Dalam Malam Renungan Aids Nusantara, Ragil Berbagi Kisahnya

by

Ragil tidak kering-kerontang, tidak lemas dan tidak pula menjijikan. Tetapi, satu hal yang pasti Ragil adalah seorang HIV positif. Fisiknya sama sekali berbeda dengan stigma yang selama ini melekat pada ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS) Ragil nampak bugar seperti layaknya kebanyakan orang.

Ragil mengetahui bahwa ia adalah seorang HIV positif sejak Juni 2013. Dapat dibayangkan bagaimana perasaannya saat pertama kali tahu dirinya mengidap HIV. “Ketika konselor membuka hasil saya, saya merasa sedih, tidak percaya, putus asa, takut, dll. Saya mengucilkan diri sendiri selama 2 minggu. Perlahan saya mulai keluar kamar. Waktu ketemu saudara, saya malah takut sendiri padahal baru saya yang tau,” begitulah tutur Ragil saat membagi kisahnya dalam acara Nyore di Kebun #9 bertempat di Youth Center PKBI DIY. Acara tersebut sekaligus memperingati Malam Renungan Aids Nusantara (MRAN)

Perjuangan Ragil untuk bangkit dimulai tatkala ia berusaha mencari informasi tentang HIV dan AIDS. Dari situlah ia menemukan kontak Pendukung Sebaya dari salah satu lembaga yang ada di jogja. “Beliau menyemangati saya. Tidak pernah tanya saya dapat HIV dari mana. Dia memberi kenyamanan dan kepercayaan diri pada saya,” terang Ragil

Dengan dorongan dari pendukung sebaya inilah, Ragil memulai pengobatan. Tidak hanya itu, pendukung sebayanya juga mengenalkannya pada teman-teman sesama ODHA. Dari situ, semangatnya tumbuh kembali. “Harapan itu muncul dalam diri saya. Ternyata saya tidak sendiri. Teman-teman yang positif HIV mereka juga bisa berprestasi, mereka bisa berdaya,”kata Ragil.

Saat Keluarga Tahu

Permasalahan belum usai sampai di situ saja. Berjalan 5 bulan pengobatan, Ragil ingin agar keluarga mengetahui keadaannya. Tentu saja itu bukan perkara mudah karena ia tidak mungkin tiba-tiba memberi tahu kondisinya.

 Pelan-pelan, ia mulai mencari cara agar informasi seputar HIV dapat sampai pada keluarganya. Akhirnya, ia sering meninggalkan brosur, mug atau leaflet yang memuat seputar HIV di ruang tamu. Ia berharap orang tua atau kakaknya mendapat gambaran tentang apa itu HIV dan AIDS.

Momentum datang ketika ia tengah berobat di RS Sardjito, sang kakak menelponnya. Setibanya di rumah, ia kemudian menceritakan kepada keluarganya semua yang ia alami. “Saya bilang, sekarang sudah tidak penting lagi saya dapat HIV dari mana, yang penting ke depan saya harus bagaimana?” begitu kenang Ragil.

Saat ini, keluarga telah menerima keadaannya dengan baik. Mereka bahkan selalu mengingatkannya untuk minum obat. “Saya wajib patuh minum ARV seumur hidup saya,” ujarnya. Tidak hanya itu, lingkungan masyarakat sekitarnya pun telah mengetahui bahwa ia seorang ODHA. Ia juga masih tetap dilibatkan dalam setiap kegiatan masyarakat.

Mengakhiri kisahnya, Ragil meninggalkan pesan,“Ketika teman-teman mendapati kawan kalian HIV positif, jangan pernah ditanya “dapat dari mana?”.  Dukung kami karena pengobatan kami ini akan berlangsung seumur hidup kami.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *