Diskusi dengan Dede Oetomo

by

Dede Oetomo, pendiri Gaya Nusantara dan calon anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, berkunjung ke PKBI DIY (1/7). Kunjungan tersebut diisi dengan diskusi mengenai gender dan seksualitas yang dihadiri oleh orang muda dari berbagai latar belakang.

Diskusi dibuka dengan sesi perkenalan dimana Dede menjelaskan bahwa latar belakang pendidikannya adalah ilmu bahasa. Akan tetapi ketika berusia 20 tahun, Dede mulai bergumul dengan dirinya sendiri dan mempelajari seksualitas secara mandiri. Sementara tentang gender, Dede berkelakar bahwa sejak masa kanak-kanak dia telah mempelajarinya secara tidak langsung karena dari kecil “kelaki-lakian” Dede telah dipertanyakan oleh teman-teman, tetangga, dan bahkan dirinya sendiri. Dede menambahkan, sebagai orang yang lahir dalam kultur Jawa Peranakan maka tidak heran mengapa dirinya suka berorganisasi. Di tahun 2000an Dede mulai berparadigma untuk mendidik teman-teman LGBT.

Berbicara sejarah, menurut Dede sebenarnya kurang tepat jika pergerakan LGBT dikatakan mulai dari 1982 karena sebenarnya di Indonesia komunitas waria telah memulai pergerakannya di tahun 1960an. Bahkan jika merujuk dari naskah-naskah kuno maka kehidupan LGBT di Indonesia sudah ada sejak dahulu kala. Mengenai pergerakan komunitas lesbian, Dede berpendapat bahwa secara konseptual teman-teman lesbian lebih matang tetap pergerakan mereka kurang progresif. Salah satu alasannya adalah karena pergerakannya dimulai dari sudut pandang gender.

Setelah semua peserta diskusi memperkenalkan diri, sesi tanya-jawab dimulai. Pertanyaan pertama dilontarkan oleh Didin. Dia menanyakan untuk apa mengungkit-ungkit kembali sejarah yang sudah berlalu padahal saat ini teknologi telah berkembang pesat dan saatnya kita berubah.

Dede menjawab bahwa memang sejarah tidak akan bisa dibawa kembali ke masa kini dan sebaiknya memang tidak mengagung-agungkan sejarah karena banyak yang tidak pro perempuan. Akan tetapi Dede kemudian mengajak peserta diskusi untuk berpikir kritis, sebenarnya seperti apa yang dimaksud dengan “Budaya Indonesia”? Menurutnya, adat ketimuran khususnya pendidikan moral Indonesia merupakan kombinasi dari tiga hal, yaitu moralitas Belanda akhir abad 19, pendidikan modern, dan rasa kalahnya pemimpin Indonesia.

Dalam naskah-naskah kuno ada bagian yang menyinggung homoseksualitas, misalnya saja dalam Serat Centhini dan Ila Galigo. Bahkan pernah diduga bahwa para Teuku di Aceh menjadi semacam Warok yang memiliki gemblakan, dan mereka umumnya memilih anak atau remaja dari Minang karena ketampanannya. Perlu diakui memang dalam naskah-naskah kuno Indonesia, cerita tentang hubungan antara perempuan dan perempuan lebih sedikit daripada laki-laki dan laki-laki. Hal ini dikarenakan sudut pandang yang digunakan adalah patriarkis.

Selain itu, Dede juga mengingatkan bahwa istilah “gay” tidak bisa digeneralisir pada semua jaman karena di setiap jaman dan budaya ada istilahnya sendiri. Istilah “gay” sendiri mulai digunakan di negara Barat sejak tahun 1869 dan sejak itu juga “gay” mulai dianggap sebagai kelainan. Namun sejak tahun 1973 homoseksualitas dikeluarkan dari daftar gangguan mental dan kejiwaan. Dede menegaskan bahwa kita perlu lebih menggali istilah dan sejarah pergerakan LGBT di Indonesia.

Pergerakan LGBT di Indonesia saat ini sudah lebih maju bila dibandingkan dengan tahun 1980an. Menurutnya saat itu belum ada jaringan LGBT dan belum masuk wacana umum. Dede yang juga menjadi calon anggota Komnas HAM mengatakan bahwa saat ini sudah cukup banyak anggota Komnas HAM yang paham akan feminisme dan LGBT dibandingkan dengan periode terdahulu yang masih sangat sulit untuk membicarakan gender dan seksualitas.

Diskusi kemudian berlanjut dengan tema agama. Dede mengatakan bahwa dirinya anti dengan agamais, yaitu orang yang memanfaatkan agama untuk kepentingan politik. Masih berbicara tentang agama, menurut Dede institusi perkawinan adalah alat diskriminasi bagi orang-orang yang tidak menikah.

Kembali ke pertanyaan Didin mengenai sejarah dan perkembangan teknologi, Dede setuju bahwa internet dapat digunakan sebagai senjata. Media sosial di internet merupakan senjata ampuh untuk mengangkat wacana LGBT.

Seorang peserta, Gama, kemudian berpendapat bahwa keterputusan generasi dapat berpengaruh pada pergerakan LGBT. Dede menanggapi bahwa dilihat dari sisi positif tidak ada kelompok yang dominan. Justru gerakan untuk masa depan miliknya generasi muda. Dede bercerita bahwa dulu yang dilakukan komunitasnya adalah mengumpulkan semua terbitan tentang LGBT. Memang menjemukan saat itu, tetapi senior Dede mengatakan bahwa kita harus siap jika ada yang membuka peristiwa sejarah.

Bibie, peserta lainnya, mengangkat isu penyerangan diskusi dengan Irshad Manji di LkiS Yogyakarta. Menurut Dede usaha para korban untuk melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian sudah bagus. Dia menegaskan bahwa sekarang bukan saatnya menyerah, tetapi terus melawan walau mungkin perlawanan kita akan sangat menjemukan. Dede menambahkan bahwa efek peristiwa semacam itu tidak selalu buruk karena justru akan semakin menguatkan pergerakan komunitas. Tidak tahun ini, tetapi mungkin (red.-pergerakan) tahun depan akan menjadi lebih besar.

Dede menyatakan bahwa kita memang sedang perang, tetapi kita tidak menggunakan kekerasan. Senjata yang kita gunakan adalah pendidikan. Pendidikan tentang gender dan seksualitas merupakan investasi jangka panjang sehingga harus terus-menerus dilakukan. Terus berjuang!

edL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *