Film Bulu Mata Dan Keresahan Tony Trimarsanto Tentang Isu Waria

by
tonny trimarsanto
Tonny Trimarsanto tengah menjadi Narasumber pemutaran film bulu mata dalam acara Nyore di Kebun YC PKBI DIY Tamansiswa. Senin (14/05)

Film Bulu Mata mendapat apresiasi yang luar biasa, baik dari khalayak luas maupun penikmat film. Terbukti, film garapan sutradara Tony Trimarsanto ini berhasil menjadi pemenang Kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik pada malam anugerah Festival Film Indonesia (FFI) 2017.

Bulu Mata mengangkat tema yang tak biasa. Ide awal pembuatan film ini bermula dari request salah satu LSM yang ingin dibuatkan sebuah film yang menceritakan transgender di Aceh. “Film transgender saja sudah menarik, apalagi lokasi di Aceh lebih menarik lagi,” terang Tony dalam acara Nyore di Kebun #9 bertempat di Youth Center PKBI DIY.

Lebih lanjut kepada SwaraNusa.net, Tony Trimarsanto berbagi pengalamannya mulai dari proses produksi Film Bulu Mata hingga pandangannya terhadap isu-isu waria dewasa ini.

Mengapa Film ini diberi judul Bulu Mata?

Sebenarnya tidak ada pretensi apa pun. Karena waktu shooting, saya menemukan kok banyak sekali ya bulu mata waktu saya di salon. Selain itu, mereka juga seringkali mengenakan bulu mata saat mau keluar. Gitu aja.

Pendekatan seperti apa yang digunakan tatkala wawancara dengan orang tua waria?

Standar sebenarnya, sebagaimana jurnalisme itu berjalan. Kita nggak langsung nodong pakai kamera. Saya justru ngobrol dulu, saya kenalan dulu. Satu atau dua hari baru ngobrol dengan ibunya atau dengan tetangganya. Saya membangun kepercayaan mereka dulu. Karena saya masuk ke ruang baru, ketemu orang asing, membuat mereka bebas bercerita itu tidak gampang.

Film Bulu Mata sudah diputar di berbagai kota, apakah ada tanggapan dari orang tua waria yang ikut menonton film ini?

Kalau yang seperti itu belum. Cuman yang menarik ketika film ini saya putar, mereka bilang, “Saya punya pengalaman baru”, “Cara pandang saya tentang waria sekarang berbeda”, atau “Saya menyesal kenapa saya dulu mem-bully mereka”. Jadi film ini memang bertujuan membuka perspektif sih. Penonton sendiri yang menilai, bukan saya.

Dengan detail yang tersaji dalam film tersebut, sebenarnya penggambaran seperti apa yang Mas Tony inginkan?

Satu mimpi saya yang selalu ada dalam setiap film itu adalah equality (kesetaraan,-red). Ketika kita tidak setara itu selalu ada yang dominasi. Tetapi ketika kita setara, semua enak. Semua ada komunikasi, selalu terbuka, dan saling menghargai.

Saya selalu bermimpi bahwa kesetaraan itu ada dalam film saya. Makanya ide besar dari film ini adalah kesetaraan, bagaimana kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Saya percaya kok kalau kita setara semuanya akan aman, tidak ada dominasi, tidak ada tekanan, atau pun komunikasi sepihak.

Prihatin Filmnya Terus Diputar

Sudah berapa lama Mas Tony bergerak dalam isu-isu minoritas?

17 tahun

Selama rentang waktu itu, Apakah Mas Tony merasa perlakuan masyarakat kepada waria mulai berubah atau ada perbedaan?

Saya kira semakin buruk ya.

Mengapa demikian?

Karena mungkin ada suatu kesalahan design pada penggunaan istilah LGBT.

Sejak kecil saya kenal waria di Indonesia nggak bermasalah kok. Tapi ketika ada adopsi istilah LGBT, kesannya menjadi produk impor. Masyarakat jadi menganggap bahwa LGBT ini asing, harus ditolak, dan bermasalah.

Mulai merasa dampak buruk itu sejak kapan?

Saya merasakan ternyata film yang saya buat 10 tahun yang lalu masih aktual isunya sampai sekarang. Itu artinya kondisinya semakin buruk. Kalau film yang saya buat dulu tidak aktual di tahun ini, berarti persoalan sudah selesai.  Ternyata, film saya dulu Renita Renita (juga berkisah tentang waria,-red) sampai sekarang masih diputar dimana-mana, diminta jadi bahan diskusi, dan jadi kajian di banyak kampus.

Saya merasa prihatin jika film saya masih aktual dan kontekstual hingga hari ini. Berarti apa? Terjadi kemunduran yang luar biasa. Dari tahun itu sampai sekarang tidak ada perubahan sekalipun.  Makanya, saya semakin spesifik dengan isu-isu seperti ini, isu-isu minoritas.

Mengakhiri perjumpaan dengan SwaraNusa.net, Tony meyakini bahwa waria, di Aceh khususnya, akan tetap dapat bertahan seberapa pun besarnya permasalahan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *