Kartini di Mata Waria

by

Swaranusa.NET – Setiap 21 April kita memperingati hari Kartini, sebagai peringatan atas jasa beliau dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia. Perjuangan beliau tidak saja mengispirasi kaum perempuan, namun juga komunitas waria. Bagiamana sosok Kartini bisa mengispirasi komintas waria? Berikut wawancara Swaranusa.NET dengan Mbak YS salah satu anggota Ikatan Waria Yogyakarta.

Apa makna peringatan hari Kartini bagi YS?

Makna untuk hari Kartini itu bagimana ketika hari ini bisa memberikan refleksi untuk orang-orang. Artinya bagaimana kita bisa belajar banyak dari perjuangan dari Raden Ajeng Kartini. dimana beliau kala itu sebagai perempuan dengan budaya Jawa yang kental sudah berani mendobrak. Artinya sudah berani mendobrak kebiasaan dari yang umum. Yak kan, karena hal yang sangat tabu. Dulu ketika seorang perempuan waktu itu belajar serekolah, perempuan hanya sebagai konco wingking. Iya kan? Itu yang sepengetahuan aku. Beliau itu berani mendobrak tradisi-tradisi yang sudah ada, yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Dengan adanya peringatan hari Kartini, kita kayak dikasih pembelajaran, bahwa ketika sebuah perjuangan memang butuh waktu, dan sebuah perjuangan tidak boleh patah hanya karena satu benturan, satu ucapan, atau satu buah larangan dari seseorang.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari perjuangan Kartini?

Aku juga adalah salah satu orang kagum dengan perjuang Kartini. Apa yang sudah dilakukan itu, membawa satu perubahan besar untuk kaum peremuan di Indonesia. Dan begitu juga yang aku berharap, teman-teman Waria pun juga. Siapapun itu harus berani membawa perubahan. Ya walau pun itu butuh waktu. Iya kan? Apa yang kita butuhkan, apa yang kita lakukan juga harus berhasil seperti yang tadi aku tekankan. Biarkan waktu akan menjawab, biarkan waktu akan menjadi sejarah. Artinya bagaimana kelompok Waria itu nanti bisa mendapatkan hak-haknya ya. Yang sejajar dengan masyarakat umum. Bagaimana dengan akses pekerjaannya, pendidikannya.

Kenapa pendidikan penting bagi Waria?

Kenapa ku bilang akses pendidikan itu penting. Ya kan, karena kita masih dibatasi oleh batasan, bahwa peraturan di sekolah bawasannya setiap perempuan, siswa laki-laki ya harus pakek gaun, emmm.. pakek baju laki-laki. Perempuan harus pakek baju perempuan. Nah, itulah batasan-batasan yang menjadikan banyak sekali Waria terputus sekolahnya. Iya kan? Dan ketika mereka putus sekolah, otomatis bekal yang mereka bawa kan sangat minim. Ketika tidak ada bekal sama sekali, SDM tidak ada, akhirnya mereka kan mau tidak mau harus dalam tanda kutip harus menjadi pekerja seks ya, biar dia bisa survive. Artinya aku harus berusaha untuk melihat tidak boleh langsung judge kamu tidak boleh sebagai pekerja seks. Aku juga harus melihat dulu background-nya dia seperti apa? Dicari dulu akar permasalahannya. Kalau untuk ngomong kesetaraan. Itu harus melalui edukasi. Pendidikan itu hal yang penting. Hal yang paling utama itu justru pendidikan. Karena dengan pendidikan akan memberikan perubahan.

Penulis: Dwi Lestari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *