Organisasi Komunitas Sebagai Basis Gerakan

by

Gerakan LGBT belakangan ini semakin menguat. Di sisi lain, stigmatisasi juga semakin mengeras. Bagaimana strategi komunitas LGBT dalam menghapuskan stigma dan diskriminasi? Berikut wawancara Hadziq Jauhary dari Swaranusa Biro Jawa Tengah, dengan Orie Lesmana, aktivis hak asasi manusia dari komunitas gay.

Bagaimana gerakan LGBT belakangan ini?

Kalau sekarang, lagi belum muncul ke permukaan. Karena, beberapa waktu gerakan ini sempat hampir meredup, ada organisasi yang mati suri, seperti Semarang Gay Community (SGC). Kini, lebih fokus ke membangun jaringan dan organisasi yang mati suri. Mulai gerakan dari awal lagi. Teman SGC pun kini sedang membuka pendaftaran anggota baru.

Tentang peringatan Hari Solidaritas Gay-Lesbian Nasional yang diperingati tiap 1 Maret?

Perihal peringatan itu, perlu ada sosialisasi atau sejenisnya kepada komunitas. Sebetulnya peringatan seperti itu positif. Semakin banyak kita berkomunikasi akan semakin terbuka diskusi-diskusi, sehingga semakin banyak orang terbuka pemahamannya, kaum homoseksual juga punya hak asasi yang mesti dipenuhi seperti orang lain.

Ada acara spesifik?

Kalau dilihat, belum ada perayaan yang besar dan terstruktur memperingati hari tersebut. Teman-teman pun tidak terlalu greget seperti halnya merayakan Hari AIDS Sedunia ataupun Hari Antihomophobia. Harus diakui, hingga kini, masyarakat Indonesia, terutama komunitas terfokus pada kedua peringatan itu dan belum pada peringatan Hari Solidaritas.

Namun, beberapa kelompok, ada yang mengadakan acara memperingati Hari Solidaritas itu, seperti menggelar acara live music khusus komunitas dengan mendatangkan DJ dan grup band ”Heaven” yang disebut G-Nite pada Kamis [4/3] di sebuah kafe besar di Kota Semarang.

Kasus pelanggaran HAM apa saja yang terjadi di sekitar Jawa Tengah belakangan ini?

Pelanggaran HAM yang mengarah ke jalur hukum, masih belum ditemukan, karena teman-teman komunitas masih mengusahakan untuk menyelesaikannya sendiri di luar jalur hukum. Lebih menonjol pada kasus-kasus personal. Kasus yang seringkali ditemukan dan ditangani adalah sekitar pendampingan yang dibutuhkan teman-teman ketika berbicara kepada keluarganya saat mereka diketahui sebagai gay.

Berarti belum ada kasus yang menyangkut hukum atau sampai ke pelanggaran berat?

Untuk Semarang masih belum ada. Masalah yang timbul masih ringan, terutama terkait permasalahan psikologis saja.

Jika terjadi pelanggaran HAM apa yang dilakukan?

Yang jelas, saya lebih sepakat dengan teman-teman untuk menghidupkan lagi organisasi komunitas semacam SGC dan membangun organisasi komunitas lainnya. Itu salah satu wadah untuk bisa memperkuat, misalnya ketika teman-teman komunitas terkena masalah hukum. Alhasil, teman-teman harus berada di wadah yang memiliki kekuatan hukum, sehingga ketika ada masalah hukum, secara tidak langsung telah dilindungi dengan wadah-wadah resmi itu. Maka, lebih baik seluruh teman komunitas mengikuti organisasi-organisasi komunitas.

Lebih mengarah ke masalah komunikasi, memberi penyuluhan dan berdisukusi secara rutin. Namun, untuk menghilangkan pelanggaran HAM itu, sangat tidak mungkin, karena hal itu berkaitan dengan stigma.

Upaya nyata menghapuskan stigma?

Yang jelas, teman-teman masih membentuk komunitas-komunitas baru yang memang positif untuk menunjukkan ke masyarakat bahwa kami itu tidak seperti yang mereka pikirkan. Stigmanya akan berubah jika kami membentuk komunitas-komunitas itu. Teman-teman juga mulai melakukan tindakan-tindakan yang lebih positif secara rutin, misalnya tiap hari Senin bertemu dan merancang bagaimana membuat charity, mendikusikan bareng pula segala permasalahan dan hambatan yang selama ini ada.

Terkait kasus Taman Lawang Jakarta/

Permasalahan seperti itu ibaratnya seperti ayam dan telur, sangat sulit untuk dihapuskan. Apalagi tentang stigma-stigma masyarakat apabila kita menyebutkan tentang Taman Lawang Jakarta, pasti masyarakat akan langsung menganggapnya negatif. Namun, akan lebih baik hal itu dipandang dari dua sisi.

Dari sisi sebagai komunitas, memang menjadi tugas yang berat bagi kita utnuk mencegah image buruk dari masyarakat. Terkadang, ketika kami sudah bisa semaksimal mungkin menunujukkan sisi positif kami, terkadang masyarakat masih juga belum bisa atau susah menerima kami seluruhnya sebagai bagian dari komunitas minoritas.

Di sisi kedua, akhirnya masyarakat harus bisa memahami perihal yang terjadi dengan diri teman-teman komunitas. Alhasil, dengan adanya komunikasi secara dua arah itu, akan lebih mudah menyelesaikan masalah-masalah yang ada, yang selama ini menjadi masalah klasik yang sering menjangkiti teman-teman komunitas.

Tentang penegakan HAM?

Karena belum ada persoalan atau kasus HAM yang berat, teman-teman di Semarang masih belum terlalu aktif bergerak, kecuali ketika ada teman transeksual mengalami masalah di lingkungan kampus, kami mencoba melakukan advokasi. Hanya berkutat pada permasaalahan pembangunan lagi komunitas dan organisasinya.

Bersikap menunggu, akan bertindak ketika ada kasus?

Di Semarang beda dengan kota-kota lain, karena terkesan lebih eksklusif. Kalau belum ada masalah, belum mau atau belum bisa bergerak, dan sebagainya. Jadi, gregetnya untuk berorganisasi, masih sangat rendah, masih sangat diskrit.

Kalaupun sudah mau terbuka tentang statusnya, greget mereka untuk membangun komunitas, masih belum bisa disatukan, karena visinya sudah beda-beda. Makanya, mereka akhirnya memilih membentuk komunitas-komunitas baru. Tetapi itu sebetulnya tidak terlalu jadi masalah, justru bagus untuk mengembangkan wacana-wacana baru dan pemikiran mereka.

kontributor: [Hadziq Jauhary]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *