May Day, Titik Tolak Perjuangan Hak Pekerja

by

Hari Buruh Sedunia atau dikenal dengan “May Day” diperingati oleh para pekerja di seluruh penjuru dunia setiap 1 Mei untuk mengingatkan perjuangan mendapatkan hak 8 jam kerja yang mulai ditetapkan pada 1886 di Amerika.

Tahun ini, ratusan masssa yang bergabung dalam Aliansi Buruh Yogyakarta (ABY) menggelar aksi damai dalam memperingati Hari Buruh Sedunia, Rabu (1/5/2013). Massa mengawali aksi dengan menggelar long march dari Taman Parkir Abu Bakar Ali menuju kantor DPRD DIY, Kantor Kepatihan dan berakhir di Kawasan Titik Nol KM. Dalam aksinya, massa menolak penangguhan upah dan kebijakan upah murah, kenaikan harga BBM, serta menolak disahkankannya RUU Ormas dan kriminalitas buruh.

 Sekjen ABY, Kinardi, mengatakan isu upah masih diangkat pada peringatan May Day di DIY tahun ini. “Persoalan upah buruh sampai saat ini masih belum berpihak kepada buruh, masih ada saja pekerja yang belum dibayar sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) yang ditetapkan akhir tahun lalu,” katanya.

Fungsi pengawasan terhadap pemberlakuan UMK yang berlaku mulai 2013 di DIY juga belum optimal. Terbukti, belum ada tindakan tegas terhadap laporan adanya buruh yang belum dibayar sesuai dengan keputusan Gubernur DIY No. 370/ KEP/ 2012 tentang UMK DIY. Dari data ABY, pada caturwulan pertama 2013 tercatat sekitar 20 perusahaan atau pengusaha yang diadukan karena tidak menerapkan pembayaran upah sesuai ketentuan.

“Dari perusahaan itu ada lebih dari 500 pekerja yang belum menerima hak sebagaimana mestinya,” tambah Kinardi.

Aksi yang mendapatkan pengawalan ketat dai pihak kepolisian tersebut, diakhiri dengan menggelar orasi secara bergantian serta aksi teatrikal. (Fita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *