Melawan Homophobia dengan Membangun Jaringan

by

Homoseksual masih dipahami secara luas sebagai keadaan jiwa yang tidak normal, penyakit mental atau gangguan kejiwaan. Meski pemahaman semacam ini benar, tetapi dalam konteks perkembangan disiplin ilmu psikologi tahun 60-an. Lalu, homophobia muncul menjadi salah satu fenomena dengan menguatnya homoseksual. Berikut wawancara Sulis Styorini, Swara Nusa Biro Surabaya, dengan Maria Mustika, kepala Seksi Advokasi Gaya Nusantara, Surabaya.

Bisa menceritakan tentang homophobia?

Homophobia, keadaan atau perasaan takut dan tidak nyaman yang irasional terhadap homoseksualitas. Dalam hal ini termasuk juga sikap menolak terhadap keberagaman orientasi seks dan identitas gender serta apapun yang berhubungan dengan komunitas lesbian, gay, biseksual, waria, interseks dan queer (LGBTiQ)

Karenanya ada gerakan anti-homophobia?

Ya, karena homoseksualitas bukan penyakit. Sudah saatnya meluruskan prasangka dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap homoseksualitas karena menimbulkan luka hati yang menyakitkan bagi individu-individu LGBTiQ.

Masyarakat selama ini mengatakan sebagai penyakit?

Begini, 17 Mei 1990, WHO mencabut kata ‘homoseksualitas’ dari International Classification of Diseases (ICD). Sebelumnya, 15 Agustus 1973, American Psychiatrists Association (APA) mencabut kata ‘homoseksual’ dari buku panduan gangguan kejiwaan mereka, Diasnotic and Statistical Manual of Mental Disorder IV-revised (DSM IV-R). Dipertegas ulang pada tahun 2006 dalam keputusan pertemuan mereka.

Di Indonesia?

Indonesia sendiri dalam Panduan Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, sejak tahun 1993, telah memasukkan homoseks dan biseks sebagai varian seksual yang setara dengan heteroseks dan bukan gangguan psikologis.

Gagasan MUI Tasikmalaya, menunjukkan ketidakpahaman terhadap soal ini?

Pernyataan MUI sebagaimana yang direlease Jawa Pos edisi 29 April 2009, melanggar UU No. 39/1999 tentang HAM. Tindakan itu menyebabkan pengurangan serta penyimpangan seseorang untuk menikmati hak-haknya. Pasal 29, mengenai rasa aman, Pasal 67 mengenai kewajiban menjalankan nilai serta hukum HAM, baik nasional maupun internasional, dan pasal 69 menghormati hak asasi orang lain.

Selain itu pernyataan, gay sebagai “penyakit mental” sangat bertentangan dengan standar-standar ilmu kejiwaan yang selama ini dipakai seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Pernyataan MUI mengenai “penyakit mental” sangat tidak relevan dan mengarah pada kebohongan publik. Hal ini sangat tidak dapat dibenarkan dan harus ditentang, karena pernyataan tersebut bertentangan dengan keilmuan yang mengurusi kejiwaan.

Apa yang kemudian dilakukan?

Kita membuat Pernyataan Sikap Bersama Jaringan Keberagaman untuk Demokrasi, dan menolak tegas gagasan MUI itu.

Strategi lain?

Kita ingin merangkul sebanyak mungkin organisasi dan masyarakat, menyerukan perjuangan kaum LGBTiQ serta mereduksi homophobia.

Kita juga ingin terus menyuarakan kemanusiaan, yang sebenarnya bukan perjuangan milik para aktivis HAM saja, namun perjuangan kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *