Belajar dari Kartini, Pernikahan Dini adalah Penghilangan Hak Remaja

by
Wewawancarai Dwi Lestari dari Swaranusa.NET bersama Fisa Sasmawati anggota Youth Association yang juga menjadi Pengurus Remaja PKBI DIY. Foto: /vin

Baru-baru ini ada sepasang remaja SMP di Kota Bantaeng Sulawesi Selatan mengajukan dispensasi pernikahan ke pengadilan agama. Keduanya baru berusia 15 tahun dan 14 tahun. Usia yang belum cukup umur untuk menikah, sehingga pihak Kantor Urusan Agama (KUA) tidak memberinya ijin untuk menikah. Namun mereka masih bersikukuh, dengan mengajukan dispensasi pernikahan ke Pengadilan Agama Kota Bantaeng. Oleh Pengadilan Agama mereka mendapatkan ijin untuk menikah. Kasus di atas menjadi wajah Pernikahan dini di Indonesia.

Pernikahan dini masih menjadi persoalan serius bangsa Indonesia. UNICEF Indonesia tahun 2010 menyatakan ada sekitar 340.000 perempuan menikah di bawah usia 18 tahun setiap tahunnya. Keadaan itu pun berbanding lurus dengan kematian ibu saat melahirkan. Menurut UNICEF Indonesia sejak tahun 1990 hingga 2010 Indonesia memiliki tren kematian Ibu saat hamil dan melahirkan sebanyak 10.000 per tahun. Dampak pernikahan dini tidak berhenti pada kematian ibu hamil dan melahirkan saja, namun juga berdampak pada masa depan perempuan yang rentan mengalami kekerasan. Data dari Komnas perempuan di tahun 2016 menunjukan ada sekitar 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 245.548 kasus perempuan mendapatkan kekerasan dari suaminya, dan berakhir pada perceraian. Sudah lebih dari 100 tahun perjuangan pemenuhan hak perempuan digaungkan oleh Kartini, namun belum banyak perubahan yang cukup siginifikan dalam pemenuhan hak perempuan. Terutama hak seksualitas dan kesehtan reproduksi.

Berkenaan dengan hal tersebut Dwi Lestari dari Swaranusa.NET mewawancarai  Fisa Sasmawati anggota Youth Association yang juga menjadi Pengurus Remaja PKBI DIY.

Apa itu Youth Association?

Yotha (Youth Association) adalah organisasi remaja ragam identitas yang berdiri sejak 18 Juli 2010 dengan visi Terwujudnya tatanan masyarakat dan sistem pemerintahan yang adil,yang menjamin terpenuhinya hak-hak remaja, tanpa membedakan status sosial, status kesehatan, pilihan profesi, orientasi seksual, dan identitas gender.  Misinya adalah Pendidikan dan penyadaran publik tentang hak-hak remaja,menjamin pengakuan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak remaja, memperjuangkan akses layanan ramah remaja.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari perjuangan seorang Kartini?

Sebenarnya cerita tentang Kartini dari dulu sampai sekarang itu masih sama menurutku, justru aku kagum dengan sosok kartini. Jaman dulu saja, beliau sudah bisa mengerti revolusi (gerakan untuk perubahan). Ia sudah bisa berfikir kritis untuk perempuan-perempuan di Indonesia. Kartini membandingkan perempuan Indonesia dengan teman-temannya di Belanda, disana perempuan bisa mendapatkan pendidikan, dan hak-hak yang sama. Dia percaya bawasannya laki-laki dan perempuan itu memiliki hak yang sama. Bukan dalam arti perempuan ingin lebih tinggi. Hal itu sama dengan realita saat ini perempuan memang sudah bisa mengakses pendidikan akan tapi di luar sana masih banyak, remaja perempuan yang menikah dini.

Berkaitan dengan Pernikahan Dini, kenapa masih sering terjadi dan apa bedanya dengan yang dialami Zaman Kartini dulu?

Ya kalau dulu zamannya Kartini kan tidak banyak orang dapat mengakses pendidikan, jadi mau gimana lagi, selain menikah. Jadi udah umur 14 tahun, udah mulai puber, ya harus menikah karena mungkin kan kalau jaman dulu dianggap untuk mengurangi tindakan yang dapat melanggar norma dan mengakibatkan dosa. Kalau sekarang justru tidak sedikit dari mereka yang mengalami pernikahan dini karena terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Nah apabila mereka menikah diusia dini maka hak-hak mereka sebagai remaja pun akan hilang.

Kenapa kasus KTD di kalangan remaja masih banyak terjadi?

Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi  (KESPRO) masih kurang dan belum komprehensif. Tidak semua remaja dapat mengakses pendidikan KESPRO. Akses pendidikan untuk mereka kurang. Kadang mereka belajar kesehatan reproduksi dari media sosial, tapi  itu malah lebih banyak berisi tentang hal-hal negatifnya. Lebih banyak ngomongon tentang pornografinya. Disana tidak ngomongin tentang cara merawat organ reproduksi masing-masing.

Dan ternyata para remaja itu lebih takut pada hamil ketimbang terkena penyakit yang ditimbulkan karena melakukan hubugan sek tidak aman. Mereka pun tidak tahu jenis penyakit akibat hubungan seksual seperti halnya IMS, HIV, sipilis

Mereka melakukan hubungan seksual tidak aman pun dengan alasan adanya ancaman dari pasangan, kasian, tidak tega dan sebagainya. Ku pikir ini terjadi karena tidak ada akses informasi yang baik untuk mereka, sehingga terjadi seperti ini.

