Dr. Ahmad Ahadi Menjawab Mitos Seputar HIV dan AIDS

by
Dr. Ahmad Ahadi Menjawab Mitos Seputar HIV dan AIDS
Sesi diskusi peringatan Malam Renungan AIDS Nusantara di Youth Center PKBI DIY, Senin (14/05)

Selama ini, HIV dan AIDS selalu diidentikkan dengan hal-hal negatif. Stigma yang melekat pada mereka yang terpapar HIV dan AIDS  tak lain karena banyaknya mitos yang beredar dalam masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan Orang Dengan HIV&AIDS (ODHA) terkadang merasa didiskriminasi.

Menanggapi hal tersebut, dr. Ahmad Ahadi dari Dinas Kesehatan Provinsi D.I Yogyakarta membagikan informasi seputar HIV dan AIDS  dalam acara diskusi Nyore di Kebun #9 bertempat di Youth Center PKBI DIY.

Ahmad menjelaskan bahwa HIV merupakan kependekan dari Human Immunodeficiency Virus. Dalam gejala lanjut, HIV dapat berubah menjadi AIDS. Meskipun merupakan virus menular, penularan HIV dan AIDS  tidaklah mudah. HIV dan AIDS  hanya dapat menular melalui dua media saja, yakni: darah dan cairan kelamin. “Sehingga, penularan penyakit ini hanya bisa melalui cara khusus. Pertama, hubungan seks dan yang kedua dengan jalan nyuntik,” terang dokter yang telah berkecimpung  dengan isu ini sejak tahun 2007.

Selain  itu, terdapat empat syarat yang harus dipenuhi agar virus tersebut dapat menjangkit orang lain. Syarat tersebut adalah exit, survive, sufficient, dan enter. Artinya, virus HIV mampu bertahan hidup saat keluar dari penderita dan saat masuk ke tubuh orang lain jumlahnya harus cukup untuk menginfeksi.

Tidak boleh ada Stigma

Ahmad lebih lanjut menerangkan bahwa seorang ODHA tidak boleh mendapat stigma negatif apalagi didiskriminasi. “Saya wakil dari pemerintah menyatakan bahwa seorang HIV positif bukan berarti dia tidak manusia. Mereka tidak boleh dikucilkan,” tegas Ahmad.

Untuk itulah, seorang ODHA harus mendapatkan akses yang sama dalam bidang pendidikan atau pekerjaan. Sampai sekarang, tidak ada payung hukum yang menyatakan bahwa seorang HIV positif boleh dipecat dari pekerjaannya. “Orang yang HIV tidak berarti ia bodoh. Hal ini berbeda dengan pengguna narkotika, karena narkotika itu menyerang sistem saraf pusat. HIV tidak.” Ahmad menambahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *