Menolak Keragaman Orientasi Seksual, Melanggar HAM

by

Berbagai informasi mengenai keberagaman orientasi seksual memang belum luas, tersampaikan ke masyarakat. Termasuk, soal negeri ini, pernah menjadi tuan rumah pertemuan internasional, yang merumuskan Jogjakarta Principle. Sebuah dokumen internasional, mengenai keragaman orientasi seksual, termasuk agenda tindaknya. Berikut wawancara Surya dengan Muhammad Syukri Darban, aktivis PLU Satu Hati, Yogyakarta.

MUI dan Depag Tasikmalaya akan mengumpulkan 900 untuk disembuhkan?

Awalnya saya kurang faham. Saya coba cari tahu. Ternyata semuanya karena anggapan penyebaran penyakit seksual sudah tinggi dan komunitas gay dianggap sebagai penyebab. Saya tidak tahu apa dibalik itu. Kalau dilihat dari sisi politik, Perda Anti Maksiat di Tasikmalaya sudah diketok palu. Di dalamnya menyebutkan salah satu yang dianggap maksiat LGBT. Ada kehendak menghilangkan komunitas ini.

Rencana ini mendapat reaksi keras dari komunitas PLU Satu Hati. Arus Pelangi bahkan telah mendatangai Polres Tasikmalaya. Penolakan-penolakan juga muncul di mailing list gwl-ina. Saya membuat invitation group untuk menolak rencana tersebut. Sampai hari sabtu lalu sudah diikuti 50 orang.

Padahal PPDG-III (Panduan Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) di Indonesia tidak lagi menganggap homoseksualitas sebagai gangguan jiwa?

Sosialisasi tentang PPDGJ-III kurang luas. Mungkin MUI tidak tahu soal ini. Atau mungkin tidak mau tahu. Di Yogjakarta sendiri, dua tahun lalu, dirumuskan Jogjakarta Principle yang ditandatangani oleh 29 negara. Dokumen ini juga belum banyak yang tahu. Termasuk yang berdomisili di Yogyakarta sendiri.

Di Yogyakarta ada larangan homoseksualitas?

Tidak ada.

Bagaimana dengan daerah lain?

Ada beberapa daerah yang memiliki Perda yang didalamnya bicara soal homoseksualitas. Misalnya, Tasikmalaya, Kota Palembang, Propinsi Kalimantan Selatan, Kota Kalimantan Selatan, Batam, Makasar dan Padang.

Komentar Anda?

Kalimat yang saya baca, mencerminkan pembuatan Perda itu tidak melalui naskah akademis. Sangat rancu, misalnya, dalam salah satu Perda menyebutkan, “…yang termasuk dalam pelacuran adalah; 1. homoseksual, 2. lesbian, …,dst”. Ini terbaca lucu, karena membicarakan pelacuran dikaitkan dengan orientasi seksual. Dalam Perda yang di Batam, melarang perkumpulan yang bertujuan mengorganisir gay dan lesbian. Perda-Perda tersebut masih cacat. Setiap Perda harus dikembangkan berdasarkah naskah akademisnya.

Bisa dikatakan melanggar HAM?

LGBT itu keberagaman dan murni orientasi seksual. Melekat di masing-masing manusia. Siapapun yang tidak mengakui keragaman ini dan memaksakan kehendaknya sesuai dengan orientasi seksual mereka bisa dikatakan pelanggaran HAM.

Perkembangan LGBT di Yogjakarta?

di Yogya sudah dimulai sejak tahun 80-an. Saat itu sudah mulai terkumpul, mengarah ke advokasi dan HAM. Tetapi karena banyak kepentingan HIV-AIDS, sehingga yang lebih terdepan adalah isu HIV-AIDS, ketimbang HAM.

Tantangan terbesar dari mana?

Kelompok-kelompok yang mengaku berbasis agama dan menolak homoseksualitas.

Mengapa masih terjadi penolakan terhadap keragaman orientasi seksual?

Pengetahuan yang tidak diratakan. Sosialisasi yang kurang dari materi pendidikan SD sampai SMA. Masih tabu membicarakan mengenai seksualitas dan balik-balik lagi. Problemnya, kembali lagi ke kurikulum. Pendidikan kesehatan reproduksi penting diberikan di sekolah-sekolah sehingga pemahaman seksualitas dan keberagaman seksual termasuk orientasi seksual bisa sejak dini. Media elektronik, terutama, membentuk opini publik yang negatif. Kita lihat waria, masih sering ditampilkan sebagai ‘badut’ yang ditertawakan. Program Be A Man, misalnya. Pandangan masyarakat menjadi negatif. Jarang sekali televisi menampilkan kehidupan waria secara wajar.

Strategi memperjuangkan hak-hak LGBT?

Selama ini masih pada wilayah diskusi publik. Pemetaannya akan menjangkau kampus-kampus dan melalui pendidikan masyarakat yang dilupakan pemerintah. Dalam waktu dekat dalam kegiatan Hari Internasional AntiHomophobia (IDAHO) akan mengangkat isu “Kekerasan Berbasis Orientasi Seksual”. Banyak kekerasan yang dialami teman-teman komunitas. Perempuan diberhentikan dari pekerjaannya, saat diketahui dirinya seorang lesbian. Kekerasan terhadap waria di jalan. Jogjakarta Principle akan kita perbanyak dan disebarkan ke masyarakat. Selain juga agenda pameran photo.

Masukan untuk masyarakat dan negara tentu saja?

Para orang tua hendaknya mulai embaca apa itu orientasi seksual, perilaku seksual dan jangan tabu membicarakannya dengan anak-anak mereka. Begitupun dengan para perempuan supaya lebih mengerti supaya dapat menghindari kekerasan. Karena banyak dari gay yang kemudian terpaksa menikah dengan perempuan dan merasa mendapat kekerasan dalam rumah tangga.

Yang terakhir, multikulturalisme, jangan hanya dipandang berbeda suku bangsa saja, tetapi keberagaman orientasi seksual juga tercakup didalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *