Pengungsi Remaja Juga Perlu Diperhatikan

by

Letusan Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 membuat ribuan warga yang tinggal di daerah sekitar Merapi harus mengungsi. Salah satu titik utama pengungsian berada di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Hingga 11 November 2010, tercatat lebih dari 9.000 pengungsi di stadion tersebut.

Melihat kondisi para warga dari berbagai daerah itu, banyak relawan dan bantuan yang mengalir. Berbagai jenis kegiatan pun dilakukan untuk meringankan beban para korban letusan Merapi. Kegiatan yang umum dilakukan biasanya ditujukan bagi anak dan balita melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ataupun bagi para lansia yang telah mengalami penurunan daya tahan tubuh. Padahal dari ribuan pengungsi tersebut juga terdapat remaja yang memiliki minat berbeda dengan anak-anak maupun dewasa. Sejauh ini memang belum ada instansi pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada remaja.

Lalu apa sebenarnya keinginan remaja yang berada di pengungsian? Dari hasil wawancara dengan beberapa remaja di Stadion Maguwoharjo, dapat disimpulkan bahwa mereka mengalami kebosanan. Para remaja membutuhkan kegiatan yang menghibur dan menambah ketrampilan mereka. Hiburan yang dimaksud dapat berupa pertunjukkan musik sederhana atau mereka diberikan alat musik agar dapat menyalurkan kreatifitasnya. Sedangkan kegiatan untuk menambah ketrampilan adalah pelatihan atau kursus yang mudah dilakukan sehingga menambah wawasan mereka. Usulan kedua ini lebih banyak datang dari para remaja perempuan yang saat ini duduk di kelas 3 SMA dan rumahnya sudah habis terlalap awan panas. Mereka merasa sedih dan bingung karena semua dokumen penting seperti ijazah sekolah juga tidak dimilikinya lagi. Di antara remaja tersebut juga ada yang berpikir untuk berhenti sekolah dan memilih bekerja saja.

Di sisi lain, remaja laki-laki lebih menyenangi kegiatan yang menghibur. Selain pertunjukkan musik, mereka juga mengusulkan adanya nonton bareng pertandingan sepak bola. Para remaja tersebut juga mempunyai keinginan untuk berolahraga bersama teman-temannya. Akan tetapi hal ini tidak memungkinkan karena lapangan hijau yang ada di dalam Stadion hanya boleh dipakai oleh Tim Sleman saat berlatih di sore hari. Para remaja laki-laki yang diwawancarai juga merasa bosan karena tidak bisa membantu apa-apa di Stadion, berbeda dengan keadaan di Hargobinangun dimana mereka masih bisa membantu seadanya. “Di sini relawannya sudah banyak. Malah kacau nanti kalau saya ikutan,” kata Adi (19 tahun). Selain itu, hal menarik yang terungkap adalah ternyata ibu-ibu dan remaja perempuan sebagain sudah mengungsi di rumah saudaranya. Para bapak dan remaja laki-laki sengaja memilih tinggal di Stadion atau titik pengungsian lainnya karena ingin menunjukkan solidaritas dengan  warga lainnya. Dari sini terlihat bahwa ada potensi remaja didorong memasuki masa dewasa secara prematur, khususnya pada masa bencana seperti ini.

Kenyataan di atas perlu diwaspadai jika akhirnya remaja tersebut memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya dan lebih memilih mencari penghasilan dan menikah di usia muda. Kondisi ini perlu menjadi perhatian sebab kondisi emosi yang masih labil, tekanan ekonomi juga akan menjadi tantangan yang berat bagi para remaja tersebut. Selain itu bagi remaja perempuan yang menikah di usia muda dan kemudian hamil, resiko terkena kanker serviks atau mulut rahim juga akan semakin besar. Oleh karena itu diperlukan juga psikoedukasi yang memberikan pemahaman mengenai berbagai kemungkinan atau pilihan hidup setelah masa bencana ini dan disertai pula resiko dari masing-masing pilihan tersebut. Hal ini ditujukan agar remaja tahu benar konsekuensi dari pilihannya dan tidak akan menyesal di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *