PERJUANGAN IDENTITAS

Jampi Gugat, Suarakan Tuntutan Dalam Peringatan International Women’s Day 2017

Hari Perempuan Internasional adalah hari bersejarah bagi perempuan dan diperingati untuk merayakan kemerdekaan perempuan. Memperingati Hari Perempuan Internasional adalah bentuk penghormatan pada perempuan yang telah berjuang untuk mengupayakan banyak perubahan bagi situasi perempuan di seluruh negara di dunia. Di Yogyakarta situasinya menjadi ironis. Lima tahun belakangan, situasi keberagaman di Yogyakarta semakin memburuk. Indeks kekerasan terus meningkat seiring dengan menurunnya status toleransi. Hingga awal tahun 2017, lebih dari 300 kasus kekerasan yang dilaporkan kepada Rifka, 70% diantaranya adalah kasus kekerasan seksual.

Dilatarbelakangi oleh situasi tersebut, Jaringan Perempuan Yogyakarta menggelar aksi turun ke jalan sekaligus untuk memeringati Hari Perempuan Internasional 2017 dengan mengusung tema “Perempuan Menggugat untuk Perubahan” di Jalan Malioboro Yogyakarta. (8/3/2017).

Hari Perempuan Internasional 2017 kali ini menyuarakan beragam tuntutan dari berbagai elemen perempuan. Seruan dan tuntutan aksi ditampilkan dalam Tarian-Adaptasi “Jampi Gugat”  karya Kinanti Sekar Rahina dan ditarikan oleh seluruh peserta aksi. Tarian ini mengekspresikan kemarahan perempuan atas situasi perempuan yang makin terpuruk dan bersatu untuk bergerak menyuarakan perlawanan dan menyatakan aksi untuk membuat perubahan.

“tarian adalah ekspresi jiwa, karena masih banyak perempuan yang tidak bisa berbicara mengenai permasalahan dan situasi yang mereka hadapi. Jadi mereka bisa mengekspresikannya melalui tarian” terang koordinator umum aksi, Anastasya Kiki.

“Aksi ini harapannya dapat menjadi momen konsolidasi bagi siapapun yang peduli dan mau terlibat menjadi bagian dari perubahan bagi perempuan” tambah kiki.

Penggunaan tarian sebagai media untuk menyalurkan ekspresi karena tari dianggap dekat dengan masyarakat terutama masyarakat Yogyakarta yang akrab dengan dunia seni.

“Kami menggunakan tari sebagai media berekspresi karena jika kita hanya menggunakan berita atau workshop, masyarakat cenderung resisten” ujar Tirza selaku koordinator tari.

Selain itu banyaknya stigma buruk dari masyarakat mengenai perempuan yang turun ke jalan untuk melakukan orasi, maka dari itu Jaringan Perempuan Yogyakarta menggunakan tarian untuk menyuarakan tuntutan aksinya.

Tirza juga menjelaskan bahwa dengan adanya tari atau panggung budaya, hal itu dapat menarik masyarakat untuk ikut memperingati Hari Perempuan Internasional. Meskipun ketertarikan masyarakat awalnya hanya karena ada tariannya, namun akhirnya mereka mengetahui tetang kondisi perempuan saat ini.

Gerakan dalam tarian jampi gugat juga memiliki arti, seperti menghalau semua batasan yg membuat perempuan tidak bisa berbicara. lalu ada juga gerakan yang mengepalkan tangan, yang diartikan perempuan berjuang atau bergerak untuk memperoleh haknya. (Naila)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top