Menjaga Keberagaman Melalui Penanaman Nilai-nilai Keagamaan

by

Wawasan Bhinneka Tunggal Ika menjadi wawasan dalam menjalankan kehidupan, berkomunikasi, dan bekerja yang ditentukan oleh rasa kebersamaan dalam bingkai kesadaran terhadap berbagai perbedaan etnis, budaya, maupun geografis. Nilai keagamaan mendapat harkatnya dari nilai dasar kemanusiaan.

Demikian antara lain, gagasan yang disampaikan Prof. Franz Magnis Suseno dalam Seminar Nasional “Membangun Wawasan Bhinneka Tunggal Ika Melalui Penanaman Nilai-nilai Agama”, di Balai Persatuan Tamansiswa, Yogyakarta, Senin (3/8).

Menurut Frans, agama yang memperhatikan implikasi nilai dasar kemanusiaan membuat kesadaran akan nilai menjadi lebih cerah dan memberi kekuatan untuk merealisasikan nilai-nilai  tersebut. Ada dua nilai inti, kebaikan hati dan rasa keadilan, dan dua nilai jembatan, kejujuran dan kebijaksanaan. “Kalau pengajaran agama menyampaikan keseluruhan ajaran, ritus, dan norma-norma kehidupan, maka pendidikan nilai keagamaan adalah usaha pembentukan hati sesuai cita-cita agama,” katanya.

Selain Frans, hadir berbicara dalam seminar yang diadakan Institue DIAN/Interfidei bekerja sama dengan Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa dan Jaringan Islam Kampus, Putu Wijaya, Jend. TNI (Purn) Ki Tyasno Sudarto, dan M. Agus Nuryatno, Ph.D.

Dalam bingkai kesadaran semacam ini, pendidikan harus diletakkan sebagai media menjadikan manusia lebih manusiawi. Banyaknya kepentingan dalam pendidikan, proses ini jutsru menjadi ambigu. “Pendidikan agama seringkali dikritik karena hanya menjadi media reproduksi pengetahuan dan doktrin ajaran agama,” kata M. Agus Nuryatno, Ph.D, dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menghindari kritik semacam ini, pendidikan agama perlu mengembangkan gagasan pendidikan agama berbasis multikultural. Prinsipnya, mengajarkan agama dengan mempertimbangkan pluralitas paham keagamaan, keragaman kemampuan, dan kelas sosial peserta didik.

Kemudian, mengajarkan agama dengan mempertimbangkan pluralitas agama yang ada di Indonesia serta memperhatikan aspek jender dan kelompok termarjinal.

“Harus juga mengubah sistem pendidikan agama yang selama ini cenderung menitikberatkan pada aspek normatif menjadi lebih kontekstual dan menggali nilai-nilai agama yang lebih substansif sehingga mampu menjadikan manusia menjadi lebih religius dan humanis,” kata Agus. (Widawati Rahayu Desi Susany)

About Author: redaksi

Gravatar Image
Alamat Redaksi Iklan dan Promosi Jl. Tamansiswa Gg Basuki MG II/558 Yogyakarta - DIY - Indonesia 55151 Telp : (274) – 419709 Email : redaksi@swaranusa.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *