulkan trauma baginya.

Pada tahun 2008 Astrid telah menikah tetapi mengalami marrital rape, yaitu hubungan seks yang dipaksakan oleh pasangan atas nama pernikahan. Astrid kembali mengalami KTD dan tidak siap dengan kehamilan tersebut karena dia yakin tidak dapat membesarkan janin yang dikandungnya dengan sepenuh hati. Dengan berat hati Astrid kembali melakukan aborsi tetapi kali ini dengan meminum pil darurat. Astrid menekankan bahwa pada awalnya dia merasa malu dan takut untuk membicarakan aborsi yang pernah dilakukannya. Akan tetapi lambat laun Astrid meyakini bahwa apa yang dilakukannya kini mendorong semakin banyak perempuan menyuarakan haknya atas tubuh mereka dan semakin banyak perempuan yang mau berbagi kisah pilu mereka atas aborsi tidak aman yang menimpa mereka karena tidak ada akses untuk aborsi aman. Dengan kisah para perempuan tersebut juga akan semakin banyak perempuan yang tertolong untuk tidak melakukan aborsi tidak aman dan memberi penguatan pada mereka dengan mengatakan,“Kamu gak sendirian”.

Diskusi publik tersebut ditutup dengan pembagian sticker hotline aborsi aman yang dinamakan It’s My Circle. Hotlinetersebut dapat diakses pada nomor 0878 3955 5100, 0853 2521 1100, 0857 2929 5100, dan 081 9889 240.

edL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *