Hak Remaja Mendapat Lingkungan Sehat Belum Terpenuhi

by

M.E. Johnson, seorang peneliti dari Perusahaan Rokok Philip Morris, pernah mengatakan bahwa remaja adalah calon pelanggan tetap industri rokok karena mayoritas perokok mulai merokok saat remaja. Tragisnya, pernyataan tersebut memang sebuah kenyataan jika melihat perbandingan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2001 dan 2004.  Ditemukan bahwa prevelensi perokok remaja usia 13 tahun sampai 15 tahun mencapai 26.8% dari total populasi Indonesia. Tren anak-anak (usia 5-9 tahun) yang merokok juga mengalami pergeseran, yaitu pada tahun 2001 sebesar 0.4% naik menjadi 1.8% pada tahun 2004. Sejalan dengan itu, 43.9% dari 2.074 responden pelajar Indonesia usia 15-20 tahun mengaku pernah merokok menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2004.

            Meningkatnya remaja yang merokok antara lain disebabkan oleh pengaruh lingkungan termasuk keluarga, teman, dan sosial. Menurut penelitian, remaja yang memiliki orang tua atau teman yang merokok akan memiliki resiko lebih besar untuk terpengaruh menjadi seorang perokok. Hasil survei yang dilakukan oleh Swara Nusa pada awal 2011 terhadap 390 murid SMP yang tersebar di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul menunjukkan bahwa 65% remaja memiliki anggota keluarga yang merokok, dan 48% di antaranya adalah orang tua. Sementara dari lingkungan pergaulan, hanya 20% remaja yang memiliki teman bukan perokok. Keadaan tersebut sangat bertentangan dengan hak anak dan remaja international yang tertuang dalam Convention on the Rights of the Child. Pada pasal 18 ditekankan bahwa orangtua memiliki tanggung-jawab dalam menjaga tumbuh-kembang anak termasuk kesehatannya. Pemerintah juga memiliki kewajiban dalam hal serupa yang diatur dalam pasal 24.

            Hasil survei Swara Nusa juga memperlihatkan bahwa media memiliki peran yang sangat besar dalam peredaran iklan rokok pada remaja. Sebanyak 95% remaja mengaku melihat iklan rokok dari televisi,”banyak benernggak bisa ngitung [iklan rokoknya], nya”, ucap seorang remaja putra di Sleman. Sementara spanduk dan poster juga dilihat oleh 68% dan 57% responden. Iklan yang terlihat dari televisi dapat berasal dari iklan produk rokok maupun selipan adegan dalam film atau video lainnya. Sementara iklan rokok dari spanduk dan poster dapat berasal dari logo dan tagline produk rokok yang menjadi sponsor berbagai kegiatan remaja. Industri rokok mengincar para remaja dengan melakukan promosi melalui jargon populer yang sesuai dengan kondisi psikologis remaja: kebebasan, keberanian, dan petualangan. “Kalo abis ngeliat iklan itu kayaknya jadi lebih pede gitu, tapi kadang iklannya aneh. Gak masuk akal.” kata beberapa remaja di Bantul yang ditanya apa reaksi mereka setelah menonton iklan rokok. Bahkan pada kenyataannya, di beberapa kegiatan yang disponsori industri rokok, tiket masuk kegiatan tersebut dapat ditukarkan dengan sebungkus rokok, atau dengan kata lain para remaja dipaksa untuk membeli rokok.

            Sungguh ironis jika kondisi di atas disandingkan dengan Convention on the Rights of the Child pasal 17(e) yang menyebutkan bahwa anak dan remaja harus dilindungi dari informasi dan materi yang dapat membahayakan kesehatannya. Terlebih lagi jika melirik pasal 33 dari Konvensi tersebut dan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 113 (2), tertulis ”Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya”.

            Jelas terlihat bahwa remaja belum mendapatkan haknya atas lingkungan yang sehat agar menjadi pribadi yang produktif, seperti tertuang dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 136 (1). Remaja yang menjadi responden survei oleh Swara Nusa juga menunjukkan bahwa 98% dari mereka setuju akan efek buruk rokok terhadap kesehatannya dan orang lain,”bikin sesek dan batuk-batuk kalo ngirup asep rokok”, kata seorang remaja putri. Sementara 74% di antara remaja tersebut juga setuju jika peredaran rokok dihentikan secara total,”biar semua orang bisa sehat dan tidak ada yang kena penyakit akibat ngerokok. Lagian ngerokok sama aja ngebakar duit”, ungkap seorang murid di sebuah SMP swasta di Kota Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *