Anak-anak Terinfeksi HIV, Kegagalan Agenda PMTCT

by

Persoalan anak-anak yang terinfeksi HIV makin meningkat di Indonesia. Perlakuan yang mereka alami juga beragam, mulai dari penelantaran, pengeluaran dari sekolah dan pengusiran dari kampung tempat mereka tinggal. Indonesia sendiri, belum mengembangkan secara khusus layanan bagi anak-anak yang terinfeksi HIV.

Wajah buram tindakan diskriminatif terjadi hampir di mana-mana. Seperti anak berusia 5 tahun,, yang terinfeksi HIV di asal Tapanuli Utara (Taput) yang sempat dirawat di RSU Dr. Pirngadi, harus diusir dari kampungnya sendiri. Totonta Kaban, Koordinator Medan Plus, merasa prihatin terhadap tindakan diskriminasi yang dialami oleh anak itu dan tiga saudaranya.

Samara Yudha, Staf Divisi Anak Pusaka Indonesia, mengatakan tindakan warga yang yang mengusir anak tersebut sangat tidak manusiawi. Menurutnya, mereka juga mempunyai hak untuk hidup, dan tumbuh kembang. Tindakan warga bertentangan prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-hak Anak, yang Non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan berkembang.

Di daerah lain juga banyak diketahui anak-anak yang terinfeksi HIV. Di Tuban, bayi berumur 4 bulan juga diketahui terinfeksi HIV, Tulung Agung lima bayi berusia di bawah lima tahun (balita) ditemukan terinfeksi virus HIV, yang rata berusia 8 bulan sampai 2 tahun. Sedangkan di Nusa Tenggara Barat, ada tujuh bayi terinfeksi HIV, yang terinfeksi sejak mereka masih dalam kandungan.

Di Banten, terdapat lima anak balita terinfeksi dan di Jember diketahui bayi berusia 10 bulan juga terinfeksi, sedangkan di Cilegon, anak perempuan balita yang terinfeksi meninggal dunia.

Kecenderungan meningkatnya anak-anak terinfeksi HIV menunjukkan kegagalan agenda PMTCT (Prevention Mother to Child Transmition) yang dikembangkan di Indonesia. Sebab hampir semuanya memang berasal dari orang tuanya yang positif terinfeksi HIV.

Dengan meningkatnya fenomena anak-anak terinfeksi HIV, gerakan PMTCT harus mulai ditingkatkan dengan serius. Pengembangan strategi yang efektif saatnya dirancang dengan sungguh-sungguh. Sehingga bisa mengurangi terjadinya transmisi ke anak-anak, baik selama dalam kandungan maupun dalam proses persalinan dan pemberian ASI.

Dalam tindakan lanjutan, harus mulai dikembangkan strategi pendampingan bagi anak-anak yang terinfeksi HIV. Mereka tidak bisa begitu saja diserahkan pendampingannya kepada orang tua mereka, yang juga terinfeksi. Strategi pendampingan bagi anak-anak sangat berbeda dengan pendekatan kepada orang dewasa. Sementara ini, pendidikan para pendamping masih diarahkan untuk orang dewasa.

Strategi lain yang harus dikembangkan, upaya efektif menghapuskan stigma dan diskriminasi yang selalu dihadapi oleh orang-orang terinfeksi HIV. Pengusiran terhadap anak terifeksi HIV di Sumtara Utara, merupakan contoh nyata dari kuatnya tindakan stigma dan diskriminasi.

Tindakan stigma dan diskriminasi, menunjukkan kegagalan dalam pemberian informasi kepada masyarakat luas. Hal ini patut dipertanyakan, strategi komunikasi yang selama ini8 dijalankan oleh berbagai kalangan yang bekerja dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.

Jika agenda-agenda ini tidak segera dilakukan, kecenderungan meningkatnya anak-anak terinfeksi HIV akan terus berjalan. Anak-anak akan kehilangan hak pendidikan dan hak untuk bertempat tinggal yang mereka sukai dan nyaman untuk menjalani kehidupannya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *