Bidan dan HIV: Risiko dan Tantangan yang Dihadapi

by

Bidan di berbagai belahan dunia memiliki peran kunci dalam mempromosikan hak dan kesehatan reproduksi untuk mencegah penyakit menular seksual, termasuk HIV dan AIDS (Nordkvist & Pyykkö, 2008). Layanan konseling di poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) memiliki banyak fungsi, yaitu kesempatan memberikan informasi tentang cara penularan dan penanganan HIV dan AIDS, pencegahan dari-ibu-ke-anak, serta mengenalkan konseling dan tes HIV sukarela (Msellati, 2009). Bahkan di Afrika lingkup kerja bidan juga mencakup kunjungan rumah dan layanan ramah remaja (Kasenga, 2010). Bidan di Afrika menjadi tulang punggung pencegahan HIV dari-ibu-ke-anak dan memiliki jumlah terbesar dalam komunitas petugas kesehatan yang menjadi konsultan perempuan sebelum, saat, dan setelah kehamilannya. Di Swedia, bidan menjadi konselor terkait kehamilan, kesehatan reproduksi, dan kehidupan rumah tangga. Sementara di Amerika Serikat bidan diakui sebagai profesi senior dalam masalah kehamilan dan persalinan. Di Estonia bidan bekerja sesuai dengan standar International Confederation of Midwives (ICM) pada tahun 1990 dan sejak tahun 1999 ditambah dengan memberikan konseling HIV dan konseling keluarga. Menurut WHO pada tahun 1999 bidan membantu persalinan sebanyak 200 kasus setiap tahunnya (Lazarus, Rasch, & Liljestrand, 2005; Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007; Ndikom & Onibokum, 2007; WRATZ, 2006).

Keunggulan bidan dibandingkan profesi kesehatan lainnya adalah karena mereka berhadapan langsung dengan calon ibu dan ibu hamil sehingga dapat menjadi sumber informasi utama mengenai cara penularan dan pencegahan HIV dan AIDS (Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007). Survei kesehatan dan demografi yang dilakukan oleh Pemerintah Thailand pada tahun 2005 menemukan bahwa di desa sekitar 70% calon ibu dan ibu hamil mendapatkan perawatan sebelum kehamilan dari bidan dan di kota prosentasenya naik menjadi 80% (Sasaki, Ali, Sathiarany, Kanal, & Kakimoto, 2010). Uys dkk. (2009) mengatakan bahwa bidan menjadi kelompok indikator terbaik untuk mengukur respon komunitas kesehatan terhadap HIV dan AIDS. Mereka tidak hanya dekat dengan orang yang terinfeksi HIV tetapi juga dapat mengamati stigma yang menimpa pasien maupun petugas kesehatan yang terlibat.

Menurut WHO (dalam PAHO, 2003), bidan dan perawat adalah profesi utama yang dapat mengontrol penularan infeksi HIV dan menyediakan asuhan bagi orang dengan HIV positif. Oleh karena itu bidan dan perawat perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan mensosialisasikan cara penularan dan pencegahan HIV dan AIDS hingga menanggulangi stigma yang ditujukan pada pasien dengan HIV positif maupun diri mereka sendiri. Bidan yang sebagian besar adalah perempuan profesional yang memerlukan edukasi untuk mencegah penyebaran HIV dan memberi perawatan yang memadai bagi pasiennya yang terinfeksi. Mereka memiliki peran kunci sehingga posisi para bidan berada di lini depan dalam kontribusi positif untuk mencegah penularan HIV di lingkungan kerja dan kehidupan pribadi. Peran kunci tersebut dapat diwujudkan dengan selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya (ICM, 2008). Bidan perlu mengetahui tentang HIV dan AIDS secara lebih mendalam (AKBIDYO, 2009) karena menghadapi tiga tantangan, yaitu pelaksanaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang mengharuskan setiap persalinan ditolong oleh bidan, Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tahun 2010, dan meminimalisir penyebaran HIV lewat keluarga khususnya dari-ibu-ke-anak (AKBIDYO, 2011).

Sebagai kelompok berpotensi tinggi menjadi pemimpin dalam pencegahan HIV, bidan memiliki peran sebagai sumber informasi utama untuk mengedukasi pasien tentang penyakit dan perilaku risiko (WHO, 2002). Pada kenyataannya dari 276 bidan dan perawat di Asia Tenggara, 39% di antaranya mengaku tidak pernah mendapatkan edukasi tentang HIV dan AIDS ketika mereka kuliah. Walaupun sebagian besar mengerti cara penularan HIV dan tahu prosedur pencegahan universal, sebanyak 79,7% bidan dan perawat tetap mengatakan bahwa pasien HIV dan AIDS harus mengatakan status HIV mereka ke perawat agar perawat tidak tertular. Survei di Nigeria menunjukkan bahwa petugas kesehatan tidak menyadari potensinya sebagai edukator HIV bagi pasien (Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, & Asuzu, 2008). Studi lain menunjukkan hanya 29% bidan memiliki kepercayaan diri untuk mengangkat isu HIV dan AIDS kepada pengunjung poli KIA sementara sisanya kurang percaya diri mengenai pengetahuan yang mereka miliki (Bennet & Weale, 1997; Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007). Hasil penelitian WHO (2002) menemukan bahwa di Asia Selatan dan Tenggara terdapat lebih dari 800 institusi kebidanan dan keperawatan. Kurikulum di sebagian besar sekolah kebidanan dan keperawatan di Asia Tenggara dirancang sebelum tahun 1990 dan hampir tidak pernah mengalami revisi. Materi mengenai HIV dan AIDS tidak berdiri sendiri tetapi hanya dibahas singkat dalam materi penyakit/infeksi menular seksual.

Di Indonesia tidak ada lembaga khusus yang bertanggung jawab bahwa materi HIV dan AIDS telah dimasukkan ke dalam kurikulum di setiap institusi pendidikan bidan dan perawat. Dalam diskusi terarah yang dilakukan oleh para bidan di Jakarta terungkap bahwa mereka merasa kurangnya pelatihan mengenai pencegahan HIV dan AIDS dari-ibu-ke-anak dan bahkan ada yang sama sekali tidak pernah mendapatkan pelatihan semacam itu. Para bidan mengaku bahwa mereka tidak punya banyak kesempatan untuk memperbaharui pengetahuan mereka tentang HIV dan AIDS serta sumber literatur yang sangat terbatas (Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007). Berdasarkan diskusi kelompok terarah yang diikuti oleh pengajar di sekolah-sekolah kebidanan dan keperawatan di Asia Tenggara diketahui bahwa 90% staf pengajar yang memberi materi HIV dan AIDS tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus mengenai HIV dan AIDS. Peserta diskusi menyimpulkan bahwa bidan dan perawat perlu mendapatkan pelatihan pengelolaan kasus HIV dan AIDS, kurikulum pembelajaran perlu direvisi agar materi HIV dan AIDS mendapat porsi yang lebih besar, bidan dan perawat perlu mendapatkan pelatihan keterampilan konseling dasar dan layanan VCT untuk HIV (Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland; WHO, 2002). WHO (dalam Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, & Asuzu, 2008) menambahkan bahwa edukasi yang komprehensif merupakan modal utama bagi petugas kesehatan untuk menjalankan perannya tersebut. Talashek dkk. (dalam Ajuwon, Funmilayo, Oladepo, Osungbade, & Asuzu) menegaskan bahwa petugas kesehatan sangat berpotensi sebagai pemimpin dan panutan dalam pencegahan penularan HIV.

Di sisi lain, bidan dan perawat adalah petugas kesehatan yang paling rentan tertular penyakit Hepatitis B, Hepatitis C, TB, dan HIV. Bidan memiliki risiko tertular HIV melalui berbagai cara, misalnya tertusuk jarum atau alat tajam lainnya yang telah terkontaminasi darah mengandung HIV; luka terbuka yang terpapar darah mengandung HIV; terpercik darah mengandung HIV ke membran selaput lendir di mata atau hidung khususnya selama persalinan dan penyuntikan. Penularan HIV kepada bidan ketika membantu proses melahirkan lebih besar risikonya daripada operasi yang dilakukan oleh dokter. Oleh karena itu bidan harus memproteksi dirinya sejak awal meski yang ditangani adalah pasien tanpa HIV positif. (Burke & Madan, 1997; Harian Bhirawa, 2011; Mathole, Lindmark, & Ahiberg, 2006; Mondiwa & Ilauck, 2007; Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, & Akbar-Zadeh, 2011). Waterman dkk. (dalam Burke & Madan) menemukan bahwa 40% mahasiswa kedokteran tidak menyadari tentang risiko terkontaminasi ketika mereka praktik.

Dalam dua dekade terakhir risiko pekerja kesehatan tertular HIV semakin besar. Observasi dan wawancara terhadap 58 bidan di Iran ditemukan bahwa 82,8% mengalami pajanan jarum suntik. WHO (dalam Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, & Akbar-Zadeh, 2011) mengestimasi sekitar 5% kasus HIV baru di negara berkembang menimpa petugas kesehatan yang mengalami kecelakaan jarum suntik dan paparan darah mengandung HIV. Estimasi tersebut akan semakin tinggi pada wilayah Asia jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di dunia. Di Meksiko, kasus HIV yang tercatat pada tahun 1993 sebanyak 12.151 kasus dan 2,9% diderita oleh petugas kesehatan karena terpajan ketika bekerja (Bassey, Elemuwa, & Anukam, 2007). Survei yang dilakukan pada bidan di Amerika selama enam bulan menunjukkan bahwa 74% bidan pernah menyentuh darah pasien dengan tangan telanjang, 51% pernah mengalami percikan darah atau cairan tubuh di wajah, 24% mengalami pajanan jarum suntik, dan hanya 55% bidan yang melakukan prosedur pencegahan universal (Mondiwa & Ilauck, 2007). Hasil penelitian Burke dan Madan (1997) menyimpulkan bahwa dari 293 bidan sebanyak 63 orang mengalami kecelakaan kerja dalam enam bulan terakhir dan hanya 29 di antara mereka yang melapor ke Departemen Kesehatan Inggris. Para bidan yang tidak melaporkan kecelakaan kerja yang dialami karena menurut mereka tidak ada hal yang dapat dilakukan dan hanya membuang-buang waktu. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 36% bidan meremehkan kemungkinan terinfeksi HIV dari kecelakaan jarum suntik. Simbar, Shayan-Menesh, Nahidi, dan Akbar-Zadeh mengatakan bahwa risiko bidan tertular HIV karena terpajan jarum tidak steril adalah 0,3%. Sebuah survei di Nigeria pada tahun 2006 menemukan bahwa kurang dari dua-pertiga petugas kesehatan yang selalu menggunakan peralatan untuk melindungi diri. Pengetahuan para bidan tersebut tentang prosedur pencegahan HIV universal tergolong rendah.

Mathole, Lindmark, dan Ahiberg (2006) menunjukkan bahwa tidak ada panduan yang jelas untuk para petugas kesehatan ketika menghadapi kasus komplikasi dan penyakit yang tidak biasa muncul selama masa kehamilan dan bersalin. Para bidan juga bingung dengan informasi yang kontradiktif mengenai pemberian ASI eksklusif pada ibu hamil dengan HIV positif. Bidan mengungkapkan ketidak-nyamanan dan penolakan mereka merawat perempuan yang dicurigai HIV positif ketika persediaan sarung tangan tidak mencukupi. Petugas kesehatan seperti bidan juga mendapat stigma oleh masyarakat ketika dia menangani pasien terinfeksi HIV. Stigma yang ditujukan kepada bidan berkorelasi negatif dengan kepuasan kerjanya (Uys dkk., 2009). Kurangnya informasi dapat mendorong munculnya ketakutan dan kecemasan bahkan perilaku radikal seperti menyarankan aborsi bagi perempuan yang terinfeksi HIV. Para bidan kemudian merasa tidak berdaya menghadapi situasi yang ada dan menjadi stress ketika mereka mengingat bahwa profesinya rentan untuk tertular HIV dari pasiennya (Leshabari, Blystad, Paoli, & Moland, 2007). Bidan yang bekerja di bawah tekanan, khususnya ketika menangani pasien HIV dan AIDS memiliki tingkat depresi, kecemasan, stress, dan takut akan kematian yang lebih tinggi, kehilangan minat dalam kebidanan, menahan diri untuk menyentuh klien dan tidak mengijinkan klien menyentuh mereka. Bidan dan perawat terlihat tidak antusias dan kurang empatik karena takut terkontaminasi. Bahkan ada bidan yang menolak menangani ibu hamil dengan HIV positif (Msellati, 2009; Mondiwa & Ilauck, 2007; Uys dkk.).

Ajuwon, A., Funmilayo, F., Oladepo, O., Osungbade, K., & Asuzu, M. (2008). Effects of Training Programme on HIV/AIDS Prevention among Primary Health Care Workers in Oyo State, Nigeria. Health Education, 108 (6), 463-474doi: 10.1108/09654280810910872.

AKBIDYO. (2009). AKBIDYO Latih Bidan Desa Soal HIV/AIDS. Diunduh dari http://kopertis5.org/index.php?p=detail_berita&id=8685 pada tanggal 18 Januari 2012.

AKBIDYO. (2011). Bidan Menolong dan Menyelamatkan Dunia. Diunduh dari http://www.akbidyo.ac.id/bidan_menolong_dan_menyelamatkan_dunia_80.htm pada tanggal 18 Januari 2012.

Bassey, E.B., Elemuwa, C.O., & Anukam, K.C. (2007). Knowledge of, and Attitudes to, Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) among Traditional Birth Attendants (TBAs) in Rural Communities in Cross River State, Nigeria. International Nursing Review, 54, 354-358.

Bennet, C., & Weale, A. (1997). HIV and AIDS Awarness: an Evaluation of a Short Training Programme for Midwives. Journal of Advanced Nursing, 26, 273-282.

Burke, S., & Madan, I. (1997). Contamination Incidents among Doctors and Midwives: Reasons for Non-reporting and Knowledge of Risks. Occup. Med, 47 (8), 357-360.

Harian Bhirawa. (2011). Bersinggungan Langsung, Bidan Rawan Tertular HIV/AIDS. Diunduh dari http://www.harianbhirawa.co.id/publik/32443-bersinggungan-langsung-bidan-rawan-tertular-hivaids pada tanggal 18 Januari 2012.

ICM. (2008). HIV and AIDS. Position Statement. Glasgow: International Confederation of Midwives.

Kasenga, F. (2010). Makin it Happen: Prevention of Mother to Child Transmission of HIV in Rural Malawi. Global Health Action, 3. doi: 10.3408/gna.v310.1882.

Lazarus, J.V., Rasch, V., & Liljestrand, J. (2005). Midwifery at the Crossroads in Estonia: Attitudes of Midwives and Other Key Stakeholders. Acta Obstet Gynecol Scand, 84, 339-348.

Leshabari, S.C., Blystad, A., Paoli, M., & Moland, K.M. (2007). HIV and Infant Feeding Counselling: Challenges Faced by Nurse-Counsellors in Northern Tanzania. Human Resources for Health, 5 (18). doi: 10.1186/1478-4491-5-18.

Mathole, T., Lindmark, G., & Ahiberg, B.M. (2006). Knowing but not Knowing: Providing Maternity Care in the Context of HIV/AIDS in Rural Zimbabwe. African Journal of AIDS Research, 5 (2), 133-139.

Mondiwa, M., & Ilauck, Y. (2007). Malawian Midwives’ Perceptios of Occupational Risk for HIV Infection. Health Care for Women International, 28, 209-223. doi: 10.1080/07399330601179778.

Msellati, P. (2009). Improving Mothers’ Access to PMTCT programs in West Africa: a Public Health Perspective. Social Science and Medicine, 69, 807-812. doi: 10.1016/j.socscimed.2009.05.034.

Ndikom, C.M., & Onibokum, A. (2007). Knowledge and Behaviour of Nurse/Midwives in teh Prevention of Vertical Transmission of HIV in Owerri, Imo State, Nigeria: a Cross-sectional Study. BMC Nursing, 6 (9). doi: 10.1186/1472-6955-6-9.

Nordkvist, H., & Pyykkö, E. (2008). Knowledge, Perceptions and Attitudes among Midwifery Students towards HIV/AIDS in Vietnam. A Minor Field Study Report (Tidak diterbitkan). Swedia: Karolinska Institute.

PAHO. (2003). Strengthening Nursing and Midwifery Services for HIV/AIDS Prevention and Control. Consensus Document. USA: Pan American Health Organization.

Sasaki, Y., Ali, M., Sathiarany, Kanal, K., & Kakimoto, K. (2010). Prevalence and Barriers to HIV testing among Mothers at a Tertiary Care Hospital in Phnom Penh, Cambodia: Barriers to HIV Testing in Phnom Penh, Cambodia. BMC Public Health, 10 (494). doi: 10.1186/1471-2458-10-494.

Simbar, M., Shayan-Menesh, M., Nahidi, F., & Akbar-Zadeh, A. (2011). Health Belief of Midwives about HIV/AIDS Pretection and the Barriers to Reducing Risk of Infection: An Iranian Study. Leadership in Health Services, 24 (2), 106-117. doi: 10/1108/17511.87111112894.

Uys, L.R., Holzemer, W.L., Chirwa, M.L., Dlamini, P.S., Greeff, M., Kohi, T.W., Makoae, L.N., Stewart, A.L., Mullan, J., Phethu, R.D., Wantland, D.H., Durrheim, K.L., Cuca, Y.P., & Naidoo, J.R. (2009). The Development and Validation of the HIV/AIDS Stigma Instrument-Nurse (HASI-N). AIDS Care, 21 (2), 150-159. doi: 10.1080/09540120801982889.

WHO. (2002). Nursing Role in HIV/AIDS Care and Prevention in South-east Asia Region. New Delhi: WHO Regional Office for South-east Asia.

WRATZ. (2006). White Ribbon Alliance, Tanzania ‘Is It Worth it for Tanzania to Invest in Community Midwives?’. Debate Forum Report. Tanzania: White Ribbon Alliance for Safe Motherhood in Tanzania.

edL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *