Diperkirakan 50 juta perempuan Rentan Tertular HIV dari Pasangannya

by

Strategi internvensi dalam agenda pencegahan HIV tampaknya sudah harus lebih diperluas area kerjanya. Diperkirakan 50 juta perempuan yang menjadi pasangan seksual yang cukup lama dari laki-laki yang berada dalam perilaku berisiko, memiliki kerentanan sangat tinggi tertular HIV.

“Penularan HIV dari Pasangan Intim ini merupakan problem besar, karena banyak negara yang menolak secara luas,” kata JVR Prasada Rao, Direktur Regional Support Team for Asia dan Pasifik UNAIDS.

Faktanya, kata Rao, 90% dari 1,7 juta perempuan yang hidup dengan HIV terpapar HIV dari suaminya dan dari pasangannya yang pernah menjalin hubungan dalam waktu yang lama. “Mereka seringkali disebut sebagai ‘resiko rendah’, sehingga terjangkau secara kuat dalam respon setiap negara.

Situasi seperti ini, menuntut untuk terpenuhinya kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan, baik dalam level ketersediaan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksual, hak kesehatan reproduksi dan seksual maupun layanan kesehatan itu sendiri. “Kami harus menjamin infrastruktur perawatan kesehatan yang sedang dikembangkan banyak negara harus memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan kesehatahan reproduksi perempuan termasuk menyediakan informasi tentang kesehatan dan hak reproduksi dan sekual,” katanya.

Berbicara dalam peluncuran hasil riset tentang ‘Penularan HIV dalam Hubungan Partner Intim di Asia, Prasada Rao juga mengatakan kerangka pengembangannya harus mencakup layanan yang bisa melindungi perempuan agar mereka tidak terpapar HIV. “Riset ini menuntut adanya integrasi secara horisontal yang kuat dari layanan kesehatan reproduksi dan program AIDS pada level akar rumput,” katanya.

Berkaitan dengan persoalan ini, Michel Sidibe, Direkrut Eksekutif UNAIDS mengatakan penghentian kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan sudah diadopsi menjadi salah satu dari sembilan prioritas dalam Outcone Framework yang diadop oleh UNAIDS. Selain itu perlu melakukan pemikiran ulang secara fundamental bagaimana mendekati maskulinitas negatis dan jender. “Kita sudah belajar banyak mengenai bekerja dengan komunitas dalam merespons AIDS, sekarang saatnya untuk memperluas dengan laki-laki dengan cara hampir sama,” katanya.

Tindakan yang mendesak dilakukan saat ini, membangun gerakan kolektif dengan mengambil strategi mengeluarkan ekslusifitas respons AIDS dan membangun kerja sama. Menyatukan gerakan kekuatan gerakan perempuan dengan gerakan respons AIDS dan mengembangkan gerakan tanggungjawab laki-laki.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *