Kesehatan Reproduksi Menjadi Mulok, Perlu Kesiapan Berbagai Pihak

by

Meski informasi kesehatan reproduksi diakui sebagai kebutuhan remaja, rencana materi kesehatan reproduksi dalam kurikulum mulok (muatan lokal) masih menuai pro dan kontra. Sebagian pihak mempertanyakan, pantasnya dijadikan mulok atau sebatas diskusi kasus antar siswa.

“Kita harus menyelesaikan masalah ini,” kata Ketua DPRD Yogyakarta, Arif Nur Hartanto, S.IP, sambil mengatakan rencana kesehatan reproduksi menjadi mulok akan dimasukkan dalam agenda rapat DPRD.

“Nilai agama harus menjadi dasar dalam menyelesaikan problem ini. Yang haram, ya tetap haram. Cegah dengan pemahaman, biologis, maupun kecerdasan,” katanya dalam Seminar tentang Kesehatan Reproduksi dalam Muatan Lokal, yang dilaksanakan PKBI Cabang Kota Yogyakarta, pekan silam.

Poppy Purnama Sari, siswi SMA N 10 Yogyakarta, mengatakan pelajar akan merasa berat jika kesehatan reproduksi dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal. Pasalnya, nanti akan ada ujian tersendiri. Padahal selama ini dengan siswa sudah cukup dipusingkan dengan 17 buah mata pelajaran yang harus diikuti. “Kalau ditambah lagi, saya rasa nggak sanggup lagi,” katanya.

Anggota Forum Guru Kespro, Dr. Detty mengatakan, fakta sosial seperti tingginya kasus HIVdan & AIDS pada remaja, dikarenakan antara lain minimnya pengetahuan remaja terhadap informasi kesehatan reproduksi. Menurutnya, pemerintah memberi ruang untuk itu. Lingkunganl harus kita perbaiki. “Ini menjadi jawaban kegelisahan kita semua, orang tua juga.Selama ini informasi tidak hanya diberikan pada remaja, tapi juga orang tua mereka,” katanya.

Meski Walikota Yogyakarta, Hery Zudianto tidak menyetujui agenda ini, janji Ketua DPRD Kota cukup memberi angin segar.

Dra. Budi Wahyuni, MM, MA, Ketua Pengurus Harian Daerah PKBI DIY, meyakinkan berbagai pihak, informasi kespro lebih bagus dimulai dari lingkup keluarga, orang tua, dan kalau bisa selengkap mungkin. Di negara ini susah mencari bimbel yang memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi. Padahal hal ini wajib disampaikan, kebutuhan remaja sangat besar akan hal ini. “Jika boleh mimpi, apa pun caranya, lewat pelajaran yang kemudian diteskan, boleh-boleh saja, yang penting bagi saya informasinya komplit, dari a sampai z, yang penting remaja kan terkawal,” katanya. (Theresia Karninda Octaviana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *