Dialog, Strategi untuk Perjuangan Identitas

by

Pluralitas (keberagaman) adalah sesuatu yang ada di sekitar kita. Bukan hanya suku, agama, ras, dan antargolongan, pluralitas mencakup banyak hal. Persoalan jender dan orientasi seksual saat ini menjadi isu yang semakin sering dibicarakan. Kelompok minoritas–kelompok di luar kelompok mainstream–berupaya keras supaya keberadaan mereka diterima di masyarakat luas. Lantas upaya apa saja yang perlu dilakukan dalam mengelola keberagaman yang ada? Berikut wawancara Desi Susany dari Swaranusa dengan Listia, S.Ag, M.Hum, seorang peneliti pluralisme di Institute DIAN/Interfidei.

Sejak kapan bergabung dengan Institute DIAN/Interfidei?

Saya menjadi staf di Institute DIAN/Interfidei sejak Februari 2003. Tetapi sejak tahun 2000 sudah aktif mengurusi kesekretariatan di Institute DIAN/Interfidei.

Mengapa tertarik bergabung dengan Institute DIAN/Interfidei?

Sebenarnya ada misi pribadi. Sejak kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, jurusan Filsafat, bersama teman-teman sering mengadakan diskusi dan membentuk perkumpulan Lingkar Kubah. Pada saat itu saya berpikir, mengapa orang beragama kalau mau dikatakan ‘shaleh’ lalu tidak bisa terbuka terhadap yang lain?

Pada 2004 mengadakan diskusi dengan banyak teman yang berbeda keyakinan, seperti Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PEMKRI) dan Asram Hindu. Di situ kami mencoba  menjalin hubungan mencairkan suasana untuk bisa bertanya tentang banyak hal. Keprihatinan kami pada waktu itu tentang keagamaan, kalau bisa terbuka kenapa harus seolah-olah dibuat  tertutup.

Pada tahun 1996 kami sering berada di tempat Romo Mangunwijaya, membangun suasana membicarakan banyak hal berkaitan dengan pluralisme. Kami mulai melontarkan kritik tentang politisasi agama dalam peristiwa pembakaran sejumlah gereja di Situbondo. Kelompok kami mencoba membuka kesadaran untuk tidak menutup diri terhadap persoalan pluralisme.

Pada tahun 1999 kami mendirikan perkumpulan “Komunitas Tikar Pandan”, mengadakan kegiatan diskusi isu-isu aktual seputar keagamaan. Komunitas Tikar Pandan pernah mendapat penghargaan dari Kapal Perempuan. Kami giat mengkampanyekan pluralisme dan kesetaraan jender.

Bagaimana peran Institute DIAN/Interfidei dalam persoalan kemanusiaan?

Institute DIAN/Interfidei mempunyai dua misi utama. Pertama, membangun kesadaran kritis di kalangan umat beragama dan masyarakat terhadap persoalan yang berkaitan dengan beragama. Pada masa pemerintahan Soeharto proses politisasi agama sangat kuat. Perkawinan antara kepentingan elit kuasa dan elit agama demikian kuat. Sehingga berdampak bagi upaya pengembangan keagaaman yang terbuka dan aktual. Pada waktu itu tidak ada dukungan sama sekali terhadap keterbukaan pluralisme.

Kedua, mendorong kalangan umat beragama untuk mengembangkan wacana agama yang berpihak pada kemanusiaan. Institute DIAN/Interfidei juga memberikan pendidikan alternatif berkaitan dengan pluralisme melalui studi agama. Masyarakat, dalam hal ini umat beragama, difasilitasi untuk belajar agama melalui berbagai workshop. Masing-masing umat saling mengklarifikasi kesalahpahaman. Kemudian Institute DIAN/Interfidei  mengadakan kursus studi agama dan masyarakat.

Tema apa saja yang diangkat?

Biasanya berkaitan dengan kemanusiaan, seperti kemiskinan, trafficking (perdagangan manusia), dan jender. Kaitannya dengan PKBI, mendorong umat beragama mengembangkan wacana yang berpihak pada kemanusiaan. Contohnya di daerah Bali. Kami berupaya mendorong para penjaga tradisi, mengambil istilah dari Anthony Giddens, mengubah sikap dalam memandang persoalan HIV dan AIDS. Secara umum para penjaga tradisi masih berpandangan, HIV dan AIDS kutukan. Kita tidak bisa menyangkal masih sedikit penjaga tradisi yang terbuka.

Di sini kami berusaha mengubah pandangan mereka untuk tidak meminggirkan kelompok minoritas. Sasaran kami memang para pemuka agama karena tradisi yang paling kuat lewat agama.

Bagaimana Anda memandang pluralisme (keberagaman)?

Keberagaman aspeknya sangat banyak. Karena demikian banyaknya orang menganggap bukan persoalan. Kalau sesuatu yang berkaitan dengan nilai, penghargaan akan hidup akan menjadi sangat kontroversial terkait dengan segi sistem norma dan tata nilai yang berbeda.

Dalam banyak hal paham keagamaan berbeda. Namun ada beberapa persoalan yang sama. Misalnya soal pernikahan. Semua agama menganggap pernikahan sangat sakral. Dari persoalan pernikahan akan muncul turunan keragaman. Permasalahan perempuan dan laki-laki menyangkut persoalan jenis kelamin. Kemudian orientasi seksual dan juga perilaku seksual. Varian-varian itu ragamnya banyak. Pengandaiannya, masyarakat yang makin multikultur makin terbuka karena ragam orang makin banyak. Tetapi terkadang belum ada kesiapan akan hal itu. Dulu mungkin hanya adat-istiadat yang berbeda. Ada banyak kasus para penjaga tradisi, dalam hal ini agamawan, butuh pegangan sesuatu yang jelas. Mereka tidak siap ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pikirannya. Misalnya, persoalan orientasi seksual. Persoalan ini  akan sangat sulit jika dihadapkan dengan agama. Banyak orang menjadi takut bila pernikahan tidak lagi ‘suci’. Orang terbiasa dengan perselingkuhan dan anak-anak tidak jelas siapa yang menjaga. Itu merupakan ketakutan yang ada yang harus kita perhatikan.

Lalu bagaimana solusinya?

Harus ada strategi yang bijaksana karena ada mekanisme penjagaan tradisi yang juga diperbaharui di kalangan tradisionalis. Pluralisme dalam hal pluralitas budaya berkaitan dengan perilaku. Sehingga masing-masing pihak harus punya kearifan.

Sekarang ini kita dihadapkan pada situasi sosial yang berubah. Tetapi kita juga memperjuangkan rasa aman dan martabat bagi kelompok minoritas. Situasi perubahan sosial yang tidak menentu menjadikan orang gelisah. Daripada nanti menimbulkan sikap antipati lebih besar sebaiknya kita bersikap lebih bersabar, lebih elegan, dan memakai strategi yang dialogis. Menciptakan ruang-ruang untuk mendengar terhadap perbedaan yang sangat prinsip.

Dialog penting sekali. Kita  tidak bisa mengambil jarak dan membuat benteng tapi perlu membuka jembatan untuk berdialog memberi kesempatan untuk mendengar problem yang dialami kelompok minoritas. Bisa jadi sikap-sikap tidak bersahabat yang muncul dikarenakan tidak ada akses untuk saling memahami. Jika kita tidak mau mendengar persoalan hidup, maka yang ada sikap menghakimi,. Jika tidak ada pertemuan akan sulit untuk dapat menghargai. Mungkin kawan-kawan bisa mulai terbuka terhadap diri sendiri. Membuka diri untuk membangun jembatan supaya ada ruang untuk saling mendengar. Apa yang menjadi kekhawatiran dari para penjaga tradisi perlu kita dengar. Sebaliknya kita juga perlu menyampaikan kepada mereka yang menyangkut harkat dan martabat yang juga menjadi perjuangan agama.

Hal konkret seperti apa yang perlu dilakukan?

Kita gunakan saja kultur yang ada di masyarakat. Bersilaturahmi kepada para penjaga tradisi (tokoh agama dan tokoh masyarakat). Memang kita harus ‘tebal muka’. Mungkin kedatangan pertama akan dicaci-maki. Namun lama-lama mereka pasti mau mendengar dan kemudian bertanya. Selanjutnya akan berlangsung dialog dan kerja sama. Selain itu kita perlu mengundang para penjaga tradisi dalam acara-acara tertentu. Misalnya saja berkaitan dengan kampanye kondom. Sekarang ini mungkin sedang macet karena ada penolakan keras. Argumentasi tidak tersampaikan. Pada saat yang bersamaan kita perlu mendengar kekhawatiran dari para penjaga tradisi dan masyarakat.  Jika dapat terjadi sebuah kerja sama maka akan terjadi percepatan hasil dari perjuangan kita.

Bagaimana mengelola pluralisme?

Kesediaan membuka diri terhadap yang berbeda. Kalau hanya berbicara internal dengan orang yang sepaham akan sulit. Bagaimana kita bisa masuk ke ruang publik jika masih melakukan monolog internal? Benar bahwa memperjuangkan kelompok minoritas untuk dihargai adalah hal yang mulia. Tetapi ketika wacana ini dibawa kepada yang berbeda maka perlu kebesaran hati untuk terbuka dan mendengar. Jika masih eksklusif, jangan dulu berbicara mengelola keberagaman. Seperti halnya daerah-daerah yang telah menerapkan Peraturan Daerah (Perda) yang cukup merugikan dan menindas kelompok minoritas. Terpenting dari semua itu adalah jangan pernah berpikiran ada musuh di dalam masyarakat karena akan membuat penjara dalam diri kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *