Penanggulangan HIV, Prioritaskan Ibu Rumah Tangga

by
Peraturan Daerah No.12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi DIY sudah berjalan hampir dua tahun. Meski begitu, Peraturan Gubernur yang mengatur secara teknis pelaksanaan Perda baru dikeluarkan pada bulan Juni 2012. “Pergub tentang pelaksanaan Perda penanggulangan HIV dan AIDS sudah diundangkan,” kata Drg. Daryanto Chadorie.B.Sc.M.Kes,, Kepala Bidang P2MK Dinkes Provinsi DIY, saat membuka pertemuan Evaluasi pelaksanaan Peraturan Daerah No. 12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS di Hotel Santika, 23/10 lalu.

Meski Peraturan Daerah cukup memberikan jaminan hukum, tetapi persoalan di lapangan tetap saja terjadi dan justru sering menjadi kendala pelaksanaan Perda itu sendiri. Selain juga persoalan lama yang tak pernah terselesaikan, koordinasi antar instansi. Misalnya, keluhan yang disampaikan Suroto dari bagian Kesehatan Masyarakat Kecamatan Kretek, “permasalahan yang sering kami hadapi dalam promosi VCT mobile kepada mbak-mbak PS adalah setelah pemeriksaan, mereka malam harinya seringkali dirazia. Ini yang menyebabkan mereka tidak mau ikut dalam VCT mobile karena menimbulkan ketidaknyamanan.”

Bagi Amy, Koordinator Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY) menyatakan Perda sudah bagus, pelayanan kepada komunitas PPS sudah ramah dan PPS mendapatkan ruang dalam upaya penanggulangan HIV, tidak lagi sebagai obyek semata. Tetapi Amy juga memberikan catatan, Perda belum memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi PPS untuk melakukan aktivitasnya. Ada ketidaknyambungan antar unit yang menyebabkan pengurus CBO menghalami kesulitan untuk mengajak komunitas melakukan pemeriksaan rutin. Razia selalu membayangi, meskipun sudah ada kesepakatan sebelumnya, selama ada VCT mobile atau pemeriksaan kesehatan reproduksi (IMS) tidak akan ada razia. “Perda tersebut masih sebatas untuk AIDSnya (penanggulangan HIV-red), tapi untuk perlindungan pekerjaan tidak bisa”, katanya.

Shinta Ratri, Koordinator Ikatan Waria Yogyakarta menyatakan, penghargaan kepada keberagaman identitas gender dan seksual di Yogyakarta sudah cukup bagus, pelibatan komunitas waria dalam beberapa pertemuan bersama SKPD menunjukkan waria sudah mulai diakui sebagai identitas. Juga membaiknya layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV dan AIDS bagi waria. Namun, menurutnya kemajuan tersebut bukan karena Peraturan Daerah semata. Sebab sosialisasi Perda di kalangan bawah tidak berjalan dengan bagus. Bahkan, ada beberapa komunitas yang tidak mengetahui adanya Perda “Waria itu berjuang jauh sebelum ada Perda,” katanya.

Sementara itu, Noer, Koordinator Ikatan Perempuan Positif (IPPI) Wilayah DIY menyatakan kekecewaannya karena penanggulangan HIV dan AIDS pada perempuan belum berjalan dengan baik. Belum banyak berubah sejak disahkannya Perda. Alat ukurnya menurut Noer dengan meningkatnya kasus HIV dan AIDS pada perempuan rumah tangga dan masih banyak tindakan diskriminatif yang dilakukan tenaga medis dalam memberikan layanan kepada perempuan yang hendak memeriksakan diri atau melakukan pengobatan. “Sosialisasi di kalangan petugas medis belum begitu bagus dan banyak perempuan rumah tangga yang tidak paham tentang HIV dan penularannya,” katanya.

Mengusung Harapan

Perda dan Pergub menjadi harapan terwujudnya penanggulangan HIV dan AIDS berbasis hak. Amy berharap upaya penanggulangan HIV dan AIDS ke depan, selain mendapatkan perlindungan dari IMS dan HIV dan AIDS, POS juga mendapatkan perindungan dari stigma dan diskriminasi. Noer juga mengharapkan Perda dan Pergub mampu mengerikan perlidnungan terhadap hak-hak perempuan yang terinfeksi HIV. Misalnya, peningkatan layanan yang nyata bagi perempuan dan jaminan layanan untuk anaknya.

Membuat prioritas bagi perempuan ibu rumah tangga memang cukup mendesak. Lihat saja angka kasus di DIY, kecenderungan penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual terus meningkat. Saat ini kasus di kalangan Ibu rumah tangga sudah mencapai 11% (189 kasus) lebih tinggi dibandingkan dengan kasus di kalangan perempuan pekerja seks tang berada dalam angka 7%. (gama triyono)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *