Beban Berat yang Menanti

by
Pergantian kepemimpinan organisasi merupakan momentum penting untuk melakukan pembaruan-pembaruan kebijakan dan strategi untuk mengantarkan organisasi dalam mencapai visi dan misinya. Terpilihnya Inang Winarso, sebagai Direktur Eksekutif PKBI Pusat diharapkan bisa membawa angin segar untuk menghadirkan pembaruan ini.

Berbagai kemampuan disyaratkan untuk bisa benar-benar membawa kelahiran baru Perkumpulan yang dinamis. Kemampuan ini menjadi penting, karena selama ini Perkumpulan nyaris tak mampu berbuat banyak dalam menyikapi berbagai isu strategis. “Kemampuan yang dibutuhkan Direktur baru, bagaimana bisa eksis di media untuk kampanye program dan ideologi PKBI,” kata Suharsih, S.Ip, Koordinator Pusat Studi Seksualitas PKBI DIY.

Menurut Arsih, sapaan akrab Suharsih, absennya kemampuan membangun relasi dengan media massa menjadikan PKBI Pusat seolah-olah tenggelam dan tak mampu memanfaatkan banyak momentum untuk tampil secara politis. “Banyak momentum dan isu yang patut disikapi secara nasional, tetapi kok selama ini tak pernah disikapi,” katanya.

Sebenarnya eksis di media massa merupakan bagian kecil dari kapasitas seorang pemimpin terkait dengan agenda advokasi. PKBI Pusat susah saatnya tampil sebagai leader dalam berbagai advokasi, terutama untuk isu hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi. “Bagaimana PKBI bisa mengadvokasi adanya PP untuk UU Kesehatan yang pro pada kepentingan perempuan. PKBI memimpin advokasi secara nasional sehingga suara PKBI menjadi satu,” lanjut Suharsih.

Suharsih juga menilai integritas kepemimpinan Direktur Eksekutif PKBI juga harus ditunjukkan dengan keputusan-keputusan yang objektif dan tegas. “Dengar-dengar PKBI Pusat sangat nepotis dan amburadul,” katanya.

Dalam bidang organisasi menurut Suharsih, Inang diharapkan mampu merapikan struktur organisasi di tingkat Pusat dan Daerah. Terutama agenda pengembangan PKBI Cabang yang harus dikawal dengan maksimal.

Dian, Dirtektur Eksekutif PKBI Cabang Kota Yogyakarta, mengingatkan keputusan Pertemuan Regional II, berkaitan dengan agenda melakukan revolusi KB yang menyeluruh dan mengambangkan program internal yang bisa menambah kemampuan staf di Daerah dan Cabang. “Ini agar bisa berperan lebih baik di wilayah masing-masing,” katanya.

Pengembangan Klinik Kesehatan Reproduksi, menurut Arsih harus juga menjadi perhatian Direktur Eksekutif PKBI Pusat. “Sekaligus bikin riset untuk mengetahui berapa perempuan yang harus mengambil tindakan unsafe abortion karena ketiadaan klinik Kesehatan Reproduksi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *