Emha Ainun Nadjib: Negeri ini Menghamba Pasar Bebas

by

Berbagai persoalan sosial masih terus muncul dan tidak terselesaikan. Sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk merenung sejenak, dan menimbang kembali segala tatanan dan perilaku secara kritis. Tatanan sosial dan politik negeri ini terlalu menghamba ke pasar bebas dan industrialisme. Akibatnya, terjadi humanisasi. ”Manusia hanya menjadi obyek sekaligus instrumen politik dan pratik-prakti ekonomi pasar,” ujar Emha Ainun Nadjib di sela-sela persiapan Pentas Musik Puisi ”Jangan Cintai Ibu Pertiwi”.

Dosis penderitaan Ibu Pertiwi pun semakin tinggi yang disebabkan ulah anak-bangsanya sendiri yang tidak terkontrol, secara politik dan ekonomi. Dari rezim ke rezim, Ibu Pertiwi selalu ditikam pisau pengkhiantan anak-anaknya sendiri. Pementasan “Jangan Cintai Ibu Pertiwi”, merupakan puisi panjang sebagai sikap dan respons Emha Ainun Nadjib, terhadap kondisi ke-Indonesia-an hari ini. Melalui puisi panjang inilah akan bisa melihat dinamika muatan nilai-nilai dan aspirasi yang multidimensional berdasarkan apresiasinya terhadap berbagai problem di negeri ini. “Seluruhnya merupakan kekaguman kepada Ibu Pertiwi, upaya menjunjung tanah air, dengan sejumlah keprihatian terhadap yang menimpanya,” kata Emha.

Pagelaran repertoar musik puisi ini dilakukan menyusul sukses yang diraih pementasan di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Pementasan akan dilakukan Gedung Kesenian Jakarta, 2 dan 3 April 2009. Pementasan melibatkan 40 personil, mulai dari pemusik, pembaca puisi, pemain teater, piñata artistik, tim kreatif, sampai tim produksi. Dengan pengalaman pementasan Musik Kiai Kanjeng di rubuan tempat di tanah air dan hampir di 40 kota besar di dunia, Eko Nuryono, Pimpinan Produksi pementasan ini, merasa optimis sajiannya akan menarik dan menawarkan refleksi yang bernilai. ”Direncanakan pementasan akan dikelilingkan di beberapa kota,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *