Pentaubatan itu, Memaksakan Kehendak

by

Gerakan pentaubatan yang hendak dilakukan terhadap komunitas Gay dianggap pemaksaan kehendak. Pasalnya, keragaman orientasi seksual merupakan hak yang melekat dalam diri seseorang. Kekerasan juga sering dialami komunitas Gay dan Waria. Bahkan terjadi juga penangkapan terhadap para pendamping di lapangan. Berikut wawancara Luh de Suryani dari Swara Nusa dengan Sofie, Program Manajer Gaya Dewa Denpasar.

Perda atau aturan yang melarang komunitas gay di Bali?

Tidak pernah ada peraturan. Cuman pernah ada spanduk isinya “Jangan jadikan Bali surganya gay” di sebuah lokasi mangkal waria dan gay di Denpasar.

Gay fisiknya cowok. Jadi dia ga ketahuan kalau membuka diri. Kalau stafnya GAYa Dewata harus mau membuka diri pada masyarakat, tapi belum tentu ke keluarganya.

Kita ikut demo menolak UU pornografi. LGBTIQ tidak ada masalah disini. Ketika kasus Ryan saja tidak pengaruh, masih menerima kita. Baik-baik aja kok.

Soal pengalaman kekerasan pada komunitas ini di Bali?

Kekerasan fisik dipukul, misalnya, sering terjadi di Seminyak, Kuta. Ga tahu preman atau pengunjung karena mungkin risih ngelihat orang kemayu.

Terakhir, sekitar bulan Maret, petugas lapangan kami, ditangkap dan dibotakin oleh warga sebuah banjar (istilah kawasan di Bali) di balai banjar. ID Card GAYa Dewata gak berlaku bagi warga yang menangkap padahal ditandatangani Alit Kelakan (Mantan Wagub Bali cum Ketua Harian KPA Bali).

Trus, kami minta surat edaran dari KPA Badung dan Bupati Badung dengan tanda tangan basah untuk mengantisipasi hal ini. Tapi belum tentu berfungsi atau tidak di lapangan ya

Beberapa gay yang refresing di lapangan Puputan Badung pernah mendapat beberapa pemalakan. Gerak gerik sedikit saja kemayu, trus dipalakin.

Program “taubat” MUI tasikmalaya untuk komunitas gay?

Tobat itu maksa kayanya, memaksa kehendak orang lain. Kami kan ingin berekspresi dengan tidak membohongi diri. Tidak efektif, menobatkan orang karena bukan kehendaknya. Kalau paksaan, belum tentu hati mau. Biar orang menentukan pilihan, tanggungan sendiri dan bertanggung jawab.

Saya waktu pertama kali mengubah diri dari gay jadi waria, berpikir seribu kali. Karena waria kelompok termarginalkan. Tapi, mengikuti kata hati, penerimaan orang malah lebih baik. Tidak hanya di GAYa Dewata dan tempat kerja di bar saja, tapi hampir semuanya. Tergantung pembawaan.

Perkembangan komunitas LGBTIQ di Bali?

LGBT di Bali semakin berkembang. Makin banyak dari kami bekerja di dunia entertainment. Yang paling banyak buka salon, garmen, kerajinan.

GAYa Dewata menjangkau ke semua kabupaten di Bali kecuali Bangli, Klungkung, Karangasem. Lihat komunitasnya, biar efektif juga. Komunitas waria dan gay mau gabung jadi satu..

Kegiatannya di komunitas juga banyak, ada sharing atau pelayanan kesehatan. Banyak yang seneng ada komunitas karena ada apa saling tukar pikiran. Mereka selalu saling berhubungan. Komunitas menyediakan tes kesehatan HIV, IMS. Banyak yang bilang, eh, aku mau tes (darah) dong.

Kalau dulu emang agak ribet minta mereka tes. Sekarang enakan.

Tantangannya?

Kadang kalau ingin bekerja di bidang formal. Ingin bekerja formal tapi tidak mau membohongi diri, dan tampil apa adanya. Ini untuk yang berpendidikan. Tapi masih sulit.

Kalau dalam kelompok dampingan, kita tidak memungkiri sejumlah orang sebagai pekerja seks. Mereka masih kesulitan mendapat kondom dan pelicin gratis karena jumlahnya terbatas. Banyangkan, 1 biji kondom Rp 3000, pelanggan bayar 5000. Kebutuhannya kan kadang lebih satu kondom, mislanya, untuk oral dan anal. Tiap orang cuma dapat 6 pax kondom masing-masing isi 3 untuk tiap tiga bulan. Itu kalau sudah ikut tes darah.

Kami juga maunya memberi suplemen atau susu vitamin membantu kelompok dampingan.

Persepsi negara pada komunitas LGBTIQ?

Negara masih menolak LGBTIQ. Mungkin karena berasaskan agama jadi belum diterima. Di Bali penerimaan pemerintah dan masyarakat tidak menentang. Misalnya, di Amerika dan Belanda yang mengesahkan pasangan gay, kerugian negara toh tidak terjadi, saham tidak jatuh. Malah warga lebih bisa berkembang karena kebanyakan komunitas ini berpotensi. Bekerja menonjolkan kreativitas, punya talent. Misalnya disainer, tukang jahit, penata rias. Lebih hebat lagi negara kalau gitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *