Menyusui adalah Hak Perempuan dan Anak

by

Pekan ASI Sedunia biasa diperingati pada minggu pertama Agustus setiap tahunnya. World Health Organization (WHO) mengumumkan “Breastfeeding Support: Close to Mothers” sebagai tema yang diangkat pada 2013 ini untuk lebih menekankan pada mendesaknya kebutuhan untuk memberikan dukungan kepada para ibu menyusui sehingga mereka bisa memberikan ASI-nya secara lebih optimal.

Memperingati Pekan ASI Sedunia 2013 tersebut, PKBI DIY bersama Jogja Parenting Community menggelar Launching dan Diskusi Buku “Gempita ASI Eksklusif, Bagaimana Tubuh Perempuan?” di Pendopo Kampus Widya Mataram Yogyakarta, Jumat (2/8). Acara dibuka oleh Budi Wahyuni, Ketua Pengurus Harian Daerah PKBI DIY, yang menegaskan pentingnya meningkatkan kesadaran dalam memberikan ASI Eksklusif untuk anak.

“Karena mereka adalah anak Ibu, bukan anak sapi atau yang lainnya,” kata Budi Wahyuni.

Nyatanya baru 38% bayi berusia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia, data Susenas 2010 menunjukkan baru 33.6% bayi mendapatkan ASI, tidak jauh berbeda dengan capaian di negara lain di Asia Tenggara. WHO sendiri menargetkan pada 2025, setidaknya separuh dari bayi di dunia mendapatkan ASI eksklusif yang juga akan memberikan kontribusi pada  capaian Millenium Development Goals (MDGs) 2015 poin pertama, mengurangi pemiskinan dan kelaparan, serta poin keempat, mengurangi angka kematian anak.

Desintha Dwi Asriani, Penulis Buku “Gempita ASI Eksklusif, Bagaimana Tubuh Perempuan?”, menceritakan pengalamannya menulis buku tersebut. Berawal dari kisah pribadi yang merasa kebingungan karena tidak tersedianya tempat khusus untuk memberikan ASI di tempat kerjanya, maupun tempat untuk memerah susu pada saat yang dibutuhkan.

Pengalaman serupa juga dialami Marganingsih dari serikat pekerja mandiri sebuah hotel di Yogyakarta yang hadir sebagai narasumber pada diskusi tersebut. Kegelisahan Marganingsih membuatnya tergerak untuk memperjuangkan hak para pekerja untuk mendapatkan cuti setelah melahirkan selama 6 bulan dan untuk bisa memberikan ASI yang Eksklusif kepada para bayinya. Namun perjuangan tersebut ditolak oleh pimpinan hotel dengan alasan akan mendatangkan kerugian. Cuti melahirkan hanya diberikan 3,5 bulan saja kepada para Ibu yang melahirkan.

Buku Desintha yang merupakan hasil riset tersebut menemukan bahwa kepemilikan perempuan atas payudaranya seperti halnya rahim dan kelamin, ternyata tidak berujung pada keberhasilan mereka dalam memproduksi maupun mereproduksi kekuasaan.

“Perempuan kembali terjebak pada dikotomi peran privat-publik saat kebutuhan mendayagunakan tubuhnya untuk menyusui tersebut terbentur pada konteks ranah kerja yang bias gender,” ujar Desintha. Dalam kondisi tersebut, perempuan seperti hanya memiliki dua pilihan, bekerja atau menyusui.

Hal lain dalam buku ini bahwa payudara perempuan tidak dapat lepas kaitannya dengan si pemilik tubuh, dan si pemilik tubuh tidak dapat lepas kaitannya dengan posisi sosial, ekonomi dan politik. Perempuan diberi tanggung jawab besar atas beban untuk menyusui untuk membuat anak-anak manusia sehat, cerdas, seharusnya mendapat perhatian khusus, dilindungi perkembangan tubuhnya, diperlakukan khusus karena peran pentingnya.

“Banyak ibu yang merasa gagal, merasa tidak dapat mengemban tanggung jawab besar atas kebaikan anak, atau banyak ibu yang bisa memproduksi susu, tetapi beban ekonomi yang besar untuk hidupnya sehari-hari, kebutuhan untuk menyusui anak hampir tidak mungkin saat mereka bekerja di pabrik, di jalanan, di kantor, dan lain-lain,” tambah Desintha.

Hal inilah yang ingin disampaikan Desintha dalam bukunya, mengenai kebijakan Negara tentang ASI Eksklusif yang ternyata tidak sensitif dengan keadaan perempuan, yang membawa kemana-mana tubuhnya, payudaranya disetiap aktivitas. Bahwa aktivitas menyusui begitu sulit dibarengi dengan aktivitas sosial, ekonomi, politik karena tidak adanya fasilitas, tidak adanya pemahaman terhadap tubuh perempuan. (Anggi)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *