WAWANCARA EKSKLUSIF

Setuju, Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah

Peringatan hari AIDS sedunia telah kita lewati bersama, namun jumlah penderita bukan berkurang malah bertambah setiap jam bahkan menit. Hal ini mendorong kita semua untuk bersama memerangi penyebaran HIV&AIDS, termasuk juga remaja sebagai generasi penerus bangsa. Berikut wawancara Dwi Prasetyo dari Swara Nusa Biro Kalimantan Tengah dengan Asystasia Sabathrin, Ketua Gerakan Anti Narkoba dan AIDS untuk remaja sekolah tentang peran remaja dalam isu HIV&AIDS.

Apa itu GANAS?

GANAS yaitu Gerakan Anti Narkoba dan HIV&AIDS yang  terbentuk dilingkungan sekolah menengah di tingkat propinsi Kalimantan Tengah pada semester kedua tahun  2010. GANAS ini merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan remaja SMA, dan masing-masing sekolah  ditunjuk 10 orang remaja perempuan dan 10 orang remaja laki-laki. Remaja yang telah ditunjuk ini  nantinya diharapkan bisa memberikan informasi dan edukasi tentang bahaya Napza dan HIV&AIDS kepada sebayanya.

Tujuan utama GANAS itu sendiri?

Tujuan kami yaitu meningkatkan kualitas remaja khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka tahu apa bahaya dari HIV&AIDS, Napza, dan seks bebas. Selain itu juga kami mengajak teman-teman remaja untuk bersama-sama menghindar dari pergaulan tidak sehat, ya minimal untuk tidak ke arah itu

Apa saja kegiatan GANAS selama ini?

Karena baru terbentuk, jadi kami masih belum banyak  kegiatan. Anggota GANAS sebelum terbentuk sudah  mendapat pendidikan kesehatan reproduksi oleh PKBI,  KPAD dan BKKBN, jadi tinggal menyalurkan  pengetahuannya kepada remaja yang belum mendapat  informasi, seperti diskusi dengan remaja yang  mengikuti setiap cabang ekstrakulikuler di sekolah.  Kemudian kami juga aktif mengunjungi panti rehabilitasi narkoba.

Kenapa remaja perlu ambil bagian dalam isu HIV&AIDS?

Remaja adalah penerus masa depan bangsa, apalagi usia remaja merupakan usia yang rentan coba-coba, dan diharapkan penerus bangsa ini jangan sampai ada yang terinfeksi HIV&AIDS. Menurut saya kalau kami sebagai remaja tahu tentang Isu HIV&AIDS dan bahayanya, pastinya generasi bangsa ini kedepannya akan lebih baik.

Strategi apa yang diambil agar penularan HIV&AIDS  tidak masuk ke sekolah?

Strategi yang utama adalah melakukan pendekatan  dengan remaja-remaja yang mempunyai perilaku  menyimpang dan seksual aktif, dan data-data remaja  tersebut bisa kami peroleh dari PIK-Remaja atau Guru  Bimbingan Konseling. Karena menurut data yang kami  peroleh di Palangka Raya sendiri ada 30% remaja yang  mengaku pernah berhubungan seks diluar nikah dengan  pasangannya. Pendekatan tersebut yaitu dengan  mengenalnya lebih dulu dan menjadi teman yang baik,  agar informasi yang kami berikan dapat diterima  dengan baik oleh mereka. Selanjutnya kami juga  memberikan informasi tentang darimana dan bagaimana  virus HIV bisa menular, karena virus HIV ini tidak kenal pandang, jadi siapapun bisa kena.

Pandangan anda sendiri terhadap orang yang  terinfeksi HIV&AIDS?

HIV&AIDS ini penularannya bisa dikatakan secara  sembunyi-sembunyi, bisa saja mereka yang punya perilaku sehat secara tidak sengaja terinfeksi karena potong kuku atau bercukur dari alat yang terdapat virus HIV-nya, inilah yang saya takutkan.  Maka dari itu menurut saya, para orang yang terinfeksi HIV&AIDS harus mendapat perhatian lebih dan bukannya dijauhi atau dikucilkan dari masyarakat, selain membantu memelihara fisik mereka, kita juga harus memelihara rohani dan mental mereka agar memiliki semangat hidup.

Bagaimana harapan anda kedepan?

Harapan saya pribadi yaitu semua remaja dapat ikut aktif dalam memerangi penularan HIV&AIDS, menjauhi seks bebas dan Napza. Harapan kami sebagai GANAS yaitu remaja mendapat informasi yang benar tentang HIV&AIDS, kespro dan Napza sehingga terhindar dari isu-isu tersebut.

Apa saran anda untuk pemerintah dan pihak terkait?

Pemerintah harus terus memberikan pendidikan mental dan rohani kepada remaja agar dapat mengubah perilaku yang tidak baik. Jangan hanya membebani remaja dengan pelajaran-pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, itu justru akan membebani mental kami sehingga banyak dari kami yang melakukan pelarian ke arah negatif karena pelajaran yang berat. Saya setuju apabila pemerintah menambahkan kurikulum kesehatan reproduksi dalam mata pelajaran sekolah, apalagi pendidikan kespro sendiri dianggap masih tabu. Agar remaja mendapatkan informasi yang benar dari sumber yang bertanggung jawab,

kontributor: [Dwi Prasetyo]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top