Menelisik Kesetaraan Gender Dari Toilet Umum

by

SWARANUSA.NET – Sedikit menggelitik memang jika melihat kesetaraan gender dengan analogi toilet. Namun tanpa kita sadari toilet umum adalah tempat yang memiliki keramahan gender. Walau belum semua toilet di tempat-tempat umum sudah ramah gender, namun toilet-toilet ramah gender ini bisa ditemui di pusat-pusat perbelanjaan, institusi pendidikan dan berbagai tempat lainnya yang memang sudah memiliki kesadaran gender.

Toilet umum dapat memperlihatkan kepada kita, bahwa yang namanya kesetaraan gender itu tidak selalu diartikan sebagai sesuatu yang sama, sepadan, sesuai ukuran kongkrit. Ukuan kongkrit yang dimaksud adalah sesuai ukuran, sesuai standar nasional atau internasional, sesuai standar ukuran matematika. Andai satu maka akan dibandingkan dengan satu, andai dua maka akan dibandingkan dengan dua. Perbandingan akan dikatakan setara manakala keduanya memiliki nilai yang sama. Namun kesetaraan gender tidak dapat dimaknai sebatas ukuran angka yang sama, atau sesuai standar internasional. Bayangkan saja, jika kesetaraan gender itu dimaknai dengan standar yang sama. Andai seorang laki-laki yang mampu mengangkat beban 100 kg, maka perempuan pun harus melakukan hal sama, yaitu mengangkat beban 100 kg untuk bisa disebut setara dengan laki-laki. Betapa menderitanya perempuan, jika setara itu harus seperti itu.

Kesetaraan gender bukanlah tentang ukuran kemampuan fisik antara laki-laki dengan perempuan. Andai kesetaraan hanya dimaknai seperti itu, maka kesetaraan hanyalah sebatas pembentukan laki-laki baru. Maksudnya laki-laki baru adalah perempuan (bentuk fisik perempuan) namun berkekuatan laki-laki. Kekuatan itu tidak hanya sebatas fisik, namun sampai pada ideologis laki-laki (patriarki). Hal-hal seperti ini hanya akan menjadikan perempuan rasa laki-laki. Fisiknya perempuan namun pola fikirnya laki-laki (patriarchal).

Secara biologis laki-laki dengan perempuan memiliki bentuk fisiologis yang berbeda. Sehingga keduanya pun memiliki kekuatan fisik yang berbeda. Berbicara kesetaraan gender memang bukan hal yang mudah, karena kesetaraan gender seringkali masih dimaknai sebatas kesamaan dalam kekuatan fisik. Kesetaraan gender adalah sesuatu yang lebih dapat ukuran secara kualitatif. Maksudnya berbeda pun bisa dikatakan setara, manakala ia sesuai kaidah kemampuan diantara keduanya. Hal ini dapat dilihat dalam bentuk desian toilet.

Toilet memiliki kegunaan yang sama, yaitu untuk buang air kecil, buang air besar dan kegiatan lain yang memang butuh dilakukan di toilet, namun disisi lain toilet juga memiliki nilai keramahan gender. Mungkin tidak semua toilet sudah ramah gender, namun saat kita berada di tempat-tempat umum seperti halnya Mall, institusi pendidikan dan lain sebagainya, disana kita dapat menjumpai, bahwa bentuk desain toilet antara laki-laki dengan perempuan berbeda. Meski berbeda namun esensi kegunaan toilet tetap sama. Untuk buang air kecil, buang air besar dan lain sebagainya tidak hilang.

Toilet laki-laki dengan perempuan memiliki bentuk desain yang berbeda, namun perbedaan itu adalah sesuatu yang pas dan sesuai dengan kebutuhan laki-laki dan perempuan. Laki-laki pada umumnya buang air kecil dengan berdiri, berjajar menyamping atau berbanjar tanpa ada sekat pembatas. Toilet laki-laki didesain lebih terbuka. Hal ini karena memang laki-laki saat pipis tidak membutuhkan masuk ke bilik-bilik toilet yang ada closetnya. Laki-laki hanya butuh berdiri untuk bisa pipis. Sehingga bentuk desain toilet umum untuk laki-laki pun didesain lebih terbuka, dan lebih sempit, jika dibandingkan dengan toilet perempuan.

Bentuk desain toilet perempuan memang lebih luas, ketimbang toilet laki-laki. Bahkan bentuk desainnya juga lebih privat, jika dibandingkan toilet laki-laki. Ini karena perempuan pada umumnya buang air kecil dengan jongkok atau duduk diatas kloset. Sehingga ia perlu masuk dalam bilik ruang toilet secara privat. Karena kebutuhan tersebut, sehingga toilet perempuan pun didesain lebih luas dari toilet laki-laki. Cerita bentuk desain toilet antara laki-laki dengan perempuan adalah salah satu bentuk gambaran kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan tidak memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Bahkan dalam hal ini “berbeda namun setara”.

Bentuk desain toilet perempuan dibuat lebih luas karena ada banyak bilik ruang. Hal itu pun berbeda dengan toilet laki-laki, namun perbedaan itu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Sehingga dalam hal ini terlihat jelas, bahwa “berbeda tetap setara”, karena jika kesetaraan itu dimaknai sama. Lantas bentuk desain toilet antara laki-laki dengan perempuan dibentuk sama. Misalnya semua toilet dibentuk seperti toilet laki-laki, maka tempat buang air kecil untuk perempuan pun difasilitasi seperti toilet laki-laki. Dengan kata lain, perempuan saat buang air kecil juga harus berdiri layaknya laki-laki. Andai hal seperti ini terjadi, mungkinkah kita masih berfikir kesetaraan itu harus dimaknai sama?. Tentu tidak. Karena perempuan dan laki-laki memiliki bentuk fisik yang berbeda. Sehingga untuk menjadi setara kita juga harus memiliki tolak ukur yang lebih lentur dan tentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Setara itu lebih pada kesadaran antara laki-laki dan perempuan untuk memahami kemampuan masing-masing, dalam mengenali batas-batas kemampuan yang dimiliki keduanya.

Mengetahui batasan kemampuan yang kita miliki adalah sebuah energi yang bisa memunculkan kesetaraan. Laki-laki dengan perempuan memliki bentuk kelamin yang berbeda, sehingga untuk buang air kecil pun keduanya memiliki tata cara yang berbeda. Dari situ akhirnya keduanya difasilitasi bentuk desain toilet yang berbeda sesuai dengan kebutuhan keduanya. Sesuai kebutuhan adalah sebuah standar kehidupan manusia. Manusia bukanlah mesin yang harus disamakan, distandarkan dengan ukuran yang sama. Manusia adalah makhluk hidup yang selalu berkembang, berubah-ubah sesuai nalurinnya, sehingga membatasi manusia dengan standar ukuran sama, adalah sebuah bentuk perampasan hak-haknya sebagai manusia. Begitu pun dengan melihat kesetaraan gender hanya sebatas kekuatan fisik, adalah sebuah bentuk  perampasan hak-haknya sebagai manusia.

Kontributor: Dwi Lestari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *