Gerakan LGBT: Belajar dari Sejarah

by

Suasana  akrab dan hangat terlihat di Gazebo PKBI DIY pada Jumat sore (12/7). Dede Oetomo, pendiri Gaya Nusantara yang kebetulan  sedang mengajar summer program  VIA (Volunteers in Asia) di Jogja, menyempatkan diri berdiskusi tentang Sejarah Gerakan LGBT di Indonesia bersama sekitar 35 peserta dari berbagai organisasi seperti PLU Satu Hati, PKBI, IWAYO, HIMAG dan ada pula yang datang secara independen.

Dede memaparkan bahwa hubungan seksual laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, atau laki-laki dengan waria dan perempuan dengan waria, telah ditemukan sejak dulu. Namun pada masa itu belum ada pelabelan. Identitas menjadi hal yang tidak penting.

“Munculnya identitas itu karena ada dorongan dari orang-orang yang menunjukkan identitasnya itu hidup tidak sejahtera, tidak setara dengan yang lain,” kata Dede.

Dede menuturkan, kesadaran berorganisasi pertama kali muncul di komunitas waria pada tahun 60-an dengan berdirinya Himpunan Wadam Jakarta dan Paguyuban Waria Mataram di Jogja. Lima belas tahun kemudian disusul dengan berdirinya organisasi-organisasi gay seperti Gaya Nusantara atau PGY, Perhimpunan Gay Yogyakarta.

“Tujuan utama didirikannya organisasi gay dulunya sangat sederhana, yaitu untuk saling menghubungkan teman-teman gay, yang cenderung lebih tidak terlihat dibandingkan teman-teman waria yang terlihat secara fisik,” ungkap Dede. Saat ini, tujuan dasar organisasi LGBT yang didirikannya ada dua, yaitu untuk menguatkan komunitas agar tidak menganggap dirinya sakit atau dosa, juga untuk meyakinkan masyarakat bahwa homoseksualitas adalah sesuatu yang normal. 

Menanggapi pertanyaan Ithonk, Ketua PLU Satu Hati mengenai strategi mana yang lebih tepat diterapkan di Indonesia apakah dengan cara frontal atau dengan cara yang lebih tertutup, Dede  menekankan yang terpenting adalah mendengarkan suara dari komunitas itu sendiri. Gerakan yang frontal maupun tertutup pasti memiliki keuntungan dan resiko, namun kita harus tetap menghargai LGBT yang memilih pola gerakannya masing-masing. Perubahan budaya berkali-kali ditekankan Dede mengingat hal tersebut adalah kunci dari perubahan sosial. Misalnya bagaimana membiasakan masyarakat terhadap homoseksual, termasuk jika orang tua mendapati anaknya ternyata menyukai sesama jenis.

Gerakan LGBT juga perlu dilakukan dari berbagai arah, termasuk harus kuat dari dalam komunitasnya sendiri, sampai memiliki kekuatan berpolitik, masuk ke sektor pendidikan, dan memiliki kemampuan investigasi sehingga bisa memonitor dan mendokumentasikan pelanggaran-pelanggaran HAM terhadap LGBT.

Acara diskusi diselingi dengan buka puasa bersama dengan makanan khas angkringan yang telah disediakan oleh PKBI DIY.

Persoalan agama juga tidak terlepas dari bahan diskusi sore itu. Anam, salah satu peserta, menanyakan tentang bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi kelompok-kelompok fundamentalis agama yang seringkali menggunakan agama sebagai dasar kekerasan terhadap LGBT. 

“Belajar dari seorang teman saya di Turki yang biseksual, bahwa jalur agama tidak akan menyelesaikan masalah. Jalur yang kita gunakan sebaiknya adalah jalur Hak Asasi Manusia. Tapi kalaupun tetap ingin menggunakan jalur agama, agama sendiri merupakan hal yang interpretatif, maka gunakanlah interpretasi dari pemuka agama yang tidak mendiskriminasi LGBT,” kata Dede.

Dede Oetomo juga menceritakan pengalamannya saat berdiskusi dengan banyak orang dari beragam perspektif, tragedi penyerangan acara-acara LGBT yang pernah terjadi, hingga tips bagi komunitas LGBT untuk menjalin relasi dengan pihak kepolisian dan pemerintah. 

“Dede punya wawasan yang sangat luas. Acara ini sangat memotivasi saya, juga sangat menguatkan kita yang masih berjuang di barisan LGBT untuk terus optimis,” kata Zee, salah satu peserta diskusi. (Emil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *