Editorial

Permintaan Maaf, Tak Cukup

Penyataan M. Nuh, Menteri Pendidikan Nasional, terhadap kejahatan seksual yang dialami seorang siswi SMP Budi Utomo, pekan silam, disesalkan oleh banyak kalangan, terutama para aktivis Hak Asasi Manusia. Pasalnya, pernyataan sang Menteri dinilai melecehkan dan sekaligus menyalahkan korban.

Meski kemudian sang Menteri meminta maaf, tetapi kerangka dasar nalarnya dalam memandang korban kejahatan seksual tak berubah. Misalnya, ia meminta maaf karena komentar itu bukan dimaksudkan untuk siswi SMP Budi Utomo, tetapi untuk peristiwa secara umum. Artinya, dalam benak sang Menteri, korban kejahatan seksual tetap sama posisinya, perempuan nakal dan atau suka sama suka, tetapi mengadu diperkosa.

Lebih dari itu, efek sosial dan psikologis yang diderita korban sangat berat, sebab penilaian terhadap dirinya dilakukan langsung oleh siang Menteri Pendidikan. Padahal sebelumnya telah mengalami kekerasan psikis dengan diumumkannya keputusan pak SMP Budi Utomo, Depok tentang pemecatan siswi itu saat upacara bendera.

Karena itu, permintaan maaf dari sang Menteri yang disampaikan melalui surat elektronik ke kalangan media kita lihat tidak cukup sama sekali. Permintaan maaf sudah seharusnya disampaikan kepada korban, bukan kepada para aktivis dan media massa. Karena yang mendapatkan hukuman sosial, tekanan psikologis dan tentu saja trauma, akibat pernyataan sang Menteri adalah korban.

Untuk itulah, para aktivis dan media, sudah sepantasnya pula mendorong sang Menteri untuk melakukan permintaan maaf kepada korban, bukan kepada mereka sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top