Apa resikonya berhubungan seksual tidak aman diusia dini?

Melakukan hubungan seksual dibawah umur 20 tahun, untuk perempuan memiliki resiko terkena kanker servik lebih tinggi. Untuk laki-laki juga rentan terkena Infeksi menular seksual. Kurangnya akses pendidikan pengetahuan KESPRO yang komprehensif, membuat mereka rentan melakukan hubungan sek tidak aman diusia dini, yang akhirnya juga akan mendatangkan infeksi dari aktifitasnya itu.

Keberhasilan apa yang pernah Kalian (Youth Association) raih dalam memperjuangkan hak remaja?

Ini sih tentang pergup kesehatan reproduksi di jogja, Peraturan gubernur tentang penyelenggaraan pendidikan kesehatan reproduksi remaja.  No 29 tahun 2014. Sebenarnya itu perjuangan dari Youth Forum dari  tahun 2008 yang minta ke dinas pendidikan ke sultan juga. Ayo dong bikin peraturan yang mendukung penyelenggaran pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah atau di lini-lini masyarakat.

Dulu di 2014 waktu aku SMA itu, PIK-R sempat dibekukan oleh dinas pendidikan kota. Gak boleh memberikan pendidikan atau informasi tentang kesehatan reproduksi. Bahkan BKKBN pun tidak boleh masuk. Ya gimana lagi dinas pendidikan saja gak bolehin untuk masuk, dinas pendidikan menolak itu. Tapi kita tetap melakukan audiensi-audiensi sampai youth association itu sampai dlibatkan dalam pembuatan pergub. Ku pikir, cuma ditanya-tanya saja,. Atau ditanya udah jadi rumusannya atau belum. Tapi ini kita benar-benar ikut menjadi tim perumus untuk membuat pergub. Itu membuat aku waw, ternyata remaja juga dapat dipercaya lhoo…. Itu aku merasa keren banget sih. Walau hanya ada salah satu yang bisa mewakili youth forum disana sebagai menjadi tim perumus. Tapi waw banget.

Paling banyak saat advokasi dan konseling itu ya pelecehan di sekolah, pemerkosaan yang dilakukan guru kepada siswa. Yang gurunya hanya dipenjara 2-3 tahun itu pun tidak dipenjara. Hanya kayak wajib lapor gitu. Jadinya itu nyebelin padahal masih dalam lingkup 1 sekolah. Memang tidak sampai bisa memenjarakan, setidaknya kita dapat mendorong teman-teman korban kekerasan seksual ini untuk membawa kasusnya ke pengadilan. Itu adalah pion besar kita bisa membantu teman-teman. Minimal kita dapat melihat perubahan dari muka klien yang awalnya bingung, galau dan mulai bisa senang, semringah kembali. Itu adalah hal kecil yang mungkin dianggap biasa, namun itu menurut kita adalah sesuatu yang waw banget. Gilak ya membantu orang itu ternyata ada kepuasan tersendiri. Seneng banget.

Apa perjuangan Kartini yang belum selesai dan harus dilanjutkan untuk remaja khususnya perempuan di Indonesia?

Sama sih. Kayak tadi pendidikan. Ya walau pun sudah ada peraturan. Tapi jangan sampai menolak siswa yang hamil, untuk sekolah. Karena kalau dia tidak sekolah, mereka juga akan memutuskan memilih untuk nikah muda. Sama kayak tadi ya (di era Kartini) penikahan. Mungkin teman-teman perempuan itu belum berani menyuarakan hak-haknya.

Jika memahami Kartini, kita dapat menemukan sesosok perempuan kuat. Jika Kartini dikatakan sebagai perempuan Jawa yang lemah lembut. Tentu tidak. Bahkan Kartini juga diceritakan naik-naik pohon, lari-lari pecicilan. Kartini dapat menunjukan bahwa perempuan itu bisa tertawa bebas, perempuan itu dapat mengekspresikan diri, tidak siapapun bisa membatasi diri kamu kecuali dirimu sendiri.

Apa harapanmu bagi remaja perempuan yang ada di luaran sana?

Menilai dan menghargai diri sendiri. Kayak kalau kita belum bisa mengenali diri kita sendiri, sampai kapan kita bisa menghargai diri kita sendiri. Kita perlu aktualisasai diri kita, biar kita tahu, diri ini siapa? Aku mau jadi apa?, aku maunya seperti apa? Aku punya style seperti apa?

Tidak perlu kita menjadi perempuan lain, ya inilah aku. Kita akan menjadi nyaman dengan diri kita sendiri, katika sudah tahu apa potensi, kekurangan dan yang kita mau, .

Apa harapanmu kepada pemangku kebijakan dan negara menyikapi banyaknya kasus kekerasan yang dialami remaja perempuan?

Seharusnya negara mendukung mendorong dan membuat kebijakan yang pro dengan perempuan. Walaupun sudah ada komnas  perempuan namun masih banyak peraturan yang belum pro perempuan. Sampai saat ini saja RUU KUHP dan undang-udangan lainnya pun masih banyak yang belum pro perempuan. masih membatasi dan merugikan. Ya semoga negara bisa lebih bisa memenuhi apa yang menjadi hak warga negaranya, khususnya remaja dan perempuan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *