Aktivis Tuntut Pemenuhan Hak Bagi Semua Perempuan

by

Pada 1908, sebanyak 15.000-an perempuan turun ke jalanan di kota New York menuntut hak-hak politik perempuan dan hak-hak buruh. Peristiwa ini kemudian dijadikan momen setiap tahunnya sebagai peringatan International Women Day (IWD) pada 8 Maret. Pada 2013 ini, di Yogyakarta ratusan perempuan dan laki-laki kembali turun ke jalan untuk menyerukan kesetaraan dan pemenuhan hak bagi perempuan.

Beberapa organisasi masyarakat dan aktivis perempuan melakukan aksi yang diawali dengan longmarch dari Abu Bakar Ali ke Titik 0 KM dan dilanjutkan dengan Grebeg Pasar ke Pasar Beringharjo. Organisasi yang turut serta dalam aksi damai tersebut adalah GEPARI (Gerakan Perempuan Indonesia), Aliansi Perempuan Difabel Yogyakarta, JPY (Jaringan Perempuan Yogyakrta) dan AJI (Aliansi Jurnalis Independen).

Menurut Juju Juliati, Wakil dari Aliansi Perempuan Difabel Yogyakarta, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perempuan difabel sangat tinggi. Dia baru saja menangani kasus seorang perempuan ditinggalkan oleh suaminya gara-gara lumpuh, dan suaminya memilih menikah lagi. Juju juga berharap agar korban kasus kekerasan terhadap perempuan difabel semakin berkurang.

“Momentum IWD ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesadaran teman-teman difabel agar berani menyuarakan jika terjadi tindak kekerasan,” kata Juju.

Menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2012 terjadi 216.156 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani oleh instansi pemerintah dan lembaga mitra pengada layanan. Data ini meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya karena pendokumentasian kasus yang rapi dan akurat dari Pengadilan Agama.

Kasus kekerasan yang dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan darah, kekerabatan, perkawinan atau relasi intim tercatat sebanyak 66% atau 8.315 dari 12.649 kasus yang masuk dari lembaga mitra. Sedangkan seluruh kasus yang masuk dari Pengadilan Agama adalah kasus yang terjadi di ranah personal ini. Peningkatan signifikan terjadi pada kasus kekerasan terhadap perempuan di ranah komunitas, 34% atau 4.305 kasus, meningkat 4,35% dari tahun lalu. Jenis dan bentuk kekerasan yang terjadi jika korban dan pelaku tidak memiliki hubungan kekerabatan, darah atau perkawinan ini tertinggi pada kekerasan seksual sebanyak 59%.

Yogyakarta juga tak luput dari kasus kekerasan terhadap perempuan. Setiap tahunnya jumlah kasus kekerasan justru meningkat. Berdasakan data forum Penanganan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (PK2PA) DIY, pada 2010 terdapat 1.305 kasus kekerasan. Angka tersebut menjadi 1.666 kasus dengan 87% korban adalah perempuan pada  2011.

Aksi ini ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap menolak peraturan-peraturan daerah yang mendiskriminasi perempuan, menuntut upah layak terhadap perempuan serta menuntut pemberian cuti hamil, haid dan melahirkan sesuai kebutuhan kesehatan perempuan.  Selain itu juga mendorong jurnalis agar lebih sensitif terhadap isu-isu perempuan, adanya layanan kesehatan ramah difabel, stop perdagangan perempuan, dan mengajak laki-laki untuk monogami.

Rina, aktivis Rifka Annisa, menyatakan IWD tahun ini adalah untuk merayakan kesetiaan cinta, dengan setia kepada pasangan maka tidak akan ada poligami di dalam pernikahan. “Apalagi sekarang banyak pejabat publik yang melakukan poligami,” kata Rina.

Massa dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia juga melakukan longmarch dan menyuarakan penolakan kekerasan terhadap perempuan. “Negara dan peraturan-peraturannya belum mampu melindungi perempuan. Dilihat dari kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang semakin meningkat,” kata Agustina Purlin, anggota DPD I HTI DIY. (Azmie Wijayati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *