Kebangkitan Nasional: Sudah Bangkitkah Kita?

by

Sudah seabad lebih bangsa Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan, pembodohan, dan membebaskan diri dari keterbelakangan karena pendidikan yang terhambat mendorong anak-anak bangsa untuk berkumpul. Sebagai hasilnya, berbagai pemuda dengan beragam identitas melebur menjadi satu, inilah yang disebut sebagai kebangkitan kesadaran atas kesatuan kebangsaan. Tidak ada satu identitas yang lebih tinggi daripada lainnya, semua setara.

Semangat ini juga yang mendorong lahirnya berbagai pergerakan serupa, yaitu perjuangan menghapus diskriminasi dan mendorongnya kesetaran akan berbagai kelompok maupun identitas. Perjuangan yang cukup menyita perhatian dan telah lama berlangsung adalah kesetaraan jender, antara perempuan dan laki-laki. Warisan konstruksi sosial patriarki membuat perempuan berada pada posisi sebagai warga negara kelas dua. Perempuan dicitrakan dan diidentikan sebagai makhluk lemah, tidak berdaya dan merepotkan. Di sisi lain, laki-laki dimunculkan sebagai sosok pahlawan yang harus selalu berada di sisi terdepan, harus terlihat kuat dengan otot menonjol, dan berbagai tuntutan harus lainnya. Gambaran tersebut terjadi ketika isu emansipasi belum menyeruak.

Namun, setelah proses panjang dan melelahkan bagi pegiat kesetaraan untuk mengadvokasi hak-hak perempuan, apakah sudah hilang semua streotip dan diskriminasi terhadap perempuan? Jawabnya BELUM!

Konstruksi sosial terhadap gambaran perempuan sebagai makhluk lemah dan laki-laki diidentikan dengan otot masih beredar hingga detik ini. Pada era digital dan teknologi yang sudah sangat maju, pemikiran barbar yang mengkelas-duakan perempuan masih saja digunakan sebagai bahan iklan di media. Anda bisa menyimaknya dalam sebuah iklan minuman penambah tenaga yang seolah-olah hanya ditujukan bagi laki-laki. Dalam iklan tersebut masyarakat dibodohi dengan materi bahwa laki-laki yang baik dan benar hidupnya, harus meminum produk tersebut.

Konsep lain yang dapat kita jumpai tentang iklan berbasis jender adalah produk-produk perawatan tubuh. Umumnya produk perawatan tubuh ditujukan bagi para perempuan. Para produsen tidak lelahnya menanamkan konsep kecantikan bagi perempuan dengan berpusat pada kecantikan tubuh. Misalnya saja iklan sebuah produk perawatan tubuh untuk menghilangkan rambut di kaki. Di akhir iklan mereka menekankan bahwa cantik bagi perempuan adalah tanpa rambut di kaki. Sekilas memang tampak biasa saja dan sudah seharusnya perempuan memiliki kaki yang halus dan mulus. Namun di balik itu tersimpan potensi yang dapat mengganggu kesehatan mental. Ya, memang dapat sejauh itu implikasinya karena ketika ada perempuan yang tidak memiliki kaki “mulus” dan lingkungan sosialnya mempermasalahkan hal itu, maka sang perempuan akan merasa tidak cantik. Cukup melompat memang penjelasan tersebut, tetapi itulah realitanya.

Jender dan Orientasi Seksual : juga Identitas

Perempuan dan laki-laki hanyalah sebagian kecil pengelompokkan identitas seseorang. Berdasarkan jenis kelamin, makhluk hidup umumnya dibedakan menjadi jantan dan betina, atau untuk memperhalusnya menggunakan laki-laki dan perempuan bagi manusia. Salah satu fungsi utama pembedaan itu terkait dengan fungsi reproduksi, khususnya bagi sebagian orang yang memiliki pandangan bahwa perkelaminan hanyalah demi keberlangsungan spesies manusia semata.

Tumbuhan, hewan, dan manusia dapat dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya dan memang salah satu tujuan perkelaminan adalah regenerasi. Tetapi apakah perkelaminan yang dilakukan oleh hewan dan manusia adalah hal yang sama? Sepasang hewan jantan dan betina jika ditaruh dalam satu kandang yang sama dapat dipastikan akan melakukan hubungan seks. Tetapi seorang laki-laki dan perempuan yang tidak saling mengenal ditempatkan dalam sebuah kamar bersama apakah otomatis akan berhubungan seks? Mungkin ya, mungkin tidak. Tetapi yang pasti, hubungan seks yang dilakukan oleh manusia akan mengandung unsur perasaan. Tidak hanya urusan penis dan vagina, tetapi juga ketertarikan yang melibatkan kasih-sayang.

Antara satu manusia dan yang lain pasti memiliki minat terhadap hal yang berbeda. Bahkan anak kembar identik sekalipun tidak akan mempunyai ketertarikan yang sama pada semua hal. Demikian pula ketertarikan seksual yang dialami oleh manusia. Fakta bahwa ada manusia yang tidak tertarik dengan lawan jenis secara seksual merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Atau juga ada manusia yang tertarik pada sesama maupun lawan jenisnya, bahkan ada juga yang tidak tertarik sama sekali. Inilah yang dinamakan orientasi seksual. Pada sudut lain, ada juga yang tertarik dengan lawan jenis tetapi ingin berpenampilan dan berperilaku seperti lawan jenisnya. Itu salah satu contoh dari jender. Benang merahnya, baik orientasi seksual dan jender juga merupakan sebuah identitas yang perlu diakui. Namun selama ini negara dan masyarakat belum menghargai atau mengakui keberagaman identitas manusia berdasarkan dua hal itu.

Selama ini kelompok minoritas yang memiliki orientasi seksual maupun jender beragam masih mengalami diskriminasi. Pembedaan yang menimpa mereka terwujud dalam bentuk kekerasan, baik secara verbal maupun fisik. Saat mengadukan nasibnya, seolah-olah negara menutup mata dan menyerahkannya pada hukum rimba. Padahal dalam Pancasila dan UUD 1945, negara menjamin setiap kehidupan warganya dengan mempertimbangkan hak asasi manusia secara universal.

Editorial ini akan saya tutup dengan membangkitkan kembali kenangan akan insiden yang terjadi tahun lalu. Pada tahun 2010 di D.I. Yogyakarta, dikenal sebagai daerah yang menghargai keberagaman, terjadi perampasan hak berekspresi komunitas LGBTIQ. Dalam rangka memperingati International Day Against Homophobia (IDAHO), teman-teman komunitas melakukan diskusi publik, movie screening, dan rencananya akan ditutup dengan karnaval di alun-alun seperti tahun-tahun sebelumnya. Di tengah-tengah proses, datang ketidak-setujuan dari sekelompok orang yang mengatasnamakan agama tertentu. Tidak hanya memasang spanduk bertuliskan penolakan, tetapi mereka juga melakukan intervensi dengan melakukan intimidasi. Sekelompok pemuda berpakaian yang identik dengan agama tertentu mengelilingi alun-alun. Mereka menebar teror dengan menggas motornya dan berteriak-teriak.

Kejadian itu hanyalah sebuah contoh kecil yang menjadi sejarah kelam bangsa ini. Isu yang terkandung di dalamnya memang belum menjadi perhatian banyak pihak, tetapi itu adalah cerminan dari pelanggaran hak asasi dan perendahan martabat manusia. Menjadi sejarah, bukan berarti untuk dilupakan. Sebab Milan Kundera mengatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa (dalam The Book of Laughter and Forgetting). Presiden Soekarno juga terkenal akan ucapannya,”JASMERAH: jangan sekali-kali melupakan sejarah!”

[edL]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *