Merokok Dan Resiko Kesehatan Reprosuksi Pada Remaja

by

Pada awal 2011 Swara Nusa melakukan survei perilaku kesehatan remaja tentang merokok yang dilakukan terhadap 390 remaja SMP di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 37% remaja pernah mencoba rokok dengan rerata pertama kali mencoba adalah pada usia 10.8 tahun. Sebanyak 10% remaja yang pernah mencoba rokok kini telah menjadi perokok tetap dengan rerata konsumsi sebanyak 8 batang rokok per minggu. Kondisi ini selaras dengan berbagai hasil temuan yang menyatakan bahwa terjadinya penurunan usia anak dan remaja yang mencoba rokok.

Efek buruk rokok terhadap kesehatan telah ditulis pada bungkus rokok maupun iklan lewat televisi atau spanduk dan poster. Tetapi efek tersebut ditujukan bagi konsumen dewasa yang tubuhnya telah berkembang dengan cukup baik. Lalu, bagaimana jika rokok dikonsumsi oleh para remaja? Resiko apa saja yang harus dihadapi, khususnya terkait kesehatan reproduksi mereka? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Swara Nusa melakukan wawancara terhadap dr. J. Nugrahaningtyas WU, M.Kes. yang akrab disapa dengan dr. Tyas. Beliau adalah anggota Komite Standar Badan Mutu Pelayanan Kesehatan DIY dan juga relawan PKBI yang aktif mengisi talk show di berbagai radio, serta dokter di Klinik Remaja PKBI DIY.

Apa dampak merokok terhadap kesehatan reproduksi pada remaja?

Pertama pada perempuan, dalam rokok banyak zat karsinogenik yang membahayakan, khususnya dengan kanker rahim. Salah satu zat karsinogenik yang terkandung dalam tembakau rokok dan asapnya adalah nikotin. Ketika dihirup maka nikotin akan masuk ke dalam paru-paru dan melekat di dalam darah. Tidak hanya itu, nikotin kemudian juga masuk ke dalam peredaran darah seluruh tubuh. Di rahim, peredaran darah yang telah tercemar nikotin akan membuat leher rahim sensitif dan mudah terkinfeksi. Kedua pada laki-laki, juga terdapat resiko yang sama. Saat darah yang tercemar nikotin beredar ke seluruh tubuh maka akan timbul resiko kekakuan pembuluh darah. Jika dikaitkan dengan kesehatan reproduksi, maka kekakuan pembuluh darah tersebut akan berdampak buruk jika terjadi di sekitar testis yang menyebabkan produksi sperma menjadi tidak maksimal atau cacat. Sementara jika kekakuan pembuluh darah terjadi di penis maka akan terjadi disfungsi ereksi atau umum disebut dengan impotensi. Pembuluh darah yang kaku di sekitar penis tidak dapat dialiri darah dengan maksimal sehingga penis tidak dapat ereksi secara sempurna.

Sejauh ini apakah ada penelitian bahwa perokok dan non-perokok memang berbeda secara kesehatan reproduksi?

Sejauh ini di PKBI memang belum ada penelitiannya secara empiris. Tapi umumnya ketika ada perempuan yang mengalami kanker rahim, kami akan menanyakan apakah dia merokok atau pasangannya merokok. Sebagian besar dari mereka menjawab iya. Tapi perlu diingat bahwa hal tersebut dapat menjadi referensi atau faktor resiko, tetapi belum dapat digunakan sebagai dasar untuk membuat vonis atau menegakkan diagnosa.

Resiko terhadap kesehatan reproduksi tersebut apakah juga berlaku bagi rerokok pasif?

Iya, dan hal tersebutlah yang membuat perokok pasif tidak nyaman. Realita menunjukkan bahwa sebagian besar perokok pasif adalah para istri yang suaminya perokok atau anak-anak yang memiliki orangtua perokok. Perokok aktif dapat memilih berbagai jenis rokok, khususnya yang memiliki filter. Tetapi para perokok pasif tidak mempunyai filter sehingga asap rokok yang mengandung nikotin dan karbon monoksida akan langsung terhirup ke paru-paru perokok pasif. Menghirup kedua zat tersebut sama saja dengan menghirup racun dan itulah mengapa resiko perokok pasif lebih besar daripada perokok aktif. Apalagi kinerja karbon monoksida bersama nikotin bersifat saling menguatkan terhadap resiko kesehatan reproduksi tadi.

Lalu bagaimana jika ada remaja yang sudah kecanduan merokok dan ingin berhenti?

Umumnya akan diawali dengan sesi konseling terlebih dahulu. Tapi pada intinya remaja tersebut harus mempunyai tekad yang kuat untuk mengatasi kecanduannya terhadap rokok. Tekad tersebut juga perlu didukung oleh lingkungan. Atau dengan cara yang lain melalui intervensi sistem, misalnya saja larangan merokok di tempat-tempat umum dan hanya boleh merokok di tempat tertentu. Pembatasan ini membuat para perokok mengurangi niatnya untuk merokok di sembarang tempat. Selain itu, para remaja masih dalam tahap perkembangan dimana hormon dimiliki belum stabil. Zat-zat seperti nikotin dan karbon monoksida dapat menghambat pertumbuhan hormon tersebut ataupun merusaknya.

Saat remaja mencoba rokok maka pertumbuhannya akan terhambat atau hormonnya rusak, apakah hal ini dapat membaik jika berhenti merokok?

Sangat tergantung dari tingkat kerusakan yang terjadi. Perilaku merokok remaja termasuk sudah berapa lama dan berapa batang rokok yang dikonsumsinya sangat erat dengan tingkat kerusakan tersebut. Jika masih dalam tahap coba-coba dan bukan perokok tetap atau regular, maka proses penyembuhannya akan terjadi dengan cepat. Namun jika remaja tersebut sudah merokok sejak kecil dan telah menjadi perokok tetap dengan konsumsi rokok yang tinggi, maka usaha pemulihan hormon dan pertumbuhannya akan sangat lama.

Menurut pengamatan dokter, apakah ada perbedaan perilaku merokok remaja dulu dan sekarang?

Dengan adanya sistem seperti peraturan tempat merokok tadi, sepertinya semakin sedikit orang yang merokok, apalagi remaja kan sebenarnya secara hukum belum dapat memperoleh rokok. Saya melihat kalau dulu lebih banyak masyarakat di daerah pegunangan yang merokok. Tetapi kalau jaman dulu murid-murid SMP saja yang terlihat mencoba rokok, sementara kalau sekarang murid-murid SD nampaknya juga terlihat sudah cukup banyak yang mencoba-coba untuk merokok.

kontributor: [Andrian Liem]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *