IWAYO Membangun Solidaritas Sesama Warga dan Komunitas LGBT

by

Jumat, 1 Maret 2013, wajah Kantor Kecamatan Pandak lain dari biasanya. Sejak pagi warga dari berbagai desa di kecamatan tersebut sudah berkumpul di halaman Kantor Kecamatan. Warga mengikuti acara yang digelar oleh Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO), PLU Satu Hati, Kebaya, PKBI  DIY serta Kedutaan Besar Kanada untuk memperingati Hari Solidaritas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) Nasional.  Acara dikemas selama sehari penuh dan dibuka dengan kegiatan senam pagi bersama, lomba balap karung dan tarik tambang, pembagian sembako serta klinik kesehatan gratis. Sebagai puncak acara, komunitas LGBT dan komunitas desa setempat menyajikan pertunjukkan seni di panggung keberagaman yang sudah disediakan oleh panitia.

“Saya seneng ada acara ini, ada lomba-lomba dapat hadiah, bisa periksa. Ya mengisi waktu luang ‘kan setiap hari saya cuma di rumah,” kata Purwanti, warga Pandak, ketika ditanya mengenai acara tersebut. “Besok lagi sering-sering aja, supaya bisa srawung (bergaul), karena pada dasarnya semua ciptaan Tuhan itu sama, tidak perlu dibeda-bedakan,” tambah ibu yang mengaku baru bertemu sekali ini dengan komunitas waria.

Menurut Martha, Ketua Ikatan Waria Bantul dan Koordinator Acara, peringatan ini memang bertujuan untuk menumbuhkan solidaritas antar sesama karena belakangan isu solidaritas terkikis dengan banyaknya diskriminasi dan penindasan terhadap kelompok minoritas di Indonesia. Harapannya, acara ini bisa memfasilitasi persentuhan antara komunitas LGBT dan masyarakat.

“Saya harap semua pihak bisa ikut mendukung suksesnya acara ini,” kata Dra Endang rahmawati, Kepala Kecamatan Pandak, ketika menyampaikan sambutan pada malam keberagaman.

Alexandra Spiess, Political & Public Affairs Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia, memberikan tanggapan positif atas acara yang menampilkan ragam ide dari berbagai komunitas tersebut. “Saya sangat tertarik dan bangga bahwa keberagaman bisa diwujudkan dalam acara yang sederhana. Sama seperti Indonesia, Kanada adalah negara yang sangat luas, kami juga memiliki unsur keberagaman yang tinggi. Di Kanada bisa bebas memilih dan menjalankan agama masing-masing, menjunjung kesetaraan dan hak asasi manusia tanpa memandang etnis, agama, dan kepercayaan,” kata Spiess saat memberikan sambutan.

Satu Maret adalah hari yang bersejarah untuk komunitas LGBT di Indonesia karena pada 1 Maret 2000 komunitas yang termarjinalkan secara gender dan seksualitas mendeklarasikan Hari Solidaritas ini di Yogyakarta. Deklarasi yang sederhana tersebut memiliki makna luar biasa dalam pembangunan solidaritas dan persatuan antar komunitas yang termarjinalkan dengan masyarakat. Hari peringatan sengaja mengandung kata “solidaritas” karena dipandang bahwa komunitas yang termarjinalkan harus bersatu dan membuka seluas-luasnya keikutsertaan seluruh elemen masyarakat.

Martha menambahkan keberagaman merupakan hal yang mutlak terjadi melihat kondisi geografis Indonesia, tidak hanya suku, agama, ras, budaya kesenian, namun juga  keberagaman gender dan seksualitas. Karena itu sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk bisa merespon dengan cepat saat terjadi tindakan diskriminasi dan intoleransi yang belakangan bermunculan dengan latar belakang yang berbeda-beda. Negara harus hadir dalam rangka perlindungan terhadap kebebasan berekspresi di tiap entitas dan identitas warga negara Indonesia.

“Perbedaan yang ada tidak boleh dijadikan alat untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan haknya sebagai warga negara,” kata Martha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *