Dispora DIY Dukung Pendidikan Kespro Masuk Mulok SMP

by

Sejalan dengan perjuangan agar pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual masuk muatan lokal sekolah menengah di Yogyakarta, PKBI DIY bekerja sama dengan Rutgers WPF menyelenggarakan “Pelatihan Modul Kesehatan Reproduksi dan Seksual” bagi guru-Pguru SMP. Pelatihan yang dilaksanakan selama 6 hari (28/01-02/02) di Hotel Cailendra Extention tersebut, dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Drs. Kadarmanta Baskara Aji. Pada kesempatan itu, Kadarmanata menyatakan persetujuannya akan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual masuk dalam materi pembelajaran di sekolah, khususnya bagi peserta didik SMP.

“Penyusunan materi dan pelatihan ini tentu membawa manfaat untuk sekolah dan siswa karena pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual yang ada di sekolah itu harus dimulai sejak SMP. Malah saya berpikir harusnya sejak SD. Saran saya, ini bisa menjadi ekstrakurikuler wajib, mulok pilihan atau terintregrasi dengan pelajaran bimbingan konseling,” lanjut Kadarmanta.

Kadarmanta juga memberikan dukungan dengan menyatakan bahwa dirinya siap untuk berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait di tingkat daerah dan memberikan rekomendasi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar pendidikan kesehatan reproduksi bisa diajarkan di sekolah-sekolah, jika sistem dan perangkatnya memang sudah

Pelatihan yang melibatkan 6 sekolah dari Yogyakarta dan Sleman ini dilakukan sebagai langkah fiksasi modul pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual, serta membekali guru SMP dalam menyampaikan materi pendidikan kesehatan reproduksi seksual secara benar dan lebih mudah diterima oleh peserta didik. Seperti yang disampaikan salah seorang peserta dari SMP Negeri 1 Yogyakarta, Trisakti.

“Kami butuh metode agar siswa bisa memahami pendidikan kesehatan reproduksi agar mereka tidak lagi tabu membicarakannya. Siswa harus diberi pendidikan kespro yang benar karena informasi mengenai pendidikan kesehatan reproduksi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu sangat banyak,” kata Trisakti. Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual menjadi hal yang penting untuk bisa disampaikan kepada remaja karena di masa remaja seseorang mengalami perubahan, baik secara fisik, psikologis dan juga sosial.

Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual ini diharapkan bisa menjadi bekal remaja untuk bisa lebih mengenal dirinya, risiko atas pilihan-pilihan yang ada serta menjadi bertanggung jawab atas pilihan yang diambil terkait perilaku seksualnya Sanderijn, fasilitator pelatihan yang juga Technical Advisory Rutgers WPF menyampaikan pentingnya pelatihan ini karena hanya dengan membaca materi saja tidak akan cukup bagi guru. Isu-isu yang ada dalam modul ini membutuhkan seseorang yang tidak hanya mampu memberikan informasi, tapi juga bisa menyampaikannya secara interaktif dan menyenangkan.

“Pengalaman saya dengan banyak orang dewasa menganggap bahwa remaja itu tidak bertanggung jawab dan mempunyai banyak sisi negatif. Hal ini membuat remaja yang ingin belajar menjadi tidak tertarik dan saya rasa perspektif ini harus diubah. Guru harus menghormati remaja, menganggap serius apa yang mereka bicarakan sehingga informasinya bisa tersampaikan,” tambah Sanderijn.

Kesehatan reproduksi dan seksual merupakan salah satu hak remaja. Pemerintah tentu saja harus berkomitmen terhadap pemberian hak tersebut, sejalan dengan komitmen pemerintah terhadap kesepakatan yang ditandatangani pada International Conference on Population and Development (ICPD) pada 1994 di Kairo yang salah satu poinnya adalah penyediaan akses informasi tentang kesehatan reproduksi bagi semua orang, termasuk remaja.

(Fita Purwantar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *