Laporan ARV Rumah Sakit, Macet di Meja Direktur

by

Jumlah kasus HIV dan AIDS terus meningkat secara signifikan. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. HIV dan AIDS bukan hanya persoalan infeksi, namun merambah ke berbagai bidang kehidupan. Berikut wawancara Desy Susani dari Swara Nusa, Yogyakarta dengan dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD., dokter dan dosen UGM Yogyakarta.

Sejak kapan tertarik pada persoalan HIV dan AIDS?

Sebenarnya sudah lama saya tertarik pada isu HIV dan AIDS terutama sejak praktek di Puskesmas. Ketika saya meneruskan pendidikan di Belanda, banyak buku-buku yang saya beli ternyata membahas tentang HIV dan AIDS. Pada tahun 1994 saya mendapat tawaran melanjutkan pendidikan yang fokus pada isu ini, namun karena beberapa sebab, belum jadi terlaksana. Pada akhir tahun 2003 secara formal saya mulai mendapatkan tugas terjun ke bidang ini.

Perkembangan terakhir, isu HIV dan AIDS menjadi daya tarik bagi berbagai pihak.

Banyak faktor yang menjadikan isu HIV dan AIDS selalu tampak menarik. Pertama, adanya gerakan LSM yang semakin gencar. Lalu masalah perlakuan diskriminatif. Hal ini menimbulkan sikap resisten pada penderita. HIV dan AIDS bukan hanya berbicara masalah infeksi, namun semua hal yang melingkupinya. Misalnya, tentang mitos. Kemudian masalah sosial, ekonomi, juga budaya. Banyak yang terlibat dalam isu HIV dan AIDS dan memang harus demikian. Kalau saja isu itu bisa menjadi mainstreaming, akan lebih mudah mengatasinya.

Untuk kasus di Yogyakarta?

Sekarang masih menunjukkan trend meningkat. Data yang ada saat ini menonjol di AIDS. Tetapi perlu diingat, infeksinya terjadi lima tahun lalu, padahal gerakan kita secara nasional baru sekitar lima tahun ini. Apa yang kita perjuangkan sekarang hasilnya baru bisa terlihat beberapa tahun ke depan.

Khusus di DIY juga cenderung meningkat, bahkan signifikan. Hal ini disebabkan beberapa faktor, antara lain informasi HIV dan AIDS yang semakin gencar dilakukan sehingga orang menjadi tahu. Kemudian adanya layanan kesehatan yang semakin terbuka. Ketika ditemukan kasus orang sakit dan ternyata itu HIV, orang sudah tahu ke mana harus berobat sehingga dapat didata dengan baik. Lalu perbaikan pelayanan kesehatan di rumah sakit-rumah sakit turut mempengaruhi pencatatan kasus.

Meski demikian, ada yang bilang indikator keberhasilannya kurang jelas.

Sekarang mereka sakit, harus hospital live. Kalau berbicara masalah HIV dan AIDS, kita berbicara dua hal. Pertama, pada level komunitas dan level rumah sakit. Sekarang ini, yang datang dan yang di data terutama  mereka yang sakit di rumah sakit. Kalau di komunitas,  keberhasilan kita belum bisa diukur. Maka indikator-indikator keberhasilan di komunitas harus diperbaiki. Angka itu memang menunjukkan tingkat penularan yang masih cukup tinggi.

Bagaimana layanan di Yogyakarta?

Pelayanan di Yogyakarta termasuk sangat baik, bahkan bisa dikatakan menjadi surga di banding wilayah lain. Pertama, wilayahnya kecil tapi rumah sakit-rumah sakit besar yang ada memberikan support. Kedua, support system dari pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten/kota cukup kuat. Teman-teman profesi di rumah sakit juga cukup vokal dalam memperjuangkan hal ini.

Bagaimana dengan surveilance di Yogyakarta?

Masalah surveilance perlu dikuatkan koordinasi dan indikator-indikatornya. Kita sendiri saat ini sedang mengembangkan sistem untuk beberapa penyakit yang lain. Mengindentifikasi pada tingkat yang paling dasar. Kita bekerja sama dengan dinas-dinas terkait dan rumah sakit yang ada di DIY.

Tentang kelangkaan ARV?

Ada berbagai faktor yang menyebabkan adanya kelangkaan ARV. Indonesia termasuk negara yang bisa dikatakan maju karena mempunyai produk ARV yang diproduksi di dalam negeri. Tidak semua negara mempunyai pabrik obat yang memproduksi ARV sendiri, beberapa obat yang lain merupakan produk impor.

Ketersediaan ARV meliputi beberapa hal, produksi, logistik, distribusi, dan feedback. Saat ini ketersediaan barang sudah baik. Sedangkan barang impor harus menggunakan dana. Maka perlu diambilkan dari APBN.

Permasalahannya, apakah dana APBN sudah mencukupi? Penggunaan uang negara juga harus ada tim pengendali. Untuk itu kita perlu funding dari luar negeri. Tetapi kita tidak bisa tergantung kepada funding karena tidak selamanya funding memberikan bantuan kepada kita.

Persoalan lainnya, barang tertahan di bea cukai. Hal ini pernah terjadi. Namun kemudian pemerintah sudah berkoordinasi dengan dinas bea cukai dan keimigrasian menerangkan, barang tersebut termasuk spesial dan tidak boleh ditahan karena harus segera didistribusikan.

Mengenai sistem pelaporan dari rumah sakit ke pemerintah, menjadi kendala?

Di samping itu persoalan pelaporan dari kita (pihak rumah sakit) ke pemerintah. Apakah sistem pelaporan kita sudah baik? Nah, ini yang masih perlu dibenahi. Terkadang kita merasa sudah memberikan laporan tapi dari pemerintah merasa belum menerimanya. Setelah diselidiki, ternyata laporan tertahan di Direktur karena belum ditandatangani. Untuk itu memang harus ada koordinasi dan komunikasi yang lebih baik antarpihak. Pada kasus tertentu, persoalan berasal dari pasien. Ada pasien yang sudah meminta ARV, padahal ARV yang sebelumnya belum habis. ini terkadang juga menjadi kendala pendistribusian. Tapi kasus ini sangatlah kecil.

Bagaimana dengan Raperda HIV dan AIDS di Yogyakarta?

Target kita sebelum akhir tahun ini Raperda HIV&AIDS sudah selesai dikerjakan. Saat ini sudah mencapai 60-70%. Beberapa waktu lalu sempat macet karena masalah bahasa yang digunakan. Tim kami terdiri dari beberapa pakar. Nah, dari pakar hukum menganggap bahasa yang digunakan terlalu teknis medis seperti mengatur pekerjaan dinas kesehatan, sehingga kurang tepat jika digunakan sebagai sebuah kebijakan. Namun hal itu sudah kita perbaiki. Kita berusaha keras sebelum akhir tahun ini Raperda HIV dan AIDS selesai dan segera disahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *