Dialog, Strategi Efektif Perjuangan Gay

by

Perjuangan identitas dan hak orientasi seksual masih harus menempuh jalan panjang. Para pemangku kepentingan mempertahankan parameternya sendiri. Komunitas Gay berusaha keras tetap eksis dan berusaha meluruskan pandangan masyarakat. Bagaimana gerakan perjuangan identitas mereka? Bagaimana respon mereka terhadap sikap MUI dan Depag Tasikmalaya yang akan membina dan menaubatkan? Berikut penuturan Orry Lesmana, aktivis perjuangan identitas gay dengan Hadziq Jauhary dari Swara Nusa.

Gay di Tasikmalaya akan dibina, disembuhkan dan ditaubatkan oleh MUI dan Depag. Pandangan Anda?

Kita harus jelas dulu, cara pandang MUI seperti apa, karena belum jelas sistem pertaubatan dan perekrutannya. Setelah itu baru ambil sikap. Mungkin pernyataan sikap dari teman-teman pascapublikasi sikap MUI dan Depag itu karena kebetulan bulan Mei merupakan Hari Antihomophobia Internasional. Mungkin MUI dan Depag membaca hal itu, sehingga menjadi momen mencoba memaksakan parameter MUI kepada kaum gay. Parameter yang pada akhirnya harus dijelaskan kepada masyarakat. Sebab, di dalam masyarakat/komunitas, ketika ada seseorang yang berbeda pandangan, akan dinyatakan salah. MUI dan Depag mencoba membangun parameter itu, homoseksual sebuah kesalahan sistem, penciptaan, dan kesalahan pendidikan.

Benarkah jika gay itu disebut penyakit mental?

MUI dan kaum gay masih berbeda pandangan. Wajar jika MUI menganggap gay sebagai individu yang salah dan harus “diluruskan”. Secara idealis, gay bukan penyakit mental atau gangguan jiwa. Hal ini disebutkan dalam Pedoman Penggolongan Gangguan Djiwa (PPGDJ) 2 Tahun 1986-1987. Masalahnya, ketika masuk ke masyarakat, terdapat perbedaaan pandangan, karena cara berpikir masyarakat masih konvensional, laki-laki harusnya dengan perempuan.

Apa yang dibutuhkan gay agar tetap eksis?

Bersosialisasi dengan baik. Cara pandang masyarakat masih dalam tataran 3 kategori, hedonisme, homeseksual masih dalam tataran hedonis: suka dugem atau minum-minum; feminin, gay itu pasti feminin, cowok ke cewek-cewekan; dan free seks, gay itu hanya sekadar hubungan seksual/anal seks.

Bentuk sosialisasinya?

Lakukan dialog dengan baik. Memang prosesnya sangat panjang. Tapi, lebih efektif, sama seperti di Belanda, saat menyatakan homoseksual boleh menikah. Yang jelas, bagaimana kita bisa melakukan proses dialogis dengan baik dan efektif.

Selama ini, ada tindakan yang tidak bisa diterima?

Paling, ya dianggap aneh oleh orang-orang sekitar. Kadang ada juga seseorang yang setelah tahu gay, langsung nggak mau dekat-dekat. Tapi kalau keluarga, tidak terlalu masalah. Meskipun keluarga memiliki religiositas yang cukup tinggi, tapi bisa menerima perbedaan pandangan. Kita mesti mencoba menjelaskan secara baik-baik kepada mereka, pelan-pelan, akhirnya mereka pun jadi paham dengan parameter yang ada.

Cara mengatasinya?

Dengan dialog. Secara otomatis, ketika orang-orang tahu, langsung menanyakan, disitulah mencoba masuk ke proses dialogis. Tapi, aku masih berpikir wajar ketika masyarakat berpandangan homoseks sebagai sebuah kesalahan, karena mereka berpikir dari kacamata mereka. Gay harus bisa mempertanggungjawabkan dan menjelaskan kepada masyarakat, bukan sekadar penerimaan, tentunya supaya mereka paham. Namun, jika mereka masih tidak paham, ya biarkan saja, toh itu pilihan mereka masing-masing. Aku tidak memaksa mereka untuk menerima keyakinan gay, masing-masing orang juga punya hak untuk menerima dan menolak suatu pandangan atau pendapat.

Strategi memperjuangkan hak-hak kaum gay yang selama ini cenderung terpinggirkan?

Aku secara pribadi, sudah melakukan proses pergerakan di grassroot (akar rumput-Red). Pergerakan dan perjuangan dalam hal ini harus dibedakan dulu. Sebab, ada orang yang menganggap homoseks sebagai salah satu faktor kunci penyebar HIV/AIDS. Padahal sebetulnya persentase gay sebagai penyebab HIV/AIDS hanya 3 persen. Menurut data penelitian ABIASA di Bandung, dari 156 gay yang melakukan VCT, hanya 8 yang positif terkena HIV, itupun sebagian waria. Dari hal ini, terbukti ternyata waria masih disamakan dengan seorang homoseksual.

Langkah selanjutnya, ke proses dialogis secara kontinyu, secara resmi melalui lewat seminar dan masuk ke kampus-kampus dan tidak resmi. Akan lebih elegan pula bagi gay, untuk masuk ke dalam komunitas, supaya ada timbal balik serta bisa mendeteksi permasalahan yang sedang dialami kaum gay dan mencari cara mengatasinya. Atau kalau memungkinkan, bisa dicari cara mengubah Perda yang merugikan kaum homoseksual.

Namun, dikembalikan lagi ke masing-masing orang. Masuk ke komunitas, tidak bisa dipaksakan, karena itu pilihan dan hak masing-masing gay. Untuk tetap eksis, gay yang tidak masuk komunitas, pasti punya cara sendiri. Namun kecenderungannya selama ini, gay yang tidak mau masuk komunitas, lebih banyak dikucilkan lingkungan sekitarnya. Mulai dari bentuk tekanan masyarakat, tekanan lingkungan, tekanan keluarga, hingga tekanan pribadinya. Ketakutan mereka diusir, ditekan, serta ketakutan tentang cara pandang masyarakat. Untuk itu saran Aku, akan lebih baik jika kaum gay itu masuk ke dalam sebuah komunitas, selain akan membuatnya lebih nyaman, dia juga akan dapat memperjuangkan haknya sama seperti orang lain di sekitarnya.

Ada beberapa pihak, mengkhawatirkan perilaku seks gay membayahayakan orang-orang di sekitarnya.

Itu kan hanya justifikasi dari seseorang. Secara pribadi, Aku justru tidak terlalu senang dengan kalangan medis. Salah satunya karena pandangan mereka masih terlalu pragmatis. Misalnya, anus tidak bisa dimasukin, padahal dokter tahu, ketika ada benda asing masuk dalam anus, anus bisa menariknya. Jadi, anal seks juga ada teori medisnya, gimana cara bisa menikmatinya atau G-Spot cowok ada di mana. Namun, karena dokter masih berpikir pragmatis, akhirnya mereka berpikir dari kacamata mereka sendiri dan tetap pada akhirnya gay dianggap salah, terutama lagi para psikiater. Seringkali psikolog dan psikiater bentrok tentang cara pandang homoseksual. Aku sendiri lebih cocok dengan psikolog, sebab lebih mengerti gimana perasaan gay itu. Oleh karena itu, akan lebih baik jika gay datang kepada psikolog. Kalau datang ke psikiater, mau dikasih obat, lha emangnya kita siapa?

Bagaimana mestinya pemerintah dan masyarakat terhadap gay?

Yang utama, jangan men-judge, apalagi secara hukum. Misalkan, dalam Perda di Aceh, yang menyatakan homoseks masuk dalam pelacuran. Dalam hal sikap MUI dan Depag Tasikmalaya, harus dilihat dulu proses perekrutannya. Kalau proses perekrutannya seperti di Aceh, dengan menciduk gay secara paksa, itu pelanggaran HAM. Namun, kalau bentuknya melalui pendaftaran, misalnya, pasang iklan atau pemberitahuan “siapa dari gay yang mau bertaubat?”, silakan mendaftar. Itu sah-sah saja dan tidak termasuk pelanggaran HAM, karena itu keinginan pribadi seseorang. Tapi pasti jarang ada yang mau, melihat betapa sulitnya memaksa gay ikut pembinaan. Kita pun tidak tahu bagaimana proses pembinaannya. Kalau dimasukkan ke dalam pesantren, satu ruangan cowok semua, pasti deh justru tambah hancur. Proses pendidikannya juga harus dilihat, seperti apa, berapa lama, keteraturan progress atau rencana dan tujuan pendidikannya. Parameter keberhasilannya harus ditentukan dengan serius pula.

Saran bagi MUI dan Depag Tasikmalaya?

Pertama, bukalah ruang dialog secara bertahap. Aku membaca, yang akan dilakukan MUI dan Depag Tasikmalaya itu, sebuah bahasa proyek. Artinya di belakang rencana itu, ada proyek miliaran rupiah. Namun, kita berpikir positif dulu lah. Daripada duit itu untuk buka pelatihan, lebih baik digunakan untuk proses dialog dengan kaum gay dan stakeholderlainnya. Itu belum pernah dilakukan, Aku pun hingga kini belum berhasil mengajak MUI Jateng untuk berdialog tentang masalah gay itu.

Kedua, akan lebih baik jika antara MUI dan Depag tidak sering bentrok dengan para aktivis, baik aktivis kiri maupun aktivis homoseksual, dengan membuat label atau men-judge dulu, gay itu buruk. Dengan adanya dialog, akan ada pemahaman yang baik tentang homoseksual, tidak harus seirama dengan pemikiran gay kok. Dengan membuka dialog, MUI dan Depag akan memahami gay. Hal ini seperti yang terjadi di Iran. Teman-teman transeksual dan homoseksual di negara itu, mengadakan dialog dengan para ulama, menyelenggarakan seminar kecil atau istilahnya politik warung kopi. Dari sana akan ditemukan solusi-solusinya.

Memang itu butuh waktu yang lebih lama, tetapi biayanya lebih murah. Yang melakukan dialog MUI, Depag, teman-teman pergerakan (bukan personal), dokter, psikiater, dan psikolog. Arah dialog yang tertinggi, perubahan paradigma MUI, syukur-syukur nantinya pemahaman paradigma ulama di Indonesia seperti ulama-ulama di Iran. Meskipun solusi secara idealisme tidak bisa sesuai betul dengan pemahaman kaum homoseksual. MUI dan Depag yang akan membina dan mentaubatkan kaum gay, ada sisi positifnya juga. MUI dan Depag akhirnya konsen menangani gay, meskipun secara idealisme dan paradigma berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *