Galilea Miracle Center, Berencana Menambah Asrama Perempuan

by

Para mantan pengguna narkoba masih sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Akibatnya mereka kesulitan bermasyarakat. Padahal mereka yang telah keluar dari jeratan narkoba memiliki segudang pengalaman yang dapat dibagi dengan sesama. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa dengan Ronald Ambrosius, Kepala Panti Rehabilitasi Narkoba “Galilea Miracle Center” Kalimantan Tengah tentang rehabilitasi narkoba.

Sudah berapa banyak anak didik yang mengikuti rehabilitasi?

Dari catatan yang ada, sejak berdiri 28 Mei 2002 anak didik yang keluar masuk ada sekitar 300 anak dari tingkatan umur 15 sampai 36 tahun. Di antara mereka pemakai shabu-shabu, dextrol dan ganja. Biasanya mereka diantar keluarganya, karena keinginan sendiri dan karena keluarganya sudah tidak mampu lagi menangani mereka. Malahan ada yang sampai berurusan dengan pihak berwajib, tetapi dengan bantuan kami mereka bisa mengikuti program rehabilitasi.

Berapa lama masa rehabilitasi ini dan metode yang digunakan?

Normalnya, untuk lepas dari pengaruh kecanduan 1000 hari, di antaranya ada detoksifikasi dulu kemudian penyembuhan mental mereka. Kami melihat prosesnya juga, biasanya ada anak didik yang susah karena saking nakalnya. Tetapi, kami tetap mempersiapkan segala metode agar mereka dapat lepas dengan cepat. Di sini menggunakan metode Terapi Komunitas. Mereka dikumpulkan dalam komunitas, kemudian di antara kemunitas saling menyokong untuk sembuh. Prinsipnya, “Hanya yang Addict-lah yang mengerti yang Addict”. Mereka kan punya problem, nah yang bisa membantu mengatasi problem tersebut yaitu yang memiliki problem sama, kemudian akan saling ketemu. Jadi seperti konseling sebaya. Selain itu, kami juga melakukan pendekatan rohani karena basicnya Kristiani, kebanyakan di sini beragama Nasrani. Tetapi tidak menutup kemungkinan yang non Kristen tetap kita terima dengan turut memfasilitasi mereka.

Kegiatan hariannya?

Kami lebih banyak di dalam ruangan, dan mungkin seminggu sekali refreshing keluar. Karena mereka juga butuh hiburan. Kami biasanya mendatangkan penceramah agama, kemudian psikolog, mengadakan seminar dengan mendatangkan Pekerja Sosial dari Pemerintah.

Kalau sudah sembuh dan kembali ke masyarakat?

Setiap anak harus kembali ke keluarganya, tetapi tidak menutup kemungkinan membuat kerja sama dengan keluarga untuk ke depannya seperti apa, kemudian difasilitasi dan dibimbing terus karena untuk tahap awal mereka tidak bisa di lepas begitu saja. Mereka perlu pendampingan. Selain itu mereka perlu pembelaan apabila nanti terjadi hal negatif yang bisa merusak mental mereka. Misalnya, karena imej pengguna narkoba mereka tidak bisa mengikuti pendidikan di sekolah atau mendapat pekerjaan. Hal seperti itu yang tidak kami inginkan. Bagaimanapun mereka manusia dan memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya.

Kendala utamanya?

Banyak, ya. Penerapan program Terapi Komunitas agak sulit karena latar belakang dari anak didik yang berbeda. Memasukkan ke dalam hidup mereka pun sulit. Fasilitas kurang memadai dan biaya yang tersedia sedikit untuk mendukung Terapi Komunitas. Tetapi kami tetap mengupayakan fasilitas yang ada sekarang. Kadang kami bekerja sama dengan orang tua anak didik, untuk sama-sama memberikan fasilitas. Misalkan, alat musik, komputer, buku-buku, dan alat penunjang lainnya. Kami berencana menambah asrama perempuan, karena selama ini asrama yang ada hanya untuk laki-laki. Namun masih terkendala biaya pembangunan. Mereka kan juga perlu media apresiasi selama rehabilitasi, dan kami masih mengupayakan hal itu.

Menurut anda penyebab utama mereka mengkonsumsi narkoba?

Penyebabnya sangat kompleks, tidak ada yang jadi harga mati untuk menetapkan penyebabnya. Namun yang umum pergaulan, dari dirinya sendiri akibat depresi kemudian labil, dan ingin mencoba-coba hal baru.

Narkoba sering diidentikkan dengan HIV

Biasanya pemakai putaw yang rentan terinfeksi HIV, karena putaw yang dikonsumsi menggunakan jarum suntik dan memakainya pun bergantian. Untuk Kalimantan Tengah sendiri pemakai putawnya masih jarang. Setiap menerima anak didik kami juga memeriksakan darahnya, apabila ada yang positif, mereka tetap kami fasilitasi.

Target untuk tahun ini?

Kami ingin tahun ini fasilitas-fasilitas yang diperlukan terbangun dulu. Jadi setiap kegiatan tidak hanya terpusat di satu temapat saja. Yang namanya manusia pasti ada kebosanan kan. Kemudian kami sedang mengupayakan lab komputer agar anak didik bisa tahu dunia teknologi informasi. Paling utama adalah pagar.

Seperti apa harapan kedepan Galilea Miracle Center?

Kami berharap anak didik bisa berhasil dan diterima baik dalam masyarakat. Lebih utama adanya respon dari masyarakat supaya kami tidak berdiri sendiri, khususnya dari pemerintah. Bentuknya tidak selalu materi, bisa juga tenaga pembimbing, pekerja sosial, dan tenaga kesehatan, karena kami memang keterbatasannya di situ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